Sepak Terjang Sonangol EP Mirip VOC  

 Tak cuma migas; pertambangan, industri, infrastruktur, real estate juga menjadi sasaran bidik Sonangol-Cina. Mereka masuk melalui Surya Paloh, konco dagang, pembisik Joko Widodo merangkap pemain gelap dan terang dalam kongkalikong bisnis ini.

Tatkala hangat-hangatnya polemik soal diskon dijanjikan Sonangol, dan perhatian publik tersedot ke Kuningan dan Trunojoyo soal KPK vs Polri, Februari lalu, diam-diam pemerintah sudah mengimpor minyak mentah dari Angola melalui Sonangol. “Impor awal minyak mentah Sonangol sebanyak 600-900 ribu barel. Padahal, Pertamina masih mempertanyakan diskon. Pemerintah jelas sangat tidak transparan terhadap rakyatnya,” ujar Yusri Usman, pengamat energi.
kapal sonangol

MoU dengan Sonangol ini  pada mulanya bersifat G to G (antarnegara) yang ditandatangani Wapres, lalu bermetamorfosis menjadi B to B (antarperusahaan). Namun, penanganannya janggal di sana sini. Yusri menyebut, ada Sonangol EP dengan Pertamina ISC (Integrated Supply Chain) tetapi dilempar ke PES Singapura. “Anehnya, muncul Cina Sonangol di absensi Petral Singapura, dan Sonangol EP (Sociedade Nacional de Combustiveis de Angola EP) muncul dua person dari Sonangol.

Cina Sonangol adalah kongsi lama  Surya Energi Develop Cepu, milik Surya Paloh. Pada tahun 2009, Cina Sonangol International Holding Ltd., anak usaha Sonangol EP, menyuntikkan dana US $200 juta ke Surya Energi untuk menggarap Blok Cepu.  Surya Energi adalah pemilik 75% saham PT Asri Darma Sejahtera, 25 persen saham lainnya dikuasai Pemkab Bojonegoro, Jawa Timur. Asri Darma inilah yang mendekap 4,5 persen saham blok minyak jumbo di Cepu.

Di awal kontrak, Oktober lalu, kita dibuai info indah nan palsu, bahwa bisnis dengan Sonangol menguntungkan Pertamina/Indonesia karena kita dapat diskon besar (US$ 15/barel). Tapi gembor-gembor itu tak ubahnya kecap kampanye politik, karena diskon hanya berlaku untuk 600ribu barel pertama. Itu pun Sonangol sudah dapat bonus luar biasa, dengan munculnya izin penggunaan bersama kilang minyak milik Pertamina.

 

Gurita Sayap Cina-Sonangol

Untuk mengurusi “penguasaan bisnis” di Asia, terutama di Indonesia, didirikanlah PT China Sonangol Media Investment. Perusahaan ini hasil budidaya perusahaan Cina Sonangol bersama Media Grup milik Surya Paloh Uniknya, Perusahaan ini sudah ada sejak 5 tahun yang lalu. Dalam business report-nya, Cina Sonangol menargetkan memenangi berbagai proyek multisektor.

Di bidang migas, beberapa proyek yang sudah dimenangkannya, antara lain, kontrak jangka panjang pengadaan minyak mentah, pengelolaan kilang, dan pengeboran dengan mendapatkan ‘jatah ngebor’ di Blok Cepu (on-shore). Sonangol EP dan Cina Sonangol sedang berusaha menguasai industri perminyakan di sektor hilir. Perlahan tapi pasti, premium, pertamax, dan pertamax plus isinya bukan tak mungkin berubah menjadi hasil olahan khas Sonangol.

Di bidang pertambangan, industri, dan infrastruktur. Rombongan besar pengusaha Cina yang diajak Joko Widodo untuk membangun sejumlah infrastruktur dan pembangkit listrik di Papua. Beberapa proyek pelabuhan, sebagai bagian dari “blue print” Tol Laut juga akan dilepas kepada mereka. Sektor industri semen juga termasuk yang mereka bidik di Indonesia.

Rombongan besar ini ditopang pula oleh Bank pembiayaan pembangunan infrastruktur dengan dana Ribuan Triliun, yaitu China International Fund (CIF). Dengan dana “unlimited”-nya, CIF melalui mafia Sam Pa, berhasil “menguasai” birokrasi di Angola dan Guinea, dua negara dengan resources tambang yang sangat besar di Afrika. Mereka akan datang sebagai investor kakap bagi Indonesia, tapi dengan banyak sekali “terms and conditions” yang mengikat kebijakan nasional ke depan.

Di bidang real estate. Pada 23 Mei 2015, mereka melakukan ground-breaking pembangunan gedung 59 lantai/303 meter dengan investasi Rp8 triliun bernama Gedung Indonesia Satu, yang diresmikan Jokowi dan diproyeksi selesai dalam 30 bulan. Ini tak terjadi tiba-tiba. Pada 2014, Perusahaan China Sonangol Land sudah membeli tanah dan gedung ex Plaza Indonesia, lalu dikanibal/akuisisi, selanjutnya dikonversi menjadi pengembangan multifungsi EX Building yang mencakup perkantoran, ruang ritel, kondominium, dan service apartmen

Gedung di daerah prestisius Jl. MH Thamrin itu adalah simbol pergerakan ekspansi bisnis Cina-Sonangol. Sebelumnya mereka juga membangun menara kembar Sampoerna Strategic Square, dan Bali International Resort, yang dikelola grup bisnis Surya Paloh. Bermitra dengan Sampoerna Group. China Sonangol Land juga juga sepakat akan membangun dua menara baru Sampoerna Strategic Square di Jl Jendral Sudirman, dengan kapasitas area sewa seluas 234.000 meter persegi. Kedua gedung ini berdiri di atas lahan seluas 34.735 meter persegi.

Proyek lainnya yang sudah masuk list project berikutnya adalah pembangunan kondominium di daerah pantai (sekitar pantai Ancol), Kanal Sungai dan turunan industri hilirnya, dan Super dan Hyper Market. Ingat kan bagaimana Ahok begitu gigih memperjuangkan reklamasi pantai di sepanjang pantai Jakarta untuk pembangunan real estate, kondominium mewah di sana?

Di bidang transportasi. Dalam jangka pendek, Cina-Sonangol mengincar bisnis pengangkutan migas dari dan ke Indonesia. Saat ini mereka sudah menyiapkan beberapa VLCC (very large carrier cruise) untuk mendukung rencana tersebut. Setelah pintu dibukakan lebar-lebar, mereka tentu saja segera masuk dengan ringan kaki, mereka juga ditopang pembiayaan dari beberapa pembangunan Cina. Ingat, 4 dari 10 bank dengan aset dan kapitalisasi terbesar di dunia adalah bank dari Cina.

Dengan menanamkan taji kukunya pada para penguasa lokal di sini, mereka akan menjuluki diri mereka sebagai “owner”, bahkan atas hasil bumi negeri ini. Agak sulit untuk tidak mengatakan, di hari-hari ini, pola imperialis ala VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie)  sedang ditulis ulang dalam sejarah Indonesia, melalui bendera Sonangol, Cina-Sonangol, dengan Cina sebagai pembonceng.

Share This:

You may also like...