Sri Hascaryo Ada Invicible hand dalam perjalanan karir saya

Pukul 8.30 pagi tepat sesuai janji wawancara kami sudah berada di rumah Sri Hascaryo di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pengusaha muda yang low profile ini mafhum bahwa udara pagi nan gerimis di awal Januari itu amat pas jika ditemani secangkir teh hangat. “Kita mau ngobrol apa nih, jangan yang serius-serius ya, ha..ha…ha, ” sergahnya sambil menyilakan kami menyeruput teh hangat yang sudah terhidang. Yoyok, begitu panggilan akrab salah seorang eksekutif di Bakrie ini memang tak begitu akrab dengan publikasi apalagi pencitraan diri. Di sela kesibukannya memimpin PT. Bakrie Swasakti Utama, pria kelahiran Yogyakarta tahun 1963 ini selalu menyempatkan waktunya untuk menyalurkan hobinya di dunia off-road dan motor gede (moge). Tetapi tak urung percakapan pagi itu tetap juga menyerempet ke properti, dunia bisnis yang kini tengah digelutinya di grup Bakrie. “ Properti itu momentum, siapa cepat dia dapat,” ujarnya kepada Irsyad Muchtar, Galuh Fauzi dan Yuni Hegarwati dari Majalah PELUANG. Berikut petikannya.

WAKTU DULU MASIH DI BANGKU KULIAH, ANDA PUNYA CITA-CITA MENJADI APA?

Saya gak pernah berpikir kerja sama orang lain, makanya pas lulus kuliah di pengujung 80 an itu, di tengan ekonomi yang sedang booming dan cari kerja gampang, saya justru mengambil inisiatif berwirausaha. Waktu itu saya membuat kaos dan membuka restoran khusus untuk turis bule di Yogyakarta.
Jadi saya bekerjasama dengan travel. Saya sewa rumah joglo Jogja.
Di pengujung 80 an ketika saya lulus itu ekonomi kita sedang booming dan dunia kerja di perbankan sangat diminati, nah saya tergoda juga, melamar dan diterima di Bank Niaga pada 1989. Selama lima tahun di Niaga, saya menangani bagian kredit sehingga mengetahui proposal usaha untuk mendapatkan kredit bank. Dari situ saya mulai mengerti bisnis. Kebetulan saya ditempatkan di Jakarta. Ibaratnya, si Kabayan masuk kota, dulu saya ngertinya bisnis ratusan juta saja. Di Jakarta, bisnisnya miliaran dan wawasan saya pun makin terbuka.

yo3
BAGAIMANA ANDA BISA BERGABUNG KE GRUP BAKRIE?
Waktu di Bank Niaga, kebetulan saya AO (account officer) yang menangani di Bakrie Grup dan waktu itu Bakrie tengah banyak mencari orang.
Saya melamar dan lulus. Bakrie memang butuh tenaga muda yang ngerti perbankan yang waktu itu tengah booming. Implikasinya merambah ke sektor property yang juga ikut terdongkrak. Bergabung di grup perusahaan yang cukup besar ini wawasan saya benar-benar terbuka.

SEJAK BERGABUNG DI GRUP BAKRIE ANDA BANYAK BERGULAT DI SEKTOR DEVELOPER DAN PROPERTI, BAGAIMANA PROSPEKNYA TAHUN INI TERUTAMA PROPERTI PREMIUM?
Properti itu intinya adalah menjual lokasi atau tanah, jadi yang namanya lokasi itu tidak tergantikan. Kalau barang produksikan bisa diganti. Saat ini juga makin banyak kalangan kelas menengah mencari properti kelas premium karena ada kebanggaan sendiri saat menyebut tinggal di wilayah itu. Dan ini sudah menjadi gaya hidup. Tapi sebenarnya properti itu adalah kebutuhan kota. Di Yogya misalnya, kita tidak bisa lagi saat ini membeli properti di tengah kota. Harganya sudah sangat mahal, karena itu dibuatlah kota-kota baru di sekitar Yogya (kota satelit). Agar tidak menumpuk di tengah kota, yang infrastrukturnya sudah tidak mendukung. Sama halnya dengan Jakarta, sementara ini infrastrukturnya juga tidak bagus. Sebenarnya properti itu awalya adalah kebutuhan dasar, lalu menjadi kebutuhan live style dan akhirnya menjadi kebutuhan kota juga. Kelas menangah ke atas/premium juga akan kesulitan tinggal di kota tanpa ada kelas di bawahnya. Mereka akan kesualitan mencari supir, warung kelontong kebutuhan sehari-hari, mencari satpam, tukang pijit, cari orang yang bantu-bantu rumah juga susah.

SEBENARNYA LOKASI YANG MENJADI GAYA HIDUP ITU DICIPTAKAN ATAU TERJADI DENGAN SENDIRINYA?
Idealnya kita menciptakan kawasan baru agar orang mau tinggal disana. Paling gampang contohnya adalah Bintaro, BSD, Pondok Indah. Memang seharusnya diciptakan, masterplan di jakarta sudah padat, tidak mungkin mencipatakan kawasan Bintaro di tengah kota Jakarta. Bisa, tapi membangun dengan vertikal, seperti apartemen di Kunimgan (Rasuna Said) dimana ada 6000 kepala keluarga yang tinggal di sana. Kalau dibuat landid (datar) berapa ribu rumah dan RT tuh.
Tetapi ada juga kawasan yang sudah di desain dengan baik, tapi dalam prakteknya malah jadi lain. Seperti kawasan Kemang yang saat ini berubah menjadi kawasan kuliner. Padahal dulunya adalah kawasan rumah. Infrastrukturnya beda banget, jalanya sempit karena dibangun untuk hunian sehingga tidak ada tempat parkir dan menimbulkan kemacetan. Mestinya segera diatur lagi, dengan mewajibakan ada lapangan parkir sehingga memberikan kenyamanan. Saat ini terkesan dibiarkan saja.

LALU BAGAIMANA MENGATURNYA JIKA SUDAH ‘KECELAKAAN’?
Infrastuktur pendukungnya harus dibangun, misalnya jangan membangun horisontal tapi harus vertikal (tingkat), monorel atau bus diarahkan ke kawasan tersebut sehingga daya dukung itu membuat nyaman. Jadi memang ada yang diciptakan dan jadi/berkembamg sesuai kebutuhan masyakat.

ENAK MANA ANTARA MEMBANGUN DENGAN MENCITAKAN DAN KECELAKAAN?
Kecelakaan itu menyesuaikannya agak susah. Kalau menciptakan lebih mudah karena space sudah ditetapkan, misalnya, disini untuk sekolah, rumah sakit disini, kawasan komersil disana. Jadi segala sesuatunya sudah dipikirkan. Kawasan kuningan misalnya, dulu itu rawa-rawa lalu diubah menjadi kawasan hunian dan komersil meskipun sekaramg sudah tidak mendukung lagi infrastrukturnya. Lalu dibangunlah secara verikal/apartemen, transportasi publik harus dipikirkan lagi.

SAAT INI KAWASAN PREMIUM YANG PALING BERGENGSI DI JAKARTA DIMANA?
Dulu itu wilayah Jakarta Pusat, di kawasan Menteng. Saat ini bergeser ke Jakarta Selatan, di Kebayoran Baru. Pergeseran itu karena pembangunan infrastruktur banyak dilakukan di selatan. Misalnya, Senayan City, sekolah-sekolah dan sebagainya. Saat ini yang paling mahal itu di Jalan Sriwijaya dan sekitarnya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dulu Menteng, karena dekat dengan Jalan Sabang, Thamrin dan Sarinah. Saat ini kawasan Kebayoran Baru akesnya lebih banyak. Jadi, harga properti mahal itu karena kenyaman dan akses.

HARGA PROPERTI DIPREDIKSIKAN BAKAL TERKOREKSI TAHUN INI, MISALNYA DIKAWASAN JAKARTA TIMUR. KENAPA?
Biasanya orang dijanjikan oleh developer dengan berbagai janji, lalu tidak direalisasikan. Apalagi kemudian akses kesana macet, stasiun monorel tidak dibangun atau tidak dilalui busway, akhirnya harga terkoreksi. Lain kalau dimaitenance dengan baik, harganya akan bertahan dan cenderung meningkat. Kalau tidak nyaman, macet dan banjir pasti jeblok harganya. Jadi harus dimaintenance, agar kenyamanan terjaga.
Sebetulnya tanah itu dibiarkan saja harganya sudah naik sendiri. Karena memang tidak tidak ada gantinya. Bisnis paling bener ya tanah lah, dia kerja sendiri harganya tanpa perlu promosi.

UNTUK KEDEPAN BAGAIMANA PERSAINGAN DI BISNIS PROPERTI INI?
Sebenarnya barometer kekuatan developer atau pemain di bisnis properti itu dilihat dari cadangan tanah yang dimilikinya dan dimana lokasinya. Mereka bisa menciptakan kawasan baru dengan tanah yang dimilikinya itu.

APA ANDA SUDAH MEMIKIRKAN SEKOCI KARENA BISNIS PROPERTi PERNAH JATUH PADA 1998?
Ya..benar, dulu saya pernah mengalami booming properti, namun kemudian tiba krisis moneter yang menghajar perbankan, semua kena termasuk bank milik grup Bakrie. Padahal saat itu saya sudah mencapai posisi lumayan.
Kemudian saya mulai membuka usaha trading untuk berjaga-jaga kalau perusahaan ini kolaps. Saya beruntung dapat dukungan dari keluarga Bakrie karena grup ini memang sangat mendukung para karyawannya yang ingin maju. Hanya masalahnya harus bisa mengatur waktu agar tidak bentrok dengan pekerjaan di Bakrie dan tidak terjadi conflict of interest. Saya pun mulai berbisnis, dan memilih trading karena itu yang paling gampang, tinggal ambil barang disini jual disana, ada selisih sudah untung. Kemudian dari trading saya berpikir lagi bahwa prinsipnya kebutuhan manusia itu sandang, pangan, papan. Lalu saya mikir pangan itu bisnis yang tidak ada matinya. Lalu saya fokus di bisnis makanan.

BAGAIMANA PROSPEK BISNIS MAKANANNYA, BAGUS?
Alhamdulillah masih berjalan. Saya terjun ke bisnis ini mulanya kecil-kecil dulu. Lalu dapat pinjaman dari BRI dan tidak menyangka akhirnya memiliki dua pabrik di Sentul (Bogor) dan Bantul (Yogyakarta) dengan karyawan sekitar 600 orang. Omsetnya perbulan sekitar Rp15 miliar, Produksinya seperti nugget dari daging sapi. Awalnya saya yang membuat pesanan dari merek terkenal. Dia bikin di tempat saya karena kapasitas pabrik mereka kurang. Jadi, saya yang buat tapi kemasannya bukan merek saya, Dari situ saya belajar banyak dan membuat sendiri brand (merek). Ada dua merek,Yona dan Hemato. Dulunya merek Yona itu untuk kelas menengah, lalu saya buat lagi untuk paket hematnya dengan merek Hemato. Packaging nya seolah-olah buatan Jepang. Ternyata booming, dan kita tidak mengambil pangsa pasar kelas atas. Kita jual di pasar-pasar tradisional yang langsung cash and carry. Kalau di supermarket baru dibayar dua sampai tiga bulan kemudian.

DI GRUP BAKRIE ANDA MASIH AKTIF?
Masih, kalau kita meniti karier itu harus balance. Saya telah merencanakan saat usia 40, saya harus diposisi ini. Saat usia 50, saya harus enjoy live menikmati hobi dan ibadah. Saya hobinya main motor sama jeep…ya kalau sabtu-minggu saya enjoy dengan hobi.
Dalam usianya yang sudah setengah abad, karir Yoyok di grup Bakrie cukup panjang dan berjalan mulus. Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1989) dan Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (1990) ini boleh dibilang sukses mencapai cita-cita hidupnya sebagai sosok yang mandiri karena ayah tiga putri ini ternyata juga berhasil membangun kerajaan bisnis pribadinya di bidang makanan, usaha yang pertama dirintisnya sejak pertama lulus kuliah. Jika dulu ia membuka restoran khusus turis bule, kini Yoyok berjualan nugget yang berkembang sangat pesat lantaran dia tahu bahwa bisnis makanan tidak ada matinya.
Tetapi bukan berarti semua yang telah dicapainya berjalan mulus. Yoyok mengaku bisnisnya pernah bangkrut dan ia ditongkrongi para debt collector lantaran utang-utangnya yang menumpuk tak terbayar. Namun ia berhasil bangkit dari kejatuhan itu karena sebagai orang yang taat beragama ia tahu tidak ada yang mustahil di mata Tuhan asal mau berdoa dan meminta jalan keluar kepadaNya. “ Di balik kejatuhan itu saya bisa bangkit dan membayar semua utang-utang saya, seolah ada invicible hand di balik perjalanan hidup saya,” tuturnya.

ANDA PERNAH JATUH DALAM BISNIS APA?
Bisnis trading. Waktu itu saya pinjam uang untuk usaha. Nah suatu kali bisnis saya macet, uang saya dibawa kabur orang. Orang taunya saya yang pinjam, tidak mau tahu kalau uang itu dibawa kabur. Akhirnya mereka menagih ke saya, kapan dibayar!? Saya kasih cek lah..pas jatuh tempo tidak ada dananya. Saya dilaporkan ke polisi. Dianggap penipuan. Ini saya alami dari tahun 2000 hingga 2004. Saya merasa gelap, tidak bisa hidup lagi. Karena utangnya gede dan tidak ada asset lagi. Gimana cara bayarnya? Saya kejeblos karena usaha saya, bukan karena kerja di Bakrie. Waktu itu setiap pulang kerja, pukul 17, shalat magrib berdoa lanjut shalat Isya. Lalu nyari uang untuk membayar utang-utang itu.

BAGAIMANA ANDA BISA BANGKIT, STARTING POINT NYA DIMANA?
Memang kalau mau bisnis itu integritas dan kejujuran harus dijaga dan sangat penting. Kalau waktu itu saya menutup utang dengan menipu maka habislah usaha kita. Saat didatangi debt collector, diancam secara fisik, sampai mau dipenjarakan itu bikin down. Tapi begitu kita kembali pada Yang Maha Kuasa, saya berzikir dan berdoa kepada Allah SWT. Ini bukan salah saya karena uangnya dibawa kabur orang. Bukan digunakan untuk hal-hal yang dibenci Tuhan, bukan buat foya-foya atau kawin lagi ha..ha..ha.
Sejak saya pasrah itu hati lebih tenang menghadapi debt collector. Mau dipenjara silahkan, saya tidak lari dan saya jelaskan ke mereka bahwa kalau tidak diberi kesempatan kapan saya bisa kembalikan utangnya. Kalau tidak mau, ya silakan penjarakan saya. Tapi kalau diberi kesempatan untuk membayar utangnya maka akan saya lunasi. Untungnya mereka percaya dan saya bekerja lagi.
Saya tidak percaya bisa mengembalikan utang yang miliaran. Padahal gaji saya di Bakrie waktu itu hanya Rp 40 juta per bulan. Jika tidak ada invisible hand tidak mungkin bisa saya lunasi utang-utang tersebut. Kalau kita tawakal yakin lah Tuhan akan membantu.
KE DEPAN APA YANG AKAN DILAKUKAN? APA MASIH DI GRUP BAKRIE ATAU MEMBUAT ‘KERAJAAN’ BARU?

Yang membuat inspirasi saya itu pak Robby Johan waktu di Bank Niaga. Dia memberi materi tentang manajemen waktu, untuk karier sampai usia sekian dan seterusnya. Diusia 40 tahun saya harus stay kerjaan dan spesialis disitu menjadi pucuk pimpinan/CEO. Di usia 50 tahun saya harus keluar dan memiliki bisnis sendiri.
Ahamdulilah berkat dukungan dari Keluarga Bakrie..rencana saya sebagian besar tercapai. Jadi waktu kuliah kita harus memiliki rencana dan fokus menggapai rencana itu. Jangan berpikiran biarlah mengalir, sayang kalau punya pikiran seperti itu. Karena akan menghabiskan waktu. Kita harus konsisten dan berdoa, sebab 99 % itu milik Allah dan kita hanya 1% saja. Alhamdulillah, kita bisa bangun pagi untuk shalat subuh, karena banyak yang tidak bisa bangun. Itu tangan siapa? Asal kita istiqomah, konsisten, berintegritas dan selalu ingat bahwa semua adalah titipan, maka kita bisa pasrah.

Share This:

You may also like...