Soft, Rajutan Kreatif dari Emak-emak Kawan Satu SMA

Empat pendiri Soft-Foto: Dokuemntasi Pribadi.

DEPOK-—Suatu hari pada 2018 empat sekawan  yang pernah bersekolah di SMAN 28 Jakarta Selatan dan kerap bertemu berembuk untuk menggagas sebuah bisnis untuk menyiapkan hari tua, kalau mereka pensiun dari dunia kerja, sekaligus juga memberdayakan kaum marjinal atau dhuafa.  

Keempatnya sekalipun ibu rumah tangga, tetapi juga berlatar belakang profesional kerja kantoran, serta pendidikan perguruan tinggi dari berbagai universitas di dalam dan luar negeri

Nursari Okano (dipanggil Sari), Ony Nurhayati (Ony), Widyafifa Djau (Fifa) dan Laksmi Prihastari (Tari) mempunyai minat pada rajutan kreatif.  Bahkan Ony, Fifa dan Tari sudah beberapa tahun memproduksi rajutan.  

Akhirnya mereka memutuskan untuk mendirikan brand bisnis bernama Soft yang merupakan singkatan panggilan nama panggilan mereka. Walaupun beberapa dari mereka sudah produksi rajutan, namun secara resmi Soft dilaunching beberapa waktu lalu. Mereka melakukan pemasaran secara daring dan mendapatkan respon cukup bagus dari pasar.

“Kami menggunakan benang-benang dari Jepang dan Turki untuk membuat tas, baju, taplak, sarung bental, tutup dispenser, baju bayi dan masih banyak produk lain,” ujar Sari kepada Peluang, Sabtu (27/7/19) ditemani Ony dan Tari di kawasan Beiji, Depok.

Sari yang memang tinggal di Jepang ikut memberikan kontribusi ide motif dari Jepang untuk dipadukan dan dibuat kreasi sendiri dan juga ide dari rekan-rekannya.  Hasilnya karya kolaborasi mereka menjadi unik dan apik yang bisa dibedakan dengan produk rajutan perajin lain.

Dengan modal Rp250 juta  mereka menyulap salah satu bagian rumah tempat kediaman Tari itu menjadi workshop yang ditata dengan desain interior bernuansa Jepang.  Selain membuat kerajinan mereka menjual benang impor dari Jepang dan Turki kepada mereka yang bermina

“Produk kami semua handmade dan membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan ada yang dua minggu. Satu tas dibandrol sekitar Rp250 ribu dan sehelai baju Rp300 ribu.  Kalau sarung bantal bila murni rajutan dijual Rp250 ribu dan bila dilapis Rp300 ribu,” ujar Ony, seraya mengatakan membidik segmen menengah ke atas.

Saat ini mereka sedang melatih sejumlah anak-anak dari pesantren yang ada di wilayah Beiji untuk kelak menjadi perajin yang akan ikut produksi. Saat ini pemesan pertama dikerjakan mereka berempat.  Walaupun Fifa berada di Yogyakarta dan Sari harus bolak-balik Jepang-Indonesia, mereka mampu membuat produksi rajutan secara kolaborasi.

“Kami juga mau buat ancar-ancar ingin memasarkan produk rajutan kami di Jepang, karena saya punya akses di sana. Kami ingin jadi emak-emak yang kreatif,” kata Sari lagi.

Ketika Peluang singgah di workshop sekaligus tempat display Soft,  Fifa sedang berada di Yogya. Saya melihat sejumlah pelanggan berdatangan untuk melihat dari dekat produk mereka.

Bersama klien yang belajar merajut-Foto: Sekar Wulan

Sebagai startup, Soft bersiap masuk ke pasar nasional bahkan internasional dengan semangat tinggi dari para ibu yang tidak pernah berhenti berkreasi (Irvan Sjafari).

Share This:

You may also like...