Siti Retnanik, Inovasi Daun Jadi Kerajinan

Siti Retnanik-Foto: Dokumentasi Pribadi.

SURABAYA—-Daun-daun yang berguguran tidak hanya bisa dimanfaatkan sebagai kompos, tetapi juga bisa dimanfaatkan menjadi barang kerajinan. Seorang perempuan dari Surabaya Siti Retnanik melakukan inovasi ini pada 1996 dengan produk pertamanya, membuat kartu ucapan selamat ulang tahun bersama almarhum suaminya.  Modal awal Rp100 ribu, dengan pasar lokal, menjangkau Bali dan DKI Jakarta.

“Pada prinsipnya semua daun bisa digunakan untuk kerajinan, asalkan daun dari tanaman yang berbatang kayu,” ujar perempuan yang karib disapa Nanik ini kepada Peluang melalui WA, Kamis (2/1/20).

Ternyata respon konsumen bagus, yang bisa bikin dulu almarhum suami.  Tapi produk pertama yang masih diminati konsumen ialah kotak tisu. Kini produk dengan brand Bengkel Kriya Daun 9996 ini sudah mencapai 1.500 item, mulai dari kotak tisu, kamp lampu, tempat sampah, vas biunga, tas, dompet, bros, berbagai kemasan keperluan perkawinan hingga lukisan.

Untuk desain, Nanik mengaku melakukannya sendiri secara otodidak dan memancing ide dari berbagai referensi.

“Harganya juga bervariasi antara Rp10 ribu hingga Rp5 juta untuk lukisan,” ujar pengurus Dekarnas dan Iwapi Kota Surabaya ini seraya mengatakan mendesain produknya sendiri secara otodidak.

Produk unik ini diikutsertakan oleh Pemerintah Kota Surabaya dalam pameran di Surabaya dan Jakarta sejak 2002 hingga saat ini. Jangkauan pemasaran pun meluas hingga ke luar negeri.

“Omzet sebulan antara Rp40 hingga Rp50 juta.  Tetapi kalau ada tambahan suvenir manten bisa sampai Rp60 juta, “ kata perempuan kelahiran Jember, 1 April 1958 ini.

Bengkel Kriya Daun 9996 bukan saja memasarkan produknya di dalam negeri, tetapi juga sudah ekspor ke Inggris itu tempat abu jenazah, kalau ke Dubai dan AS yaitu tempat kemasan kopi.

“Kendala bisnis untuk pasar saat itu nggak ada. Tetapi SDM banyak jenuh, karena untuk menempel daun ini seni, butuh sabar dan telaten,” tutur dia.

Nanik ke depan mempunyai rencana bisnis, memperluas pemasarannya dan mempunyai galeri di kota Surabaya.

“Insha Allah, bisa terwujud. 2020 saya ini,” tutup Peraih Juara I Pahlawan Ekonomi Surabaya pada 2010 ini (Irvan Sjafari).

Share This:

You may also like...