“SAYA MULAI BANGKIT DENGAN CELANA JEAN SOBEK-SOBEK”

Tidak mudah untuk tidak menyebut nama Bob Doank dalam pertumbuhan industri kuliner di Kota Bandung. Ide kreatifnya membuka gallery, resto, café dan resort dalam satu kawasan (one stop shopping) boleh dibilang fenomenal dan tak mudah ditiru. Dua resto café bernuansa alam, Sapu Lidi dan Imah Seniman menunjukkan kepiawaian lelaki kelahiran Bandung 1958 ini mengajak konsumennya menikmati sensasi makan siang di tengah sawah atau makan malam di tengah hutan. Padahal kedua lokasi tersebut jauh dari pusat keramaian kota Bandung.

Proses kreatif Bob bukan datang secara tiba-tiba. Di era 80-an ayah tiga anak ini juga sukses merintis bisnisnya di dunia garmen. Ide orisinilnya menjual celana jean sobek-sobek di kawasan Cihampelas membuat kawasan tersebut jadi tersohor sebagai pusat garmen di kota Bandung yang merambah ke mancanegara.

Bob yang acap tampil casual dengan rambut panjangnya yang selalu dikuncir memang nyentrik dan semua bisnis yang dirintisnya terkesan selalu sukses. “Orang kan cuma melihat hasil akhirnya saja, saya juga pernah bangkrut dan pernah tidak punya apa-apa, tetapi saya cepat bangkit dan tak mau kalah dengan keadaan,” ujar Bob pertengahan Oktober lalu saat berbincang dengan Irsyad Muchtar dan Yuni dari Majalah PELUANG di Imah Seniman, Lembang, Bandung. Berikut petikannya.

ANDA DIANGGAP SUKSES MERINTIS BISNIS KULINER BERKAT IDE KREATIF MENDIRIKAN RESTO CAFE BERNUANSA PERSAWAHAN, BAGAIMANA GAGASAN ITU MUNCUL?

Lokasi itu saya beli sepulang dari Moskow, dan rencananya mau bangun villa, pesawahan, tanaman dan sebuah rumah, tetapi tertunda karena selain waktu itu kondisi ekonomi nasional sedang buruk akibat krisis moneter dan kerusuhan 1998. Lalu saya buka makanan, hitung-hitung untuk menutup biaya. Ternyata booming, dan saya teruskan membuka Resto dan Resort Sapu Lidi pada 2004. Semua saya kerjakan sendiri sambil belajar, hasilnya cukup bagus. Sukses dengan Sapu Lidi Resort, pada 2010 saya bangun cafe dan resort lainnya, yaitu “Imah Seniman” karena melihat ada hutan lumayan luas.

ANDA MULAI USAHA INI SEPULANG DARI MOSKOW, ADA URUSAN APA DI SANA?

Dulu saya ikut bisnis garmen bersama saudara-saudara saya. Sebenarnya ini bukan bidang saya,

tapi saya jalani juga karena waktu itu saya sudah berumah tangga dan anak saya mulai tumbuh besar dan butuh biaya. Ekspor pertama ke Dubai, Jeddah dan, Eropa. Namanya buyer, saya diteken terus untuk memenuhi permintaan ke Rusia yang waktu pasarnya sedang bagus. Emang dia saja yang bisa ke sana, maka saya dengan seorang teman berangkat dan buka di sana. Ternyata pasar Rusia belum modern, peralihan dari pasar tradisional. Kantor kami pun ilegal. Memasarkannya juga di kontainer. Itu tahun 1998. Di sana juga krisis, makanya saya balik ke Indonesia.

SEBENARNYA BASIC BISNIS ANDA DI KULINER APA RESORT?

Saya malah enjoy di garmen. Khususnya di “Celana Sobek-Sobek” itulah. Kreativitas yang membawa saya ke kuliner, karena saya selalu mencari yang baru. Segalanya berawal dari Cihampelas, tahun 1986-1987. Waktu itu saya dalam keadaan drop, kehabisan usaha. Tanpa modal, saya ambil celana bekas. Celana-celana dan baju juga yang sudah BS. Saya ancurin semua. Itulah awal berangkat saya, dan ternyata sukses, sampai saat ini. Celana sobek-sobek itu sudah mendunia. Setelah berproses sekitar 10 tahun, saya lihat Cina gencar dengan produk-produk barang murah. Prospek ke depan garmen sepertinya cukup berat. Saya berpikir apa kira-kira jenis usaha yang konstan dan tidak akan turun. Jawabannya adalah masakan. Orang Indonesia tidak mungkin meninggalkan makanan Indonesia. Waktu itu saya belum bisa memasak. Saya belajar secara otodidak, hanya nyoba-nyoba. Ada tiga tempat di Cihampelas waktu itu. Saya tes di satu tempat, pakai gerobak di depan toko. Saya mencoba karena belum percaya diri. Ternyata, banyak konsumen bilang rasa menu saya enak.

APAKAH MENU DI SAPU LIDI DAN IMAH SENIMAN SAMA ?

Beda-beda, kalau di Sapu Lidi menunya Jamur Ngeunah, Ikan Bakar Daun, Peda daun Tangkil. Di Imah Seniman banyak variasinya karena setiap minggu kita ada shooting, jadi menunya baru lagi dan baru lagi.

HUTAN DI IMAH SENIMAN ITU STATUSNYA BAGAIMANA?

Hutan itu milik perorangan yang saya beli secara nyicil, lalu saya benahi. Semua pakai barang bekas karena keterbatasan uang.

SUDAH BERAPA INVESTASI DI TEMPAT INI?

Saya tidak tahu persisnya. Kalau ada barang bekas dari mana saja, saya pasang. Akhirnya ini juga jadi berjalan bagus.

KONON ANDA JUGA BUKA USAHA YANG SAMA DI BALI DAN LABUAN BAJO, NTT

Ya, ketika Sapu Lidi dan Imah Seniman saya lihat sudah cukup aman perkembangannya, maka saya coba melihat potensi di daerah lain. Pilihan saya Ubud, Bali. Sebenarnya tidak ada rencana ke sana. Kebetulan ada teman di Bali minta dibikinin konsep resto cafe. Di tengah jalan dia macet, terpaksa saya nerusin. Saya bersyukur banget.

APAKAH KONSEPNYA TETAP SAMA, YAITU ONE STOP SHOPPING?

Baru resort, tetapi akan muncul juga café-nya. Saya akan bikin café atau mungkin juga pakaian. Saya tidak mau yang pernah ada, saya ingin sesuatu yang baru. Begitu juga dengan yang di Labuan Bajo yang masih dalam posisi start up.

MENGAPA PILIHANNYA UBUD, APAKAH KARENA SAWAHNYA SANGAT MENDUKUNG?

Di Jalan Pangsosekan, Ubud, Bali, bentangan sawahnya menurut saya keren banget. Turis bule benar-benar merasakan suasana yang berbeda. Mereka senang, bisa mengekspresikan semuanya. Mereka bisa tinggal sampai dua minggu, bahkan satu bulan. Kamar kita baru ada 36 kamar, dan rata-rata terhuni penuh. Ada hotelnya, restorannya, spa, semua lengkap.

Saya sangat puas karena baik lokal maupun internasional bisa terima apa yang saya tawarkan. Lokasinya di tengah lingkungan sawah. Untuk jalan masuk ke sana, saya buat kali, hingga tampil banget suasana pedesaannya.

UNTUK PENGEMBANGAN USAHA DI BALI ITU ANDA JOINT DENGAN SIAPA?

Sampai saat ini saya masih jalan sendiri, dan cuma ngandalkan bank saja? Mungkin suatu saat saya perlu juga punya patner, karena jalan sendiri juga gak enak ha—ha.. ha.

MENGAPA ANDA MEMILIH TIDAK BERMITRA?

Dengan konsep saya, belum tentu orang mau. Kalau saya berpatner, mungkin faktor bisnisnya akan lebih diperhitungkan dibanding seninya. Mungkin saya jadi tidak pusing kalau mau joint, tapi ide-ide seperti ini tidak bisa muncul. Pihak keluarga saya tidak ada yang ikutan di sini. Saya jalan sendiri.

BAGAIMANA ANDA MEYAKINKAN BANK?

Kita berhubungan cukup lama. Saya kini 55 tahun, dengan tiga anak. Pihak bank sudah kenal karakter saya. Saya juga meninggalkan jaminan/kolateral. Saya praktis berangkat bukan dari apa-apa, dari modal tidak ada, hanya kepercayaan.

DALAM KESELURUHAN JEJAK BISNIS, TAMPAKNYA ANDA SANGAT KUAT MEMPERTAHANKAN IDENTITAS.

Karakter saya lebih ke pedesaan. Boleh dibilang, sementara ini baru saya (yang lebih fokus). Indonesianya lebih terasa. Misalnya, ada satu kamar saya buat lebih ke painting. Jadi, kanvasnya, kuasnya, catnya disiapkan. Tamu bisa melukis di sana. Ada juga satu kamar yang dilengkapi dengan peralatan tari. Jadi, setiap kamar nuansanya berbeda-beda. Memang belum semua. Sewaktu masih single, tahun 1980-an, saya juga suka tari. Prinsipnya, yang berbau seni saya suka dan pasti mencoba. Kalau di tarian, saya cukup membidangi karena saya pernah beberapa kali ikut pertandingan.

ANDA BILANG PERNAH BANGKRUT LALU APA YANG ANDA LAKUKAN KETIKA SUSAH?

Sampai dengan tahun 1986, saya bersyukur kepada Tuhan karena dikasih banyak sukses dalam setiap langkah saya. Waktu itu saya sudah pegang uang besar. Saya buka di Pondok Bambu, saat itu masih sepi, namanya “Kirana”. Ketika berumur 29 tahun, semuanya habis karena salah langkah. Saya bisnis department store, buka toko di mana-mana. Saya habis di Jakarta.

Saya bangkrut total dan pulang ke Bandung tidak punya apa-apa. Jadi, saya berangkat benar-benar dari nol. Ngegambarin sepatu dan kaos, yang beli anak-anak SMA. Dari situ mulainya.

MODALNYA BERAPA DAN DARI MANA?

Waktu itu ada warisan orang tua saat meninggal, di dompetnya ada uang Rp.900.000.- Itu saja modalnya. Tempat kontrakan saya nyicil, ngebangun juga pakai barang-barang bekas. Lalu, jeans sobek-sobek Cihampelas booming, saya pun naik lagi. Saya ambil hikmahnya, kalau saya tidak dikasih jatuh, mungkin saya akan jadi orang sombong.

ARTINYA, TIDAK BERHENTI DAN TIDAK MENYERAH KETIKA GAGAL, YA?

Saya tidak menyerah dan tidak ke luar jalur. Berangkat dari nol dari apa yang saya mampu dan dari apa yang ada. Itu yang saya kerjakan. Sampai sekarang pun begitu. Memasak pun begitu. Saya manfaatkan apa yang ada, terus berkarya, yang penting enak dan bisa diterima konsumen. Saya pikir, semua orang yang sukses pasti pernah mengalami jatuh. Di balik satu kesuksesan ada banyak masalah, siap atau tidak kita menghadapi masalah itu. Kalau mundur dari masalah itu, kita habis. Jadi, prinsipnya, orang yang mau sukses harus siap menghadapi masalah. Yang namanya mau enak pasti ada tidak enaknya.

APA OBSESI ANDA YANG BELUM TERWUJUD?

Kalau memang Tuhan izinkan, cita-cita saya ingin membangun suatu kota yang mempunyai ciri khas. Kota dengan karakter berbeda dari kota lain. Mungkin saya berangkatnya mengandalkan kekuatan budaya. Untuk itu saya perlu lahan sekitar 400 hektar. Tapi saya belum punya bayangan yang jelas.

DI LUAR JAWA, MUNGKIN?

Boleh jadi. Saya lagi cari penunjang, yaitu investor dari pihak Pemda. Saya coba melangkah terus selagi saya masih bisa bekerja untuk mencapai ke titik itu. Motifnya bukan untuk kekayaan, melainkan untuk pengabdian hidup kita agar berguna bagi orang banyak.

WAKTU SEKOLAH ANDA PERNAH BERPIKIR JADI PENGUSAHA?

Ha…ha…ha …Saya sekolah agak tidak benar. Pernah jadi perenang, dansa, main musik, pokoknya saya melakukan apa yang saya suka. Dalam perkembangan usia, yang suka itu mestinya mendatangkan uang.

APA HAL YANG ANDA GARISBAWAHI SEBAGAI WIRAUSAHAWAN ?

Ya mesti ngotot, kalau gak ngotot ya bukan pengusaha namanya. Harus berani dengan tantangan, kalau gak suka tantangan ya jadi pegawai saja.

APAKAH ANDA AKAN BERBAGI PENGALAMAN DENGAN ORANG LAIN?

Ya pasti lah, saya bisa begini kan juga karena ada orang lain. Saya memang ingin berbagi dengan mereka yang memang punya semangat besar di dunia usaha. Banyak orang yang mempunyai uang tetapi dia tidak tahu uangnya mau diapain. Mau bisnis, tapi bisnis apa? Ada yang mempunyai tanah, tapi tak tahu tanahnya mau diapain? Yuk gabung sama saya,. Saya siap buatkan konsepnya.

Share This:

You may also like...