Srikandi Bisnis dari Bumi Papua

Di tengah dominasi pengusaha pria, Alin berhasil menerobos batas tersebut. Usaha konstruksi yang dijalaninya terus berkembang seiring dengan digenjotnya proyek infrastruktur, terutama di Indonesia Timur.

alawinsia

Ora et Labora, berdoa dan bekerja menjadi “mantra” magis yang selalu diyakini pebisnis wanita di Papua ini. Namanya Alawinsia Alinda Megawati, biasa disapa Alin, adalah representasi kegigihan kaum perempuan di tengah dominasi bisnis sektor konstruksi yang acapkali dimonopoli kalangan pria. Kegigihan Alin bisa dilihat dari tantangan alam yang dihadapinya, yaitu bumi Papua, kawasan yang butuh perhatian ekstra terutama pembangunan infrastruktur. “Membangun Papua tak sekadar soal kecukupan infrastruktur, tetapi juga manusianya. Infrastruktur yang baik sekalipun tidak akan menyelamatkan Papua apabila masyarakatnya tidak memiliki lapangan kerja yang memadai,” kata Ketua Umum Iwapi Provinsi Papua ini.

Perjalanan bisnisnya memang mengagumkan. Dari bukan siapa-siapa, kini Alin merupakan salah seorang pengusaha wanita paling dikenal di Papua. Awalnya bermula dari modal Rp 3,5 juta yang berasal dari tabungan pribadi bersama sang suami, kini asetnya sudah puluhan miliar. Dari satu orang karyawan kini mempekerjakan lebih dari 100 tenaga kerja.

Kiprah bisnisnya dimulai pada 1994 ketika temannya seorang kontraktor menawarinya untuk mengerjakan proyek drainase. Sigap, Alin menerima pekerjaan tersebut dan cergas mengurus pembentukan badan usaha. Maka, berdirilah CV Adhi Pratama, perusahaan pertama Alin berdomisili di Kabupaten Biak Numfor.

Proyek pertama itu diselesaikan Alin dengan memuaskan, sehingga  pekerjaan lainnya satu persatu mulai menghampirinya.

Seiring perkembangan usaha yang kian membesar, bendera perusahaan pun berubah nama, PT Adhi Karsa Karya Pratama pada 2007. Dengan status PT itu, status perusahaan juga naik kelas dari semula hanya subkon menjadi kontraktor utama (main contractor). Pekerjaannya meliputi proyek-proyek infrastruktur (jalan raya) di Papua dan Papua Barat. Bahkan, sudah melebarkan sayap hingga menggarap proyek di pulau Jawa.

Program pembangunan infrastruktur yang digadang-gadang sebagai solusi meningkatkan konektivitas antar wilayah menjadi berkah tersendiri bagi pengusaha di sektor konstruksi seperti Alin. Namun ia juga menyadari persaingan di sektor ini semakin ketat. Untuk mengatasi hal itu, peningkatan kompetensi SDM dan permodalan menjadi solusinya. Karyawan di bagian tertentu diikutsertakan dalam training-training untuk mengikuti ujian sertifikasi yang sesuai dengan kebutuhan. “Kompetensi SDM terus ditingkatkan untuk menjawab kebutuhan pasar,” ujar Alin.

Seperti diketahui, sektor infrastruktur merupakan program primadona dalam pemerintahan sekarang. Dalam pelaksanaannya, selain melibatkan perusahaan dalam negeri juga mengundang investor asing. Akibatnya, persaingan tidak bisa terhindarkan dan hanya perusahaan yang unggul akan bertahan.

alawinsia-3

Pengalaman Berkesan

Selama 22 tahun menjalani usaha konstruksi, ada satu pengalaman yang paling berkesan bagi Alin. Ketika harus mengerjakan sebuah proyek di tengah hutan Papua yang masih alami. Tanpa sinyal telepon dan fasilitas komunikasi modern lainnya. Dalam situasi tersebut, seluruh pekerja dari latar belakang dan keahlian yang berbeda berbaur menjadi satu layaknya sebuah keluarga. Eratnya suasana kekeluargaan ini punya kesan mendalam bagi Alin. Tidak ada lagi sekat antara pimpinan dan bawahan.

Pola komunikasi yang cair dengan karyawan cukup efektif dalam menjaga loyalitas. Buktinya, tingkat turn over di perusahaannya terbilang rendah. Selain itu, perhatiannya dalam tingkat kesejahteraan karyawan membuat produktivitas terjaga dengan baik. Ini dibuktikan dengan pengerjaan proyek yang sesuai target dan memuaskan.

Ke depan, Alin yakin usahanya akan terus berkembang. Masih minimnya infrastruktur dasar terutama di Indonesia Timur menjadi salah satu alasannya yang paling kuat. “Pembangunan infrastruktur masih akan terus berlanjut dalam tahun-tahun mendatang. Ini merupakan kabar baik  bagi kami pengusaha konstruksi,” pungkasnya.

alawinsia-2

Kendati sudah mengayomi ratusan karyawan, namun Alin masih menyimpan mimpi yang lebih besar. Ia ingin menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sebesar ia mampu. “Masyarakat Papua harus cukup makan dan pekerjaan layak. Hanya dengan  cara itu kita bisa membuat mereka semakin kreatif dan tidak lagi berpikir separatis,” pungkas Alin. Membuat perut masyarakat menjadi kenyang itu,adalah konsep yang disebut Alin membangun dengan kasih. ( Irsyad Muchtar)

Share This: