Salah Kaprah tentang Modal Usaha

Mulailah menyingkirkan pikiran bahwa modal itu identik dengan uang tunai. Sadari aset sesungguhnya yang (telah) Anda miliki. Modal juga perlu dibayar, dan mendapatkannya secara bertahap.

 Modal Usaha

Menganggap modal selalu berupa uang tunai. Persepsi tak tepat tentang modal dianut secara meluas. Kekeliruan seperti itu yang sering memenjarakan pikiran. Bahkan diam-diam membunuh inisiatif. Kebanyakan orang berpikir, modal (usaha) itu identik dengan uang tunai. Seakan-akan, tidak ada uang tidak ada modal. Padahal, dengan sedikit membuka wawasan, definisi modal jauh lebih luas. Modal adalah sesuatu yang membuat kita bisa memulai dan menjalankan bisnis. Modal juga tersedia dalam wujud non-uang.

Modal tidak selamanya berupa uang tunai. Lalu apa saja jika bukan uang tunai? Antara lain, dalam bentuk pertanyaan. Katakan Anda memiliki modal uang. So, akan digunakan untuk apa uang tersebut? Jawabannya: untuk membeli aset dan beraneka pembiayaan. Dalam posisi Anda tidak memiliki uang tunai, tetapi bisa mendapatkan aset dan melakukan pembayaran, apa itu bukan modal? Itu modal. Jangan salah, selain berbentuk aset, kemampuan membayar biaya produksi, gaji, dan biaya lainnya tanpa menggunakan uang sendiri juga merupakan modal.

Tidak menyadari aset sendiri. Untuk memulai bisnis, sebenarnya kita memiliki aset yang bisa kita gunakan. Rumah Anda adalah aset, begitu juga dengan segala isi yang terdapat di dalamnya. Kulkas, blender, alat masak, kursi, meja, almari, televisi, dan sebagainya adalah aset. Nah, kini coba pikirkan ide bisnis apa yang bisa dijalankan dengan menggunakan aset yang kita miliki itu. Di samping aset dalam bentuk benda, bukankah kita juga memiliki aset lainnya berupa keterampilan, pengetahuan, pengalaman, dan teman-teman?

Ya, tidak selamanya aset berupa benda atau uang. Gampangnya, aset adalah sesuatu yang (bisa) dikonversi menjadi uang. Sekali lagi, cobalah pikirkan ide bisnis apa yang bisa dijalankan dengan menggunakan aset yang sudah kita miliki. Anda bisa menyewakan gedung yang Anda miliki, Anda bisa menjual pengetahuan yang Anda miliki. Dengan aset-aset tersebut, Anda dapat memanfaatkannya untuk mendapatkan modal. Ketika aset tersebut terakumulasi, itulah titik awal untuk menjalankan bisnis yang (sudah) direncanakan.

Tidak Mau Membayar untuk Modal. Setiap modal yang kita dapatkan selalu ada bayarannya. Meminjam ke bank atau lembaga lainnya, kita harus membayar bunga. Menggunakan uang sendiri pun ada bayarannya, yaitu hilangnya kesempatan untuk menggunakan uang itu untuk keperluan lain. Tapi tidak selamanya berupa uang. Bisa juga berupa kerja keras, waktu, keuletan, dan kegigihan. Itu konsekuensi logis. Jika tidak memiliki modal uang, kita harus sudi berbagai keuntungan dengan mitra/orang lain yang sudah berbagai aset dengan kita.
Enggan bertahap. Saat seseorang butuh modal Rp100 juta, misalnya, yang langsung terbayang adalah ketidakmungkinan. Mustahil. “Gila aja. Itu uang semua atau pakai campur daun? Mau nyari di mana uang sebanyak itu? Apa yang mau dijual? Apa yang mau digadai? Mau pinjam, siapa pula orang yang mau ngasih pinjaman?” Banyak orang yang secara serta merta berpikir bagaimana mendapatkan uang sebanyak itu sekaligus. Padahal, tahapan bisnis tidak menuntut persyaratan yang demikian. Uang sebesar itu cukup mungkin didapat jika kita mau mendapatkannya secara bertahap. Mulailah dari seberapa uang yang kita miliki kemudian cari cara bagaimana cara menambahnya sampai mendapatkan uang sebesar yang kita butuhkan. Pikirkan secara kreatif. Jangan mengabaikan kemungkinan apa pun, sekecil apa pun.●(Nay)

 

Share This:

You may also like...