Sanjai Ananda, Generasi Ketiga Kuliner Tradisional Bukitinggi

Gerai Sanjai Ananda-Foto: dokumentasi Pribadi/Facebook.

BUKITTINGGI—-Susah cari kerja? Jangan putus asa. Tengok pengalaman hidup Eka Putra Nanda, lulus kuliah dari sebuah universitas di Bandung kembali ke ranah Minang, setalah melamar kerja tidak ada yang menerima.

Kemudian pria kelahiran Bukitiingi, 23 Agustus 1983  memutuskan  untuk melanjutkan usaha keluarganya, sejak dari neneknya, meydian diteruskan mamanya, yaitu  kuliner kerupuk sanjai. Hanya saja sebagai anak muda yang lulus dari tanah rantau, kota Kreatif Bandung, Eka melakukan inovasi produksi kerupuk sanjainya dengan modal awal Rp40 juta.

“Saya menawarkan  sanjai aneka rasa, selain yang tradisional balado dan asin, ada sanjai rasa rendang,  ikan terim barbeque dan berbagai macam rasa lainnya.   Walaupun resep aslinya dari Sang Mama,” ujar Eka kepada Peluang, melalui WhatsApp, Senin (20/1/20).   

Dengan Brand Sanjai Ananda, produk dijual Rp18 ribu per bungkus. Pemasarannya di minimarket di seputaran Bukittinggi , muapun secara daring. Selain itu usahanya juga mempunyai toko di Bukittingi. 

Pembelinya banyak datang dari kalangan wisatawan yang datang berkunjung ke Buktiinggi. Saat ini dengan 14 karyawan, Sanjai Ananda mampu meraup omzet antara Rp30 hingga Rp100 juta per bulan.

“Prospek sangat bagus, namun akhir-akhir ini terganggu karena naiknya tiket pesawat,” ungkap Nanda.

Sebagai catatan sebetulnyak  “Kerupuk Sanjai” ini sebenarnya berwujud keripik berbahan baku singkong. Karupuak sanjai secara umum terbagi menjadi tiga jenis, tawar tanpa bumbu berwarna putih, asin berwarna kuning, dan berbumbu pedas atau yang populer disebut dengan keripik balado.

Jualan sanjai tempo dulu-Foto: Dokumentasi Pribadi.

Sebutan Sanjai berasal dari nama sebuah jalan atau daerah di bagian utara Kota Bukittinggi. Jalan Sanjai ini terletak di Desa Manggis, Kelurahan Manggis Gantiang Sanjai, Kota Bukittinggi (Irvan Sjafari).

Share This: