Sekilas Sejarah  Gerakan Koperasi di Sumatera Barat Awal Kemerdekaan

Suasana di tempat kerja Tenun Rakyat Silungkang masa Hindia belanda-Foto: Tenunsilungkangblogspot/murnitaher.

Pada awal kemerdekaan Provinsi Sumatera Barat mempunyai sejarah gerakan koperasi yang cukup progresif. Pada 1946 hampir separuh nagari di Sumatera Barat mempunyai koperasi.  Menurut buku Sumaetera Tengah yang diterbitkan Kementerian Penerangan  pada 1953 setidaknya terdapat 442 koperasi rakyat beranggotakan 165.133 orang.

Seluruh dari 442 koperasi itu baru merupakan koperasi konsumsi. Yang terbanyak di Kabupaten Tanah Datar sebanyak 106 koperasi, disusul Agam 81 koperasi, Painan 63 koperasi, Solok 55 koperasi, Padang Pariaman 48 koperasi, serta Kabupaten 50 Kota sebanyak 46 koperasi, dan Pasaman 43 koperasi.

Sumbar juga memiliki koperasi produksi sebanyak 7 buah  dalam pengawasan dan 9 buah dalam pembangunan, koperasi kredit sebanyak 3 buah dalam pengawasan dan 22 buah dalam pembangunan. Kedua jenis koperasi ini paling banyak terdapat di Kabupaten Agam.

Begitu besar animo orang Minang berkoperasi,maka pada Pemerintah RI di Sumbar waktu itu membentuk Sentra Koperasi Rakyat.  Pada pertengahan 1948 terbentuk 13 Sentra Koperasi Rakyat, di mana tergabung 352 koperasi dengan total modal Rp83.726,20.  Modal ini diambil dari 50 persen modal koperasi yang bergabung.

Pada 14 Maret 1948 Pemerintah memberikan bantuan kepada SKR untuk bantaun permodalan. Namun sayangnya booming koperasi itu didukung oleh situasi Perang Kemerdekaan dan beberapa persoalan, seperti kekurangan modal, kekurangan bahan mentah, solidartias antar anggota, kurang pimpinan ahli, sulitnya mencari pasaran karena sulitnya perhubungan dan begitu cepat terjadi inflasi.

Yang berkembang hanya dua koperasi, yaitu Koperasi Kilang Benang Silungkang dan Koperasi Karet Taratak Baru Sijunjung.  Pemerintah pusat seniri memberikan bantuan pinjaman sebesar Rp80 ribu terhadap Koperasi Kilang Benang Silungkang.

Agresi ke II Belanda pada Desember 1948 mengganggu oerkembangan gerakan koperasi. Serangan ini melumpuhkan persaudagaran kecil dan mematikan koperasi-koperasi rakyat.  Baru pada akhir 1950-ab dan upaya dari Wakil Presiden Mohammad Hata gerakan koperasi di Sumatera Barat bisa dibangkitkan kembali.

Pertenunan Silungkang

Pertenunan  Silungkang punya sejarah panjang,  diperkirakan  sekitar abad ke-12 dan ke-13 orang Silungkang sudah mulai berdagang mengarungi samudera.  Mereka merantau sudah sampai ke semenanjung Malaka bahkan sampai di Patani di Siam.

Di negeri Siam inilah perantau Silungkang belajar bertenun.  Ketika sudah mempunyai keterampilan dan ilmu pertenuan yang cukup mereka kembali ke kampung halaman.  Mereka menularkan ilmu yang mereka dapat kepada kaum ibu Silungkang.  Semenjak itu berapa wanita Silungkang mahir membuat songket.

Pada awalnya Kaum Ibu Silungkang bertenun untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya saja. Belakangan  mulai menerima pesanan dari tetangga setelah itu baru mulai menerima pesanan dari pembesar nagari seperti dari pembesar kerajaan dan penghulu- penghulu nagari. Pada masa penjajahan Belanda kain tenun silungkang berkembang bahkan pada 1910 dipamerkan di Brusel.

Pada masa penjajahan berbagai upaya dilakukan mendirikan koperasi kain tenun Silungkang,namun sellau kandas.  Secara resmi, koperasi tenun  Silungkang pertama ialah Silungkangsche Handel Matschaapij pada 1929. Tujuannya ingin memutus jalur kaum pedagang benang perantara yang bisa mengambil keuntungan sebesar 190%. Harga benang impor di Kota Padang F2,65 per kilogram, setibanya di Silungkang menjadi F8.

Hanya mampu berdiri berapa bulan,koperasi itu bangkrut  karena dua pengurus koperasi itu bertindak curang dalam menjual benang kepada pihak lain (Koba PKS, edisi Adiak Nan Jolong Tobik, Desember 2001).  Koperasi kain tenun rakyat Silungkang diupayakan berdiri pada awal kemerdekaan dan menjadi salah satu koperasi yang cukup baik dari segi modal dan usaha di Sumatera Barat waktu itu.

Selain kain tenun secara ekonomi perkebunan karet juga memberikan kontribusi.  Menurut registrasi  pada masa Hindia Belanda luas areal perkebunan karet  di Sumatera Barat mencakup 41.017 Ha dengan standar produksi 16.932 ton.  Dari jumlah itu diekspor 10.423 ton pada 1941. Di antara penghasil karet itu Nagari Taratak di Sijunjung.  Koperasi Petani Karet Taratak Baru pada awal 1950-an mempunyai 93 anggota dengan jumlah modal Rp63.500.

Koperasi Persatuan Tenun rakyat Silungkang pada akhir 1952 mempunyai 115 anggota dengan modal Rp87.021,98 dan Koperasi CKL dari 50 Kota mempunyai 28 anggota, tetapi mampu menghimpunan modal Rp200.659,82.  Jumlah modal kedua koperasi jauh di atas belasan koperasi yang lain yang eksis masa itu.

Koperasi Simpan Pinjam Kauh Kambar, misalnya punya 120 anggota, tetapi modalnya hanya Rp11.623, 82.  Terdapat juga koperasi Simpan Pinjam Pinjam Nagari (SPPN) Kamang dengan 97 anggota dan modal Rp5.416  (lihat tabel).

Perkembangan Koperasi di Sumbar -Foto: Irvan Sjafari Repro buku Sumatera Tengah, Kementerian Penerangan, 1953.

Koperasi SPPN yang  berdiri pada 1950 punya sejarah yang menarik.  Modal pertamanya berasal dari bantuan Jawatan Sosial. Ketika itu koperasi ini bertujua untuk sekedar rusuah membujuak, tangih baantokkan atas 30 (tiga puluh) buah rumah penduduk yang dibakar oleh Tentara Belanda waktu Perang Kemerdekaan, sebesar setiap rumah  mendapatRp90.

Menurut blog sejarahnagarikamang,  pada waktu pemberian pada setiap rumah uang itu dijadikan Simpanan Pokok koperasi untuk 2 orang anggota dengan simpanan pokok Rp50,- seorang, jadi setiap anggota menambah uang simpanan pokok Rp50  per orang, jadi setiap anggota menambah uang simpanan pokoknya masing-masing Rp5.

Koperasi ini berjalan baik dan hidup sampai 1958, sesudah terpaksa mati akibat Pergolakan Daerah PRRI dan penyesuaian kurs uang ketika itu oleh Pemerintah Pusat. Namun koperasi ini menjadi cikal bakal Koperasi Desa Mekar di nagari yang tetap eksis hingga sekarang. Irvan Sjafari

Share This:

You may also like...