SAM WALTON

Everyday low price…

Dan Wal-Mart pun merebut pasar retail Amerika  yang puluhan tahun dikuasai K-Mart (1899) dan Sears (1886). Memang sulit dipercaya lantaran hanya  retail pedesaan  yang jauh dari jangkauan bisnis kota  besar.  Wal-Mart hanyalah ritel kecil di pedalaman Amerika yang tidak diperhitungkan. Tetapi Sam Walton punya jelajah imajinasi yang tidak dipikirkan oleh para pesaingnya.  Baginya desa adalah masa depan, yang  suatu ketika bakal menentukan  perekonomian Amerika. Ia kerap terbang dengan pesawat ringannya melintasi wilayah pedesaan dan membeli berbidang-bidang lahan strategis di persimpangan jalan antar kota-kota kecil.

Bak layaknya menciplak taktik perang Mao ze dong, ‘Kuasai Desa Mengepung Kota’, pada 1962 Sam mendirikan 11 jaringan toko ritelnya, Walton’s 5 &10 di Bentonville; sebuah kota  pinggiran berjarak 350 km dari Little Rock, ibu kota Arkansas.   Pada 1967 Sam mengubah nama tokonya menjadi Wal-Mart seiring pertumbuhan bisnisnya yang kian mengurita. Wal-Mart merambah keluar negara bagian Arkansas, sahamnya listing di New York Stock Exchange pada tahun 1972.  Dekade 80-an Wal-Mart menjadi  perusahaan ritel yang paling banyak diminati di luar AS.   Namun demikian Sam, tetap mempertahankan kantor pusat Wal-Mart di Bentonville; kota yang belakangan menjuluki dirinya sebagai  An Empire Retail Efficiency. Jaringan Wal-Mart pun umumnya tumbuh di berbagai pedesaan sebagaimana mimpi Sam tentang potensi pedesaan yang bakal mempengaruhi perekonomian Amerika.

Sukses lelaki  jenius kelahiran Kingfisher, Oklahoma, Amerika Serikat, 29 Maret 1918 ini, memang tidak datang tiba-tiba.  Jurus dagangnya diperoleh melalui kerja bertahun-tahun  di perusahaan ritel Sears Robuck dan JC Penney.  Merasa cukup pengalaman, pada 1945, Ia  mencoba bisnis pertamanya dengan membeli sebuah waralaba, Butler Brother, ritel lokal  di kawasan Pelabuhan Ben Franklin, Arkansas.  Hasilnya, dalam tempo tiga tahun ia mampu meningkatkan penjualan tahunan dari USD80.000 menjadi USD 225,000.

Tetapi Walton hanya identik dengan Wal-Mart, toko ritel yang dibangunnya melalui pengalaman panjang di perusahaan raksasa ritel Sears dan JS Penney. Bisa dimaklumi, lantaran Walton sukses melakukan ekspansi yang massif.

Dalam tempo 20 tahun Wal-Mart merambah kota-kota di Amerika dengan promosi “selalu ada harga murah setiap hari.’ Bauran pemasaran Everyday Low Price membuat Wal-Mart menjadi toko ritel paling populer di Amerika dan menjalar ke seantero dunia. Saat Sam meninggal pada 1992, lelaki yang menghabiskan usia produktifnya di pedesaan ini mewarisi kekayaan senilai US$ 25 miliar kepada empat anaknya.  Kematiannya diramalkan bakal ikut mengubur ekspansi Wal-Mart. Tetapi ramalan itu tidak terbukti, di tangan anak-anaknya, Samuel Robson Walton, Alice Walton, Jim Walton dan Christy Walton, raksasa ritel terbesar Amerika itu justru melenggang ke pasar global.  Dengan 11.666 ritel  yang tersebar di 28 negara, Wal-Mart  mencetak omset  tahunan US$ 405 miliar  dan mempekerjakan 2,2 juta karyawan.

Majalah Forbes pada 2016 menempatkan Walton sebagai keluarga terkaya di Amerika dengan US$ 141,3 miliar setara Rp 1.962 triliun.

Di balik sukses membangun kerajaan bisnis miliaran dolar, Sam tetap dikenal sebagai sosok sederhana, bahkan acapkali dituding kikir lantaran tidak pernah mengganti mobil pick-up tahun 1985, ngopi di pinggir jalan dan lebih suka pinjam surat kabar daripada mengeluarkan uang setalen untuk mendapatkannya. Tetapi dia juga suka mengundang suatu keluarga miskin untuk makan bersamanya.   (Irsyad Muchtar)

Share This:

You may also like...