Roti Kering Bagelen, Bisnis Yang Tidak Pernah Garing

Seorang mahasiswa membawa produk Roti Kering Bagelen dari Sunarya-Foto: Gerai UKM Jabar.

BANDUNG—Roti kering bagelen merupakan camilan lezat dan gurih yang menjadi teman minum teh atau sekadar dikonsumsi iseng dalam perjalanan.  Sesuai namanya roti kering pertama kali di produksi di  Bagelen, Purworejo Jawa Tengah pada akhir abad  19.  Belakangan roti kering ini juga diproduksi oleh sejumlah UKM di Jawa Barat, yaitu Bandung dan sekitarnya.

Di antara mereka terdapat Sunarya,57tahun, yang melihat pasar roti kering bagelen ini begitu terbuka lebar di Bandung dan sekitarnya.  Alumni jurusan Administrasi Niaga FISIP Universitas Padjadjaran ini belajar sendiri cara membuat roti ini melalui referensi dan tentunya dimodifikasi agar rasanya beda.

Sebelum terjun ke dunia wirausaha, Sunarya bekerja di sebuah Pabrik Kaleng, Pulogadung, Jakarta yang membuatnya memahami manajemen perusahaan.  Dia berhenti bekerja awal 2000-an dan memutuskan mendirikan CV Sarana Phinastika  di kawasan Ngrampah, Bandung Barat pada 2005.

“Awalnya produksi kecil-kecilan, ternyata diterima oleh lingkungan dan akhrinya dipasarkan hingga Cimahi dan Bandung,” kata Sunarya ketika dihubungi Peluang, Senin (26/8/19).

Dibantu 6 hingga 7 karyawan, bisnis Sunarya relatif stabil.  Satu dus roti dibandroll antara Rp14 ribu hingga Rp17 ribu.  Omzet diraupnya Rp20-30 juta per bulan. “Memang belum besar, tetapi membuktikan bisnis kue kering bagalen ini belum pernah garing,” ucap dia.

Pelaku UMKM lainnya yang terjun ke bisnis ini ialah Rini Sariningsih yang memulai usahanya pada 2012. Rini bahkan mampu amengkreasikan bagelennya dengan aneka rasa. Selai rasa orginal dimana ia hanya menambahkan mentega saja sebagai bumbunya, Rinni memproduksi bagelen rasa keju, rasa coklat. 

Yang luar biasa ia mampu membuat bagelen dengan brand Calista ini dengan rasa durian sebagai varian lainnya.  Seperti halnya Sunarya, Rini mengungkapkan sekalipun stabil, tetapi produksi naik turun seusai momen. Biasanya pada hari raya produksi meningkat sekitar 1.500 dus dengan harga produksi Rp20.000 atau omzet tertinggi sekitar Rp30 juta. 

“Sekalipun ada pemain besar seperti Kartika Sari yang juga menjual seperti roti kering Bagelen, pasarnya memang masih terbuka untuk UMKM.  Soalnya peminat roti ini datang dari semua kalangan usia anak kecil hingga orang dewasa,” papar alumni STMIK Bandung ini, Senin (26/8/19).

Rini Sariningsih-Foto: Tribunne Jabar.

Rini menyebut bahwa selain dititip di Rest Area di sepanjang Jalan Cipularang dan tol Jakarta-Cikampek, produksinya juga sudah tembus pasar Jakarta hingga Brunei (Irvan Sjafari).

Share This:

You may also like...