Sabang, Titik Kilometer Nol Ibu Pertiwi

Sail Sabang 24 November-5 Desember 2017 menghangatkan nama Sabang yang relatif lama adem ayem. Kota strategis di ujung paling barat Tanah Air itu butuh cetak biru planologi agar bersinar.

DALAM kurun waktu satu dasawarsa mutakhir, Kota Sabang maju pesat. Infrastruktur akomodasi pariwisatanya tumbuh mengagumkan, meski pendukung lainnya tergolong pas-pasan. Maklum, kondisi geologis wilayah ini 70% batuan vulkanis (andesite), 27% batuan sedimen (line stone dan sand stone), dan 3% endapan aluvial (recent deposit). Luas kota di Pulau Weh (We) ini 156,3 km².

Perairan di Sabang merupakan tempat bertemunya Samudera Hindia dan Selat Malaka. Selain berbatasan langsung dengan 3 negara yaitu Malaysia, Thailand dan India, Sabang juga merupakan sebuah daerah yang sangat unik. Di sinilah berdiri tugu Kilometer Nol, cikal bakal istilah “Dari Sabang sampai Merauke”. Bukankah bentangan kepulauan republik memang lebih dari 5.000 km, sebanding dengan jarak dari Swedia ke Vladivostok?

Di pengujung tahun 2017, Kota Sabang naik daun lantaran jadi tuan rumah puncak event Sail Indonesia (Sail Sabang 2017). Inilah event wisata bahari tahunan terbesar di Tanah Air. Sail Sabang mengusung tema “Sabang menuju Gerbang Destinasi Wisata Bahari Dunia”. Sebelumnya, Ada Sail Bunaken (2009), Sail Banda (2010), Sail Wakatobi-Belitung (2011), Sail Morotai (2012), Sail Komodo (2013), Sail Raja Ampat (2014), Sail Tomini (2015), dan Sail Selat Karimata (2016).

Di acara puncak Sail Sabang 2017 tampil parade seni budaya dan parade kapal, mulai dari kapal hias milik nelayan tradisional sampai KRI Bima Suci. Juga digelar lomba menyelam, memancing, foto dan video, penjualan paket wisata, dan pameran kuliner. Ada pula Sabang Wonderful Expo dan Marine Expo yang dipentaskan bareng dengan Sabang Expo. Di sini diampilkan aneka festival seni dan budaya Aceh, kejuaraan parasut, lomba aerobatik internasional.

Lokasi penyelenggaraannya akan berada di empat titik, yaitu; Teluk Sabang, Sabang Fair, Gapang Resort, dan Titik 0 Km. Puncak acara akan berlangsung di Pasiran, Teluk Sabang, Lokasi yang rencananya akan jadi pelabuhan kargo. Promosi acara ini dilakukan melalui media online dan offline. Seperti memasang iklan di Bandara Changi Singapura dan via siaran televisi CNN, BBC, dan Fox. Juga lewat komunitas yachter internasional, dari Langkawi, Phuket, Singapura (tempat berkumpulnya yachter), Australia, Eropa.

Sebagai kota kecil yang indah, struktur tanah Sabang berbukit-bukit sehingga warga setempat menyebut kota ini dengan dua nama yaitu Kota Bawah dan Kota Atas. Pada masa Kerajaan Aceh, wilayah Pulau Weh merupakan tempat pengusiran atau dipindahkan ”geupeuweh” bagi seseorang yang terkenak hukuman berat dari kerajaan. Sebutan “geupeuweh” kemudian dilekatkan kepada nama pulau ini dan beriring dengan waktu kemudian pelafalannya menyingkat menjadi Weh dan diartikan sebagai pulau yang terpisah.

Setelah masa kemerdekaan Sabang ditetapkan sebagai pusat Pertahanan Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat (RIS) dan semua aset Pelabuhan Sabang Maatschaappij dibeli Pemerintah Indonesia. Tahun 1965 dibentuk pemerintahan Kotapraja Sabang dan dirintis upaya untuk membuka kembali Sabang Pelabuhan Bebas dan Kawasan Perdagangan Bebas. Upaya ini baru resmi dikukuhkan tahun 2000. Tahun 2004 Sabang kembali terhenti karena pemerintah pusat menetapkan status darurat militer di Provinsi NAD.

Kota Sabang di Pulau Weh memang kota paling barat, tetapi pulau yang terletak di ujung paling barat Indonesia bukanlah pulau Weh melainkan Pulau Benggala. Untuk menuju pulau paling barat di Indonesia ini dengan perahu boat dari Banda Aceh dengan lama perjalanan sekitar 7 jam. Atau dari pulau Weh dengan waktu tempuh sekitar 3 jam.

Gunung Leumo Mate merupakan puncak tertinggi. Di bagian ini terdapat lapisan tuf marina yang lebih besar. Di antara bagian Barat dan Timur terdapat aliran dua buah sungai, yaitu Sungai Pria Laot dan Sungai Raya. Daerah ini merupakan sebuah slenk dari sebuah fleksur (patahan vertikal yang tidak sempurna).

Alasan utama untuk berkunjung ke Sabang (Pulau Weh) adalah menikmati keindahan pantai: bersantai, berenang, snorkeling dan menyelam. Maka, sempatkan ke Gua Sarang. Gua ini terletak di kaki tebing dan perbukitan hutan lindung Pulau Weh yang menjorok ke laut biru. Walau tak semenarik Gua Dau Go di Teluk Ha Long, Vietnam, wisatawan bisa menyambangi tujuh gua tempat burung walet dan kalong bersarang.

Pilihan destinasi lainnya: Air Terjun Pria Laot  berada di bagian selatan pulau Weh atau sekitar 12 km jika anda dari kota Sabang. Air terjun ini masih sangat alami. Mirip-mirip dengan Curug Bidadari di Sentul, Bogor. Lokasinya di tengah hutan, dikelilingi bukit-bukit batu. Lalu, ada Danau Aneuk Laot cantik, yang luasnya 37,5 hektare. Pantai Iboh merupaan salah satu primadona objek wisata. Ombaknya cukup tenang Mau ke pantai ada pri0ritas Pantai Sumur Tiga dan  Pantai Anoi Itam yang merupakan salah satu pantai terindah di Nusantara yang keelokannya diakui masyarakat mancanegara.

Selama berada di Sabang, baik warga setempat maupun turis domestik dan mancanegara, umumnya menggantungkan mobilitas mereka pada kendaraan pribadi, mobil dan sepeda motor sewaan, bus pariwisata, atau jasa pengemudi becak bermotor. Menyewa sepeda motor merupakan pilihan terbaik jika anda melakukan kunjungan ke kota Kilometer Nol itu, yang jaraknya sekitar 15 kilo dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh yang dilayani KMP BRR.

Dalam hal akomodasi, seperti disebut di awal, fasilitas Kota Sabang sangat mamadai. Lima hotel bertarif di atas satu juta per malam, yang termahal Rp1.758,873. Ark Bayz Suites (Puerto Galera). Tarif hotel rata-rata pada kisaran Rp350.000-Rp700.000, meski masih bisa dijumpai yang harganya di bawah Rp300.000. Ini kemajuan yang luar biasa mengingat satu dekade silam tarif hotel termewah di sana hanya Rp400.000.●(dd)

Share This:

1 thought on “Sabang, Titik Kilometer Nol Ibu Pertiwi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *