Skandal

17 Juni 1972, lima orang tim sukses Richard Milhous Nixon untuk kursi presiden tertangkap tangan saat memasang penyadap suara di kantor Partai Demokrat.  Awalnya diduga hanya kasus pencurian biasa, namun di tengah situasi pemilu yang panas dan penuh intrik kala itu, penyidikan melebar pada upaya kubu partai republik memenangkan kembali pemilihan presiden. Penyidikan menjurus pada presiden incumbent Richard Nixon dan sejumlah pejabat Gedung Putih yang bermain di balik praktik curang itu.

Nixon memang kembali memenangkan kursi kepresidenan untuk periode kedua, 1973-1977.  Namun, setahun berselang ia terpaksa harus mundur ketimbang dipermalukan dengan cara pemecatan.

Bagi sejarah Amerika, Nixon adalah presiden pertama yang mengundurkan. Kasus ini mengajarkan bagaimana seharusnya pendidikan politik dan demokrasi dijalankan. Bahwa seorang presiden sekalipun bisa dipecat di tengah jalan kalau  memang bersalah. “Ah… ini kan cuma rekayasa politik bung,’’ kata seorang teman saya ketika pada tahun 80-an kami menyimak lagi skandal Watergate itu lewat film The All President Men. Sebuah kerja jurnalistik invetigasi nan piawai tampak Bob Woodward dan Carl Bernstein, dua wartawan surat kabar Washington Post, tokoh sentral film itu. Tidak mudah memang, karena bertaruh nyawa. Lantaran itu pula, selain memerlukan waktu lama, biaya besar dan risiko maut, tugas jurnalistik investigasi jarang diminati pemilik perusahaan media massa. Persoalannya, bukan hanya pada kepiawaian  jurnalis. Kejatuhan presiden yang wafat pada 1994 itu merupakan  konspirasi kekuasaan, Dari pojok kelam di pelataran parkir itu sosok lelaki dengan wajah tertutup menyuplai informasi yang membeberkan kejahatan Nixon.  Dialah Deep Throat, yang sampai akhir cerita film itu sosoknya tak pernah terungkap. Tetapi belakangan topengnya terbuka, Mark Felt, wakil kepala Biro Investigas Federal, AS.

Melalui The All President Men, kita seperti disodorkan sebuah pertanyaan tak mengenakkan. Apakah perjalanan menuju kursi kekuasaan memang identik dengan curang dan sejumlah cara tidak halal lainnya? Money politic, misalnya, selalu terpojok pada konotasi tak terpuji, namun ia justru menjadi prasyarat bagi upaya memenangkan persaingan.

Pertanyaan itu menjadi relevan di tengah kebimbangan kita terhadap sosok ideal pemimpin yang memenangkan kekuasaan tanpa cela. Tanpa dukungan finansial kelompok tertentu yang berbuntut pada kompensasi proyek.

Lantaran itu, diskursus ranah politik acapkali identik dengan permainan kotor. Jika Anda ingin berpolitik, bersiaplah dengan permainan kotor. Pakem itu menyeruak menembus sekat-sekat kebudayaan kegotongroyongan kita dan menjadi pengajaran yang naif. Maka, menjadi kewajaran jika berbagai ajang kontestasi   pimpinan, dari pemilihan kepala desa, kursi legislatif hingga kepala negara, semua berjalan dengan bungkus politik uang. Menjelma jadi tradisi.

Para pemimpin boleh datang dan boleh pergi. Ada yang jatuh terhina seperti Nixon, ada yang bunuh diri seperti Hitler dan tidak sedikit yang tewas diberondong peluru seperti Anwar Sadat di Mesir, Indira Gandhi di india,  bahkan yang berakhir di tiang gantung seperti Zulfikar Ali Butho di Pakistan. Tetapi, karya hitam dan putih mereka tetap melekat  sebagai sejarah anak bangsa.  Sebab, seperti kata Gustave Le Bon, bapak psikologi massa itu,  publik atau kerumunan massa  adalah kelompok naif  yang mudah terprovokasi. “Excitable, credulous,impulsive, violent, or even heroic”.   (Irsyad Muchtar)

Share This:

You may also like...