Rajanya Furnitur Laboratorium

Usaha dengan omzet miliaran ini bermula dari uang Rp30 juta hasil patungan bersama sang pemilik, Nandang Solihin. Pernah bangkrut, namun dengan kegigihan dan daya inovasi tinggi, kini Nadiso menjadi pemain utama di bidang manufaktur wooden base factory dan metal sheet factory. Output produknya berupa perlengkapan furnitur untuk laboratorium dan perkantoran.

nandang

Jika Anda pernah masuk ke laboratorium pasti menemukan peralatan furnitur/mebeler seperti meja praktikum, lemari, dan perlengkapan lainnya. Asal tahu saja, sebagian besar perlengkapan itu dipasok dari pabrik Karya Nadiso Utama (Nadiso) yang berlokasi di Tangerang, Banten. Pabrikan yang didirikan pada tahun 2004 ini, diklaim sang pemilik sebagai produsen utama furnitur untuk laboratorium di Tanah Air.

Nandang Solihin, sang pemilik pabrik bukan asal mengklaim. Ini didasarkan pada jumlah klien, produk dan layanan serta prestasi yang dicapai. Klien yang menggunakan produk dan layanan Nadiso (singkatan dari namanya-red) jumlahnya mencapai ratusan dengan jenis usaha yang berbeda. Kliennya antara lain rumah sakit, industri, lembaga pemerintahan, sampai lembaga pendidikan.

Menurut pria asal Padalarang, Jawa Barat ini, selain dari sisi jumlah, size kliennya juga bukan yang ecek-ecek. Seperti tertera di laman resmi perusahaan, klien yang pernah menggunakan produknya antara lain PT Pertamina, Aneka Tambang, Timah, Chevron, Astra Agro Lestari, Universitas Indonesia, ITB, IPB, dan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. “Keunggulan produk kami terletak pada inovasi dan kualitas, ”ujar Nandang.

Dari sisi produk, setidaknya lebih dari 20 item perlengkapan laboratorium yang diproduksi. Seperti meja praktikum, lemari asam, blower, fitting, lemari laboratorium, dan lain sebagainya. Dengan aneka produk yang dihasilkan, Nadiso bisa disebut menyediakan layanan one stop shopping sehingga klien tidak perlu repot-repot mencari ke tempat lain untuk memenuhi kebutuhannya. Seluruh produk yang dihasilkan Nadiso memenuhi aspek  standarisasi yang ada. Ini dibuktikan dengan raihan sertifikasi ISO 9001: 2008 dari lembaga sertifikasi internasional. Sehingga produknya dijamin aman dan tidak merusak lingkungan.

Untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat saat ini Nadiso sudah memiliki dua pabrik di Tangerang. Peningkatan kapasitas produksi juga diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia. “Kami memiliki tenaga ahli dan terampil untuk menghasilkan produk terbaik bagi konsumen,” tuturnya sarjana jebolan Jurusan Kimia Institut Teknologi Bandung ini.

Ceruk pasar bisnis furnitur laboratorium sebenarnya terbatas. Pemainnya pun tidak terlalu banyak. Produk Nadiso sendiri bersaing dengan barang-barang impor. Namun karena harga yang ditawarkan lebih kompetitif, produk made in Tangerang ini bisa unggul. “Selain kualitas, harga juga sangat menentukan, ”ucapnya.

Sebagian besar produk Nadiso berbasis metal. Ini dikarenakan permintaan pasar yang lebih tinggi dibanding dari kayu. Selain harganya lebih murah, produk dari metal dinilai lebih tahan lama. Sebagai pebisnis, Nandang pun mesti mengikuti tren pasar.

Selain dari metal, furnitur Nadiso ada yang terbuat dari kayu. Produk ini ditujukan untuk pasar apartemen, restoran, kantor dan hotel. Sama halnya dengan metal yang dikerjakan dengan mesin, produk dari kayu dibuat dibuat juga berbasis mesin dengan material berkualitas. Ini untuk memberi nilai tambah kepada konsumen. Sebab, jika diproduksi secara massal, harganya kalah bersaing dengan produk dari China.

furnitur-lab

Bangkit di Tengah Krisis 

Dalam perjalanan membesarkan Nadiso hingga sebesar sekarang, kata Nandang, bukan hal mudah. Ia memulai usaha ini saat krisis moneter 1998 menerpa Indonesia. Padahal saat itu banyak pengusaha gulung tikar, namun Nandang malah menggelar tikar. Pertimbangannya saat itu sederhana saja, bisnis yang besar harus dimulai dari langkah kecil. Sebenarnya tidak menyadari ada krisis, ia pun nekat memulai usaha.

Bermodalkan uang sebesar Rp30 juta. Uang hasil penjualan dibagi tiga, sebesar Rp10 juta untuk DP mobil baru, Rp10 juta untuk biaya sewa kantor dan Rp10 juta lagi sebagai modal kerja. Tentu dengan uang sebesar itu skala usahanya belum pabrikan. Nandang hanya melakukan aktivitas jual-beli (trading) saja. Usaha ini   bertahan sekitar empat tahun.

Meski pernah gagal, namun Nandang tetap ingin mewujudkan mimpinya, menjadi pengusaha. Tidak sekadar trading, tapi mempunyai pabrik. Ada idealisme yang sejak muda dipegangnya bahwa bisnis bukan hanya mendapatkan uang namun harus berkarya. Itu sebabnya, ia mengaku tidak nyaman jika hanya trading, menjual barang dari luar negeri.

Impiannya mulai bersemi saat 2004 dengan mendirikan pabrik. Karena bermain di segmen produk impor, awalnya ia mengamati untuk kemudian dimodifikasi. “Kita amati dulu lalu kemudian diubah sesuai kebutuhan konsumen, ”ucap Nandang.

Selain bersabar dan sikap pantang menyerah, kunci sukses usahanya terletak pada inovasi dan kreativitas. Inovasi lahir dari keseriusan dalam melakukan riset pasar. Karena produk yang dihasilkannya membutuhkan spesifikasi khusus, ia tidak segan-segan untuk melakukan riset. Hasilnya kemudian diolah bersama tim, sehingga lahirlah produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar. (Drajat)

Share This: