Sri Dewi Yana, Jadi Wirausaha karena Buat Tas untuk Anak

Sri Dewi Yana-Foto: Istimewa.

MEDAN—Menjadi ibu rumah tangga dan mempunyai anak justru jadi inspirasi Sri Dewi Yana untuk menjadi wirausaha.  Warga  Kompleks Pondok Surya Blok IV No. 139, Kota Medan, suatu ketika diminta anaknya untuk dibuatkan tas sekolah.

“Ya, saya buatkan dan tidak tahunya banyak orang yang melirik tas buatannya. Pesanan pun akhirnya berdatangan dan membuat saya terjun ke dunia wirausaha, dengan brand Sabina Collection, dengan modal Rp5 juta,” ungkap Sri Dewi Yana, ketika dihubungi Peluang, Senin (5/4/21).

Akhirnya bisnis ini menjadi serius. Hingga akhirnya Dewi mulai serius menggeluti bisnis itu dengan mengikuti banyak pelatihan menjahit tas di Pulau Jawa. Di sanalah dia mendapat banyak masukan dan ide agar tas-tas buatan saya ini lebih bagus, awet, dan memiliki model yang uptodate.

Pertamina pun meliriknya menjadi mitra binaan dan membeirkan bantuan.  Salah satunya dengan penambahan mesin produksi yang semula hanya 1 buah, kini sudah ada 5 mesin jahit portable di tempat usahanya hingga naik kelas.  Produk tas Sabina Collection akhirnya semakin variatif. Ia banyak memproduksi tas berbahan kanvas, linen, katun dan sintetis.

Usahanya berkembang pesat  dalam satu bulan mampu memproduksi 500 hingga 750 tas berbagai ukuran.  Tas dibandroll antara Rp50 ribu hingga Rp250 ribu untuk yang bukan premium dan Rp700 ribu hingga Rp1,2 juta untuk premium.

Sebelum pandemi, Sabina Collection mampu meraup omzet hingga Rp115 juta per bulan. Dia dibantu  empat ibu rumah tangga selain suami dan anak-anaknya.  Untuk lebih melekatkan ciri khas produknya, Dewi banyak mengombinasikan motif etnik seperti kain ulos dan kain tenun dipadukan dengan bahan dari karung goni.

Sehingga terkesan elegan dengan kesan vintage. Produknya pun telah dipasarkan hampir di seluruh wilayah Indonesia, tidak saja Provinsi Sumatera Utara, tetapi juga  Kalimantan Timur, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur. 

Sayang, pandemi berdampak pada usahanya. Orderan terhenti, terutama dari dinas-dinas pemerintah maupun swasta. Perempuan kelahiran 1979 ini kemudian beralih ke usaha kuliner. Namun  sejak Desember order kembali berdatangan walau tidak sebanyak dahulu.

“Mudah-mudahan pandemi usai dan saya bisa kembali mengembangkan usaha. Saya ingin mempunyai kios sendiri.  Saya juga ingin ekspor, saat ini hanya mendapat satu atau dua orang pemesan dari luar negeri, ” tutup alumni sebuah Akademi Keperawatan di Rantau Prapat ini (Van).

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *