Solusi Keluarga Anak Langit

Di tengah ganasnya kehidupan kota besar, adakah yang peduli pada generasi yang terpinggirkan? Ada. Di Tangerang, 13 tahun lalu, tumbuh Komunitas Keluarga Anak Langit. Di kota Anda? Jika selama ini Anda belum mengulurkan tangan, kinilah saatnya.

 

Namanya keren. Sangat membumi: Keluarga Anak Langit (KAL). Komunitas ini salah satu institusi partikelir yang dibanggakan di Kota Tangerang. Base camp KAL di bantaran Sungai Cisadane, di Jl Tanah Gocap, Tangerang, Banten. Persis di sebelah Rumah Duka Tanah Gocap, Tangerang. Di situ berdiri apik sebuah bangunan bercorak anyaman bambu, beratap jerami. Natural. Di sana tumbuh embrio masa depan untuk kaum papa.

Lingkungan sekitar dibangun dengan konsep yang ramah dan hijau. Wahana nan nyaman dipandang itu dinamai Rumah Belajar Keluarga Anak Langit. Di sana terdapat beberapa ruangan. Mencakup ruang belajar, perpustakaan, mushalla, saung-saung, dan lainnya. Di sana pulalah berhimpun (bekas) anak-anak dari kalangan yang tidak mampu. Anak-anak jalanan. Yakni pengamen, pencari cacing, pemulung, bahkan pengemis—yang berjuang untuk sekadar survive dari hari ke hari.

Ini memang rumah singgah, tapi lebih dari rumah singgah biasa. Di sini mereka dibekali dengan pendidikan dan kegiatan rutin secara berkala. Di samping mengenalkan pendidikan formal, Yayasan mewadahi mereka untuk berkreasi. Sebutlah bertani, bercocok tanam, berternak, memperbaiki mesin, sablon, menjahit atau merajut, bordir; juga menyalurkan minat dan hobi mereka yang gemar bermain musik. Tempat ini terbuka 24 jam.

Sebelas personel pendiri Yayasan KAL adalah Mukasi Solihin, Herdi Aswarudi, Bambang Kurniawan, Uyus Setiabakti, Maman, Moch Nazy, Andri ‘Kenduy’, Moh Harun, Mukmin Kusnandar, Moh Hidayat, dan Adi Patwadi. Tahun lalu, di komunitas ini berhimpun 137 orang, meski hanya 50 saja yang tergolong aktif. Sebagai sebuah badan hukum, di dalam organisasi Yayasan KAL terdapat Dewan Pemibina dan Dewan Pengawas, di samping Dewan Pengurus.

Sejak awal, pendiri sangat serius memikirkan cara sederhana mewujudkan pendidikan berkelanjutan. Bahwa anak-anak yang secara sosial dan ekonomi tak mampu itu tak selayaknya dibiarkan dalam ketidakberdayaan. Hiruk pikuk dinamika manusia kota yang menggeliat hampir 24 jam meminggirkan mereka. Untuk itu diperlukan pertolongan, uluran tangan. Selamatkan segelintir kecil yang dapat dan layak diselamatkan. Maka, kepedulian relawan sekecil apa pun jadi bermakna.

Di kota Anda mungkin saja tak ditemukan semacam Yayasan KAL Tangerang ini. Tapi Anda tetap bisa melakukan hal kecil yang besar artinya buat mereka. Kebutuhan buku Yayasan Keluarga Anak Langit membutuhkan bantuan berupa: buku pelajaran membaca, menulis, dan berhitung awal; buku pra sekolah (konsep warna, bentuk, ukuran); buku mewarnai (gambar benda, binatang); buku cerita bergambar. Sejatinya, itu pula yang dibutuhkan generasi muda terpinggirkan di mana-mana, bukan?

Mampirlah ke sana. Saksikan betapa enjoy-nya mereka dengan kesibukannya masing-masing.  “Komunitas Anak Langit ini,” seperti dituturkan Ketua KAL, MH Thamrin, “dibentuk dengan tujuan untuk bermain dan belajar untuk anak-anak jalanan yang singgah di sini. Mereka bebas melakukan segala hal sesuai dengan keinginan mereka, asalkan mereka menjaga dan tetap berperilaku baik”.

Berbagai macam hasil kesenian yang sudah dihasilkan dan hasil tersebut dijual. Hasil kesenian yang mereka hasilkan berupa lukisan, kaos, dan ada juga pajangan robot yang mereka buat dari barang-barang bekas,” kata MH Thamrin.

Beraneka karya yang dibuat oleh KAL membuktikan persepsi keliru yang umum.

Dengan itu mereka unjuk bukti kepada masyarakat bahwa anak jalanan tak identik dengan komnitas liar plus akrab dengan kekerasan dan kriminalitas.

Kebanyakan pengajar sukarelawan hanya bertahan beberapa kali mereka mengajar. Sangat disayangkan karena minat belajar anak-anak langit tinggi. Mereka lebih senang belajar dengan konsep dialog di tempat-tempat yang dekat dengan alam, dimana mereka bisa bermain sambil belajar.

Ada beberapa nama yang aktif membina anak-anak di sini. Agung, lulusan ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta kerap kali menjadi pembimbing untuk anak-anak langit. Ada pula Edi dan Abdi. Membuat barang-barang daur ulang menjadi karya seni adalah hobi mereka. Mereka sering memamerkan buah karya mereka di pameran seni.  Hasil karya mereka bahkan ada yang sampai dijual ke Amerika. Bahkan, tidak sedikit sekarang penghuni anak langit yang sudah mengenyam pendidikan formal, bahkan ada yang sampai merasakan bangku universitas.●(dd)

Share This:

Next Post

Koperasi Tajir Beromzet Triliunan Rupiah

Kam Jul 6 , 2017
Deretan Koperasi beromzet di atas Rp1 triliun menggambarkan bahwa usaha soko guru perekonomian ini terus berkembang di tengah tantangan yang tidak ringan. Pengelolaan yang profesional dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi kunci utama suksesnya koperasi tersebut. Dengan layanan yang berkualitas, dukungan dari anggota terhadap usaha koperasi mudah didapatkan. Menariknya, […]