Rochdale Society

British Cooperative Wholesale Society hanyalah sebuah kedai bia- sa-biasa saja. Pendirinya pun cuma sekumpulan buruh tenun dan perajin sepatu di Toad Lane, Rochdale Inggris. Di tengah gemuruh
kebangkitan industri berbasis pasar bebas, kehadiran kedai yang kemudian melahirkan Rochdale Society itu nyaris bagai buih di tengah laut.
Ketika itu, pasar tengah ramai dalam persaingan tanpa kendali, setiap orang berlomba mencapai tingkat kemakmuran maksimal dengan pengorbanan minimal. Ini adalah isme ekonomi yang dihembuskan Adam Smith (1723-1790). Menurutnya, pasar harus dibiarkan bergerak bebas tanpa intervensi pemerintah karena pada gilirannya bakal ada tangan tidak tampak (invisible hand) yang akan mengendalikan pasar.
Maka pada 21 Desember 1844 itu, ketika Rochdale Society menjadi cikal bakal koperasi pertama di dunia, ada sesuatu yang terasa aneh. Prinsip ekonomi dengan mengedepankan demokratisasi dan kesetaraan modal antar anggota itu menjadi anomali di tengah paham Smithian yang mendewakan doktrin ekonomi laissez-faires.
Adam Smith, filosof yang sebenarnya amat mengutamakan moral itu, hanyalah sosok yang melegalisasi kerakusan pelaku pasar. Jauh sebelum kelahirannya, di abad ke XVI para pedagang Eropa sudah saling sikut mem- perebutkan pasar jajahan di Timur.
Dalam kasus Indonesia, kita masih ingat Vereenigde Oost-Indische Com- pagnie (VOC) pada tahun 1602 ternyata hanya dibangun oleh 17 orang sau- dagar Belanda, “de heren XVII” dari De Staten General.
Jika dibelakang hari “de heren XVII” dengan VOC-nya menjadi peram- pok bengis, bisa dimaklumi karena sebagian besar mereka terdiri dari para petualang, gelandangan, penjahat dan orang-orang bernasib jelek dari seluruh  Eropa yang mengucapkan sumpah setia kepada kerajaan Belanda.

Ditengah iklim persaingan pasar yang rakus itu gerakan koperasi lahir, tetapi bukan untuk membangun demarkasi ekonomi juga tidak ingin bertempur dengan teori pasar bebas.

Apakah koperasi sebuah gerakan ekonomi? Di negara raksasa kapitalis macam   Amerika Serikat jawabnya adalah ya. Gerakan koperasi pertanian di Jepang hingga kini masih menjadi kekuatan besar yang mampu menggeser posisi para menteri dinegeri Sakura itu. Bagaimana dinegeri kita,  sebagian orang sulit menjawab saat tahu bahwa koperasi dibangun atas dasar kumpulan orang, alih-alih kumpulan modal. Namun, ia jugabukan gerakan sosial karena didalamnya terdapat pertukaran nilai ekonomi.

Kita ingat nama R Aria Wiria atmadja sering dikaitkan dengan awal berdirinya koperasi di Indonesia. Ketika mendirikan Hulpen Spaar bank (Bank Pertolongan dan Simpanan) pada1896, Patih Purwokerto itu tidak bermaksud mendirikan bank. Ia hanya sekadar memfasilitasi kredit kepada pegawainya agar terlepas dari jerat pemain ekonomi rakus bernama lintah darat.

Keberadaan koperasi memang unik. Ia ingin eksis tetapi bukan untuk menguasai perekonomian publik. Ia sekadar alat untuk menyeimbangkan ketimpangan ekonomi (countervailing power) yang harus konsisten melindungi kepentingan anggota.

Gemerlap pasar bebas acap kali menggoda para pelaku koperasi untuk masuk keperekonomian jalur bebas hambatan. Itu sebabnya, koperasi sering dilecehkan. Bahkan oleh pemerintahnya sendiri.

Share This: