Saat Jengkol Kian Mahal

Seperti tak mau ketinggalan dengan komoditi lainnya yang sempat meroket, harga jengkol pun ikut-ikutan melonjak. Selain bukan musimnya, berkurangnya areal perkebunan tanaman jengkol akibat pembangunan properti dituding menjadi sebab utamanya. Benarkah?

Setelah harga daging, bawang, dan cabai, kini masyarakat menghadapi lonjakan harga jengkol.  Meski bukan termasuk bahan pokok, namun melonjaknya harga jengkol memaksa pemerintah turun tangan. Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan pun berencana melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah pasar tradisional.

Harga buah bernama latin Archidendrom pauciflorum ini di beberapa daerah melonjak lebih dari 100%. Dalam kondisi normal jengkol yang memiliki aroma khas ini harganya sekitar Rp 20 ribu.  Namun saat ini harganya melejit hingga mencapai Rp 70 ribu.

Di Pasar Depok Jaya, Depok Jawa Barat misalnya. Menurut penuturan Watno, salah satu pedagang, mahalnya harga dan sulitnya mencari jengkol, memaksa dirinya untuk ikut menaikkan harga.   Dia menjual jengkol dengan harga Rp70 ribu per kilogram, dari harga sebelumnya Rp20 ribu.

Tak hanya jengkol, harga pete juga naik tiga kali lipat dari harga awal. Saat ini, pete berkisar Rp5.000 per papan dari harga normal Rp2.000. Harga ini, otomatis mempengaruhi sektor industri warung makan.  Jengkol dan pete memang disukai sebagian masyarakat. Sehingga, ketika harganya melangit, para pedagang warung makan pun kelabakan memenuhi permintaan.
Selain di Depok, para pedagang di Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten juga merasakan hal yang sama. Sekitar tiga pekan terakhir ini, pasokan jengkol dari petani menghilang. Di Lebak, harga jengkol mencapai Rp 50 ribu dari normalnya sekitar Rp 20 ribu per kilogram.

Menurut para pedagang di Lebak, mahalnya harga jengkol disebabkan memasuki musim panen. Namun mereka juga menduga, berkurangnya lahan akibat semakin ekspansifnya properti dan laih fungsi lahan turut andil dalam hal ini. Padahal, Lebak termasuk salah satu sentra jengkol yang hampir merata di setiap kecamatan.

Kepala Pasar Rangkasbitung, Dedi Rahmat mengakui selama ini pasokan jengkol di pasaran menghilang sehingga pedagang terpaksa berjualan komoditas lain. Mereka para pedagang jengkol saat ini beralih menjadi pedagang buah-buahan maupun umbi-umbian akibat kelangkaan tersebut. “Saya kira kelangkaan jengkol ini kali pertama akibat belum tibanya musim panen juga banyak pohon jengkol digunakan untuk pembangunan rumah,” katanya.

Kondisi serupa juga terjadi di Bandung. Di dua pasar tradisional besar di kota Kembang ini, harga jengkol melejit.  Selain harganya selangit, stok jengkol di Pasar Induk Caringin pun sudah tidak ada lagi. Begitu pula yang terjadi di  pasar Kosambi. Kalau pun ada harganya berkisar antara Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu.

Jangan Galau

 

Namun demikian, melejitnya harga jengkol dan petai ini tidak perlu membuat pedagang galau. Sebab, selain bukan komoditas utama, naiknya harga jengkol juga tidak akan membuat pedagang gulung tikar. Bahkan, jengkol juga tidak termasuk dalam komponen penyebab inflasi.

Menurut Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia, Ngadiran, seperi dikutip dari laman Vivanews, kenaikan harga jengkol berapa pun tidak memicu gejolak.  ”Itu kan bukan bahan pokok. Mau naik berapa saja tidak akan membuat kebingungan,” kata Ngadiran.

Kebutuhan jengkol berbeda dengan sayur-mayur lainnya, misalnya cabai dan bawang merah. Menurut dia, cabai dan bawang merah adalah komoditas pangan yang sangat vital bagi kebutuhan sehari-hari, terutama pada masakan. “Jadi, pedagang tetap membeli kedua bahan pangan ini, meskipun harga cabai dan bawang merah mencekik leher,” tuturnya.

Mahalnya harga jengkol ini sempat terjadi sekitar tiga tahun lalu. Ngadiran mengatakan, harga normal kala itu berkisar Rp6-8 ribu per kilogram dan melonjak hingga Rp18-20 ribu per kilogram. Kini, harganya lebih fantastis, yaitu menembus Rp30-50 ribu per kilogram. “Kalau sekarang sih, ada yang harganya Rp30 ribu dan Rp40 ribu per kilogram. Tergantung dari pedagang juga. Ada yang beli eceran, beberapa biji, seperempat kilogram, dan sekilogram,” katanya.

Ngadiran tidak menyebutkan secara pasti kapan harga pangan ini menembus harga puluhan ribu rupiah per kilogramnya. Tapi, ia mengaku belum ada satu pun pedagang yang gulung tikar karena masalah ini. “Tidak ada pedagang khusus jengkol. Kalaupun ada, mereka akan berjualan produk lainnya saat jengkol masih langka. Lagipula, sekarang mereka mencampurnya dengan jualan sayuran lain,” kata dia.
Dalam analisinya, turunnya luas area tanaman menjadi faktor utama mencekiknya harga jengkol. Para pedagang di Pulau Jawa biasanya mendapatkan pasokan jengkol terbesar dari Pulau Sumatera. “Yang terbanyak dari Sumatera. Kalau dari Pulau Jawa, pasokannya hanya sedikit,” kata dia.

Ngadiran menambahkan, jengkol di Pulau Andalas itu tumbuh liar di hutan-hutan dan lahan liar. Tapi, karena area hutan dan lahan kosong itu beralih fungsi, tanaman ini menjadi sulit untuk ditemukan.  Tidak hanya lahan yang beralih fungsi, tingginya harga jengkol juga disebabkan oleh faktor musim. “Jengkol, kan, musiman. Kalau sedang tidak musim, harganya mahal. Sama lah seperti mangga,” kata dia. (Kur- dari berbagai sumber).

Share This: