Siti Thoyibah, Produk Camilan Kelapa Nira Sampai ke Jerman

Siti Thoyibah-Foto: Dokumentasi Pribadi.

GUNUNGKIDUL—Sejak puluhan tahun yang silam masyarakat Desa Banyusoco, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul mempunyai kebiasaan turun temurun membuat gula Jawa.  Sentra penghasil gula Jawa ini terletak di tiga padukuhan, yaitu Gedad, Sawah Lor dan Klepu.

Sebagian besar warga memanfaatkan tanah pekarangannya untuk menanam pohon kepala. Banyaknya pohon kelapa sehingga potensi nira yang dihasilkan sebagai bahan baku gula jawa cukup tersedia.  Sayangnya pengelolaanya kebanyakan tradisional, padahal gula nira bisa punya nilai tambah.

Sekitar 2010 Siti Thoyibah menginisiasi usaha olahan makanan camilan dan minuman dari bahan baku kelapa dan nira dengan brand Nirasari.

“Saya  hanya ingin membantu ibu-ibu yang msyoritas membuat olahan gula kelapa, dan hasil olahan mereka, bisa dipasarkan di luar daerah,” ujar Siti kepada Peluang melalui WhatsApp, Rabu (18/11//20).

Lanjut dia, seiring waktu, gula di daerah kami sangat diterima oleh konsumen. Gula kelapa ternyata lebih aman dikonsumsi dari gula pasir. Dari asumsi ini Siti  mencoba membuat minuman  instan yang gulanya memakai gula kelapa

Produk  yang kami buat, sangat diterima oleh masyarakat. Awalnya hanya membuat wedang jahe, kemudian membuat varian minuman, seperti beras kencur, kunyit putih,temu lawak, kunyit asem, empon empon.

“Semua itu berbentuk serbuk, tinggal seduh. Kami juga membuat camilan dari kelapa muda.  Selain olahan gula, kami juga membuat olahan ikan, di buat abon,” kata Siti lagi.

Dengan modal Rp2 juta, pada perekembangannya Siti meraih omzet antara Rp30 juta hingga Rp40 juta per bulan. Setiap hari Siti dan warga desa mampu memproduksi 50 kilogram.  Untuk pemasaran, produk Nirasari mencapai Yogyakarta dan sekitar, Jabodetabek, Sumatera  Barat, Kalimantan

Produk Nirasari sudah mencapai Jepang. Bahkan Siti sudah mendapatkan pembeli dari Jerman rutin tiga bulan sekali.

Ilustrasi-Foto: Sorotgunungkidul.

“Yang dari Jerman beli minyak kelapa dan gula ori serbuk, untuk dikosumsi, pengganti gula pasir, nggak banyak sih, cuma 10 kilogram. Sementara yang dari Jepang memilih abon untuk oleh-oleh,” tutur dia.

Siti menungkapkan untuk ekspor secara formal masih banyak harus dilakukan, seperti perizinan, sejumlah standar dan regulasi. Pihaknya hanya siap ke depannya untuk meluaskan pemasaran ke seluruh Indonesia (van).

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *