Sinterklas

Sinterklas adalah tokoh dalam berbagai budaya yang menceritakan tentang seorang yang memberikan hadiah kepada anak-anak, khususnya pada Hari Natal. Namanya juga anak-anak, pasti senang jika diberikan hadiah dan selalu merindukan kedatangannya.
Dalam konteks yang lebih luas, tanpa bermaksud merendahkan kebudayaan tertentu, pemberian cuma-cuma yang dilakukan secara terus menerus dapat menumbukan sikap manja. Akibatnya, orang menjadi malas dan selalu mengharap pemberian orang lain. Sehingga menghilangkan daya survival dan semangat juang yang menjadi elan vital dalam kehidupan ini. Jika teori Darwin The Survival of the Fittest benar, maka orang yang tidak memiliki daya juang tidak akan pernah menjadi kuat dan akan berujung pada kepunahan.
Seperti sebelumnya, kenaikan harga BBM bersubsidi pada tahun ini juga akan diimbangi dengan pemberikan kompensasi berupa Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) atau hanya ganti nama dari Bantuan Langsung Tunai (BLT). Tentu, sang penerima akan senang karena akan mendapatkan uang tunai yang direncanakan sebesar Rp 150 ribu setiap bulan dalam empat atau lima bulan pasca kenaikan BBM.
Namun pernahkan terpikir, kebijakan semacam ini hanya bersifat karikatif atau tidak menyentuh akar persoalan kemiskinan. Jika logika yang dibangun adalah bahwa penerima BLSM masyarakat miskin, mengapa akar kemiskinan tidak pernah ditangani secara serius? Kebijakan ekonomi yang mementingkan pertumbuhan tanpa membangun basis industri merupakan salah satu akar kemiskinan. Sehingga banyak orang menganggur karena memang tidak ada industri yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Jurang perbedaan antara the haves dan the haves not pun semakin menganga. Hal ini pun sudah dikonfirmasi oleh Menteri Keuangan RI yang baru.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, kebijakan ala Sinterklas ini juga kerap dijadikan instrumen politik untuk mendulang suara rakyat. Para politisi penguasa negeri berlomba mengesankan dirinya sebagai “malaikat penolong”. Padahal, bantuan itu justru dapat meninabobokan penerimanya. Alih-alih memikirkan energi terbarukan untuk menggantikan energi dari fosil, pemerintah justru terjatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Janji perbaikan kualitas infrastruktur juga masih menjadi angin surga. Sebab, kenaikan harga BBM bukan baru pertama kalinya. Namun, kita melihat dan merasakan sendiri sejauh mana infrastruktur telah dibangun. Ah, semoga kebijakan BLSM ini tidak menambah daftar panjang koruptor di negeri tercinta ini. (Kur).

Share This: