Salurkan Dana Bergulir LPDB untuk Pembiayaan Anggota Produktif

Kamis, 25 Maret lalu, menjadi hari penting bagi KSP Kopdit Pintu Air, Maumere Nusa Tenggara Timur (NTT). Hari itu berlangsung akad kredit penyaluran dana bergulir Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB-KUMKM) sebesar Rp50 miliar. 

Jika dibanding dengan aset maupun penyaluran pinjaman dana kopdit yang sudah masuk kelas triliunan rupiah, besaran akad kredit dengan LPDB memang bukan nilai yang signifikan, namun punya arti sangat penting bagi Kopdit Pintu Air, karena merupakan bukti  bahwa pemerintah memberikan dukungan dan perhatian terhadap keberadaan kopdit terbesar di NTT ini agar dapat tumbuh dan berkembang lebih baik lagi. 

Ditemui seusai penandatangan  akad kredit dengan LPDB-KUMKM, Ketua Kopdit Pintu Air Yakobus Jano mengatakan pihaknya merasa lega dengan dukungan diberikan pemerintah. Setidaknya ungkap Jano, Kopdit Pintu Air  dinilai mampu untuk menjadi bagian dari pemberdayaan usaha anggota, terutama yang bergerak di sektor usaha riil.

“Kopdit Pintu Air sudah eksis selama 26 tahun dengan pertumbuhan sepenuhnya ditopang oleh pembiayaan dana anggota, dengan adanya dukungan permodalan dari pemerintah melalui LPDB-KUMKM, menambah semangat dan keyakinan kami bahwa Kopdit Pintu Air mampu menjadi lembaga pembiayaan alternatif bagi segenap anggotanya,” ujar Jano seraya menjelaskan, dari komitmen pembiayaan dana bergulir LPDB-KUMKM sebesar Rp50 miliar ke Kopdit Pintu Air, tahap awal disalurkan sebesar Rp25 miliar. Berikutnya, akan ditingkatkan  jika penyaluran ke anggota dinilai lancar.  

Sejak setahun dilanda pandemi covid-19, Jano mengakui cukup banyak usaha anggota mengalami kemunduran sehingga dampaknya mengganggu pengembalian pinjaman. Namun, tidak sedikit pula usaha anggota yang tumbuh cukup baik dan mampu melewati pandemi covid-19. “Dana bergulir dari LPDB-KUMKM ini akan kami prioritaskan kepada anggota yang usahanya tetap eksis.” tutur Jano.

Sebagaimana kita ketahui, Kopdit Pintu Air belakangan gencar melakukan pemekaran usaha (spin-off), antara lain dengan mendirikan usaha minimarket, angkutan, media cetak, pariwisata, garam dan juga pabrik minyak kelapa yang launching pada 28 Oktober tahun lalu.

Semua usaha berbasis spin-off tersebut dibangun atas persetujuan dan sepenuhnya melibatkan peran serta anggota. Untuk usaha minyak kelapa, kata Jano, kebun dan prosesnya dilakukan oleh anggota, sedangkan koperasi hanya melakukan pengemasan dan penjualan. Saat ini penjualan minyak kelapa untuk pemasaran lokal sudah mencapai 30 ton dan sebagian sudah merambah Jawa Timur dan Yogyakarta.  (Irm)

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *