Sulitnya Menanamkan Paradigma Menabung

dlm acara peluncuran buku 100 kbi

Anggapan bisnis koperasi belum mendapat tempat terhormat di negeri ini adalah keliru. Koperasi berperan dalam pemberdayaan ekonomi rakyat. Koperasi Kredit  Credit Union (Kopdit CU) Lantang Tipo telah mampu meningkatkan kesejahteraan para anggotanya secara signifikan. “Para anggota koperasi kini telah memiliki simpanan yang dicadangkan.  CU Lantang Tipo bahkan sudah mampu memberikan pinjaman dengan nilai tertentu  bagi anggota yang memerlukan modal usaha yang lumayan besar,” tutur Stephanus Gondang.

Sebagai guru, Stephanus merasa terpanggil untuk mengubah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. “Saya berkeyakinan bahwa itu bisa dilakukan dengan melalui sarana koperasi. Mereka perlu bekerja sama, tolong-menolong, punya rasa kesetiakawanan, punya kepedulian. Untuk mewujudkan cita-cita itu, koperasilah wadah yang tepat,” ujar lelaki kelahiran Sanggau 29 Januari 1960 ini.  CU Lantang Tipo sendiri, per 2015, memiliki aset Rp 2.397.820.605, 750, dengan total anggota 177.682 orang dan volume usaha Rp 1.682.456.787,750.

Masalahnya, mengajak orang untuk menjadi anggota koperasi perlu ketekunan dan kesabaran. Sebab, ketika disebut menjadi anggota koperasi wajib menabung, mereka umumnya berpikir  tidak cukup uang untuk ditabung. Padahal, mereka sebetulnya punya uang. “Mengubah paradigma bahwa menabung dari sisa uang menjadi menabung dengan cara menyisihkan terlebih dahulu pendapatan perlu pemahaman dan proses”.

Selanjutnya, menciptakan tingkat keaktifan anggota juga merupakan pekerjaan ekstra, apalagi dipengaruhi oleh melemahnya ekonomi global. Inilah kendala utama yang dirasakan dalam mengelola koperasi, khusus Kopdit CU Lantang Tipo.

Dalam posisi sebagai soko guru untuk mengembangkan ekonomi rakyat, pemerintah perlu membuat kebijakan yang tepat. Berikan keleluasaan bagi koperasi untuk berkembang. Kebijakan/peraturan pemerintah diharapkan memberi ruang gerak bagi insan-insan koperasi untuk mewujudkan visi mulia ini.

Satu di antara kebijakan yang diharapkan adalah peraturan yang membebaskan koperasi dari wajib pajak. Di sisi lain, para pengembang koperasi juga dituntut terus melakukan inovasi-inovasi; baik dalam tata kelola, pengembangan sumber daya manusia, yang dilaksanakan berbarengan dengan penerapan teknologi informasi, agar koperasi dapat berkembang dan maju.

Menyinggung Dekopin sebagai pembina koperasi, Stephanus melihat masih bisa ditingkatkan. Fungsi/peranannya belum seperti yang diharapkan. Belum dilakukan secara merata dan maksimal. Kenyataan menunjukan, sejumlah koperasi mampu berkembang dan maju justru karena inisiatif dan antusiasme para pelaku atau pengembang koperasi itu sendiri. Boleh dikatakan, hampir tanpa insentif dan intervensi pihak terkait seperti Dekopin.

stephanus godang

Biodata

Stephanus Godang (56), bapak tiga putra-putri, guru di SMP Yos Sudarso, Kec. Parindu, Kalteng. Menyelesaikan SPG Nyarumkop Singkawang dan S1 dari Universitas Tanjung Pura Pontianak. Seluruh kariernya diabdikan di Kopdit CU Lantang Tipo           . Mulai dari Sekretaris Panitia Pendidikan (1987), Wakil Ketua Pengurus CU Lantang Tipo (1988-1999), Ketua Pengurus CU Lantang Tipo (2000-2008),  Anggota Pengurus (2009-2010) dan Ketua Pengurus CU Lantang Tipo, sejak 2010. (nay)

Share This:

Next Post

Agar Transparan Keuangan Koperasi harus diaudit

Rab Jun 29 , 2016
Pilihannya bekerja di koperasi di tengah kondisi perekonomian yang karut marut waktu itu sempat menimbulkan anggapan bahwa ia masuk ke tempat yang salah. 20 tahun berselang  Leonardus Frediyanto M Lering membuktikan pilihannya benar.  Kopdit Obor Mas kini melaju di antara deretan koperasi besar level nasional. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) […]