Sultinah Kairiyah, Generasi Kedua Kerajinan Songket Puti Sariau

Sultinah Khairiyah-Foto: Irvan Sjafari

JAKARTA-—Sultinah Khairiyah bangga menjadi generasi penerus kerajinan songket di daerahnya Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.  Usaha ini dirintis ibunya ketika dia berumur dua tahun (1993), namun baru mendapat izin pada 2002.  Kerajinan songket ini bernama Puti Sariau.

Setelah lulus kuliah pada 2014  dari sebuah sekolah tinggi ekonomi di Payakumbuh, Sultinah menggantikan ibunya meneruskan kerajinan ini.  Di tangan dia songket ini dipasarkan secara daring dan pernah mendapatkan kesempatan ikut pameran ke Malaysia pada 2016.

“Walaupun hanya terjual enam pasang, “ kata Sultinah di stand Kabupaten Lima Puluh kota dalam ajang Apkasi Otonomi Expo 2009 di Jakarta Convention Centre, Jumat (5/7).

Kain songket dijual per pasang berkisar antara Rp2 hingga 7 juta. Harganya memang mahal karena dibuat dengan tangan. Pengerjaannnya per pasang bisa sampai satu bulan.  Puti Sariau sendiri mempekerjakan 30 orang karyawan.

“Penjualan tertinggi pernah mencapai dua puluh pasang. Mudah-mudahan ke depannya pasar kami berkembang,” ucap perempuan kelahiran 1991 ini.

Songket Puti Sariau menawarkan berbagai motif, seperit Sirangkak Bakuruang (sirangkak semacam binatang air), Ragipiala (bentuk seperti piala) dan Cantik Manis. 

“Salah satu kendala kami ialah pekerjaan dilakukan perempuan sambilan, sambil mengurus rumah tangga atau punya pekerjaan lain. Hingga produksinya menjadi lama,” papar Sultinah.

Dia mengungkapkan  di daerahnya hanya ada 11 perajin songket, tetapi di seluruh Lima Puluh Kota terdapat 1.200 perajin.

“Ke depan, saya berencana meningkatkan kualitas produk dan juga motif desain yang mengikuti perkembangan zaman,” pungkasnya (Irvan Sjafari).

Share This:

You may also like...