Suwarni, Perajut Khas Bali Bertahan dengan Cara Manual

Ni Ketut Suwarni dan produk rajut khas Bali buatannya-Foto: Dokumentasi pribadi Ni Ketut Suwarni.

JEMBRANA—Suatu hari sekitar 2000, di rumahnya di kawasan Sangkaragung, Jembrana, Bali, Ni Ketut Suwarni kedatangan seorang tamu asing yang menawarkan usaha rajutan.  Rupanya tamu itu tertarik pada kerajinan khas Bali, yang dianggapnya mempunyai potensi.

Perempuan kelahiran  Negara, 25 November 1971 itu merasakan hal itu sebagai kesempatan dan peluang besar. Dengan modal Rp30 juta, Suwarni  membuat aneka rajutan dan ternyata sambutan pasar, termasuk dari luar negeri cukup besar. Order pertama dia meraup Rp15 juta dan omzet awal Rp30 juta.

“Saya mengerjakan rajutannya di rumah sendiri, sekaligus menjadi tempat kerja. Saya membuat topi, tas, shail, dompel dari benang.  Rajutan dibuat dengan tangan dan membutuhkan proses. Saya,customer dan dibantu beberapa tenaga ikut merancang, tetapi tetap mengikuti keunikan rajutan Bali,” kata Suwarni kepada Peluang, Jumat (20/7/2018).

Ciri khas rajutan Bali dari pola dan bordirannya unik dan bahannya tahan lama. Menurut Suwarni membuat rajutan Bali membutuhkan proses waktu dan tidak secepat buatan mesin. Segmen pasar usahanya dengan brand “Bali Rajut” ini ditujukan pada wisatawan, baik lokal maupun asing.  Pemasaran dilakukan dengan cara offline, maupun online (daring). Omzet tertinggi yang pernah dicapai “Bali Rajut” Rp60 juta per bulan dan pernah ekspor ke Austria.

Produk Bali Rajut-Foto: Dokumentasi Ni Ketut Suwarni.

Sayangnya sejak tujuh tahun yang lalu usaha Bali Rajut yang ia jalani mengalami kelesuhan. Salah stau penyebabnya Kompetitor makin banyak, di antaranya datang dari pelanggannya yang beralih menjadi pemain. Perajin rajut sendiri banyak beralih profesi ke usaha laundry, pedagang alat sembahyang dan sebagainya.

“Sejumlah pemain membuat rajutan dengan mesin,  sementara  saya masih manual,” kata Suwarni, seraya menyebut penurunan omzet hingga 70 persen.

Meskipun demikian Bali Rajut masih siap untuk menerima orderan dengan kapasitas 1500 helai/bulan dengan karyawan berjumlah 50 orang.

Itu sebab ke depan Suwarni berharap pemerintah membantu pengusaha UMKM seperti dia untuk mengikuti pameran, serta pendidikan dan latihan.

Pameran Peringatan Hari Koperasi se-Bali di Jembrana, Bali, Jumat (20/7/2018)-Foto: Dokumentasi Ni Ketut Suwarni.

“Saya juga menyambut baik kebijaksanaan Jokowi memotong pajak sebesar 50%. Itu sangat membantu pada situasi yang sulit, saat ini,” tutupnya (Irvan Sjafari)

 

Share This:

You may also like...