PUYI

ISTANA dengan 9900 kamar itu dihuni puluhan ribu wanita cantik yang disediakan untuk para kaisar Cina. Bukan rumah bordil memang, melainkan pusat pemerintahan dan kekuasaan yang panjang dari dua dinasti terbesar, Ming dan Qing. Saat pertama menjejakkan kaki di Istana Kota Terlarang itu pada 2006, ada rasa takjub dengan situs warisan feodal berusia hampir 700 tahun itu. Deretan pilar kokoh dengan dominasi warna merah darah bagai ungkapan kejumawaan masa lalu, tentang keperkasaan sang kaisar menggilir 10.000 para selirnya. Menyusuri deretan kamar di kiri kanan halaman istana yang luas itu, terbayang lagi wajah puluhan ribu gadis belia yang tanpa pilihan harus melayani birahi penguasa. Ada yang datang dengan suka rela karena mengejar popularitas, dan tak sedikit yang diculik, diambil paksa dari rumah orang tuanya.

Di ujung keruntuhan monarki absolut berusia dua milenium itu, kita teringat Aisin Gioro Pu Yi, kaisar terakhir dari dinasti Qing. Ia naik tahta saat usianya baru dua tahun. Lewat karya fenomenal, Bernardo Bertolucci dalam filmnya The Last Emperor menggambarkan balita itu direnggut dari tetek ibunya saat diboyong ke Kota Terlarang. Pada Desember 1908. Bocah lugu yang tidak tahu apa-apa itu dipajang sebagai kaisar baru Cina. Kita pun mafhum, ia hanya simbol warisan lama yang hendak terus dipertahankan. Naasnya, Puyi, kaisar boneka yang berkuasa tanpa titah itu lahir di waktu yang salah. Di luar tembok Istana Kota Terlarang, udara kota Beijing tengah pengap oleh arus unjuk rasa masif. Ribuan pamplet, orasi kemarahan serta amuk massa menjalar di seantero negeri. Kaum muda revolusioner dipimpin Sut Yat Sen ngotot untuk mengubur era monarki absolut yang mengakar lebih dari 2100 tahun itu. Ketika Cina menjadi republik pada 1912, Puyi masih larut dalam kuasa semu hingga kemudian terusir dari istananya pada 1924. Namun, agaknya ia masih haus kehormatan, ia ingin orang di sekelilingnya tetap kowtow, membungkuk hingga jidat mencium tanah.

Nafsu merestorasi rezim monarki itu menjadi pintu masuk penjajahan asing. Di tahun 1932 Jepang mematut Puyi sebagai kaisar boneka negara baru, Manchukuo. Di tengah tenggelam Puyi menikmati singgasananya, Jepang menggasak habis harta pribumi. Sebelum wafat pada 1967 sebagai seorang komunis, Puyi menjalani hukuman menyakitkan sebagai penjahat perang. Ia hidup sebagai rakyat biasa yang bekerja sebagai tukang kebun.

Menengok lagi revolusi Xinhai di tahun 1911 itu, kita dihadapkan pada pelajaran berharga tentang arus reformasi dahsyat yang   mampu menggulingkan rezim kekaisaran berusia ribuan tahun itu? Sun Yat Sen, dokter yang berhenti praktek demi revolusi itu tidak dengan tiba-tiba melakukan pemberontakkan terhadap kekaisaran. Ia tercatat puluhan kali menggalang aksi massa di seantero Cina sebelum Xinhai sukses menurunkan Puyi. Memang tidak murni sebagai gerakan sempalan, karena di dalam istana pun ketidakpuasan merebak oleh ulah korupsi, lalu bermuara pada aksi heroik para jenderal kekaisaran yang meminta rezim lama itu membubarkan diri.

Kita tahu, nasionalisme bukan kalimat sakti di tengah masyarakat yang hidup di bawah tekanan. Istilah itu lahir sebagai antitesis dari kolonialisme yang alpa pada hak-hak publik. Gerakan pemuda pada 28 Oktober 1928 pun lahir dari akumulasi keterkungkungan itu. Seperti halnya keberadaan dinasti Qing bagi rakyat Cina yang hanyalah penjajah asing dari Manchuria. Mudahnya rezim ini ditaklukkan Inggris pada perang candu di tahun 1842, kian memicu rakyat Cina untuk segera mengganti sistem pemerintahan.

Adakah perubahan signifikan setelah revolusi 1911 itu? Di tahun 1934, seusai dari longmarch 9000 km, penguasa baru Mao Tse Tung mematung di depan istana itu. Memang terlintas di benaknya untuk menghancurkan situs sejarah itu. Ia pun memulai revolusi kebudayaan dengan memburu Empat Tua, yaitu memberangus adat, budaya, kebiasaan dan ide lama. Kita tidak tahu, yang kemudian mengubah pikiran penguasa tiran yang bertanggungjawab atas kematian 70 juta rakyat Cina itu. Yang kita tahu, Kota Terlarang masih berdiri kokoh di tengah modernisasi Cina dan di depan dinding pintu masuk warisan sejarah itu foto Mao terpampang gagah. (Irsyad Muchtar)

Share This:

Next Post

Limpahan Berkah dari Cacing Tanah

Sel Des 4 , 2018
Mencoba, gagal, lalu bangkit. Itulah yang yang dilakukan Abdul Azis Adam Maulida. Berawal dengan niat jadi peternak belut. Garis tangan menuntunnya sukses jadi pembudidaya cacing tanah, dengan omzet Rp300 juta/bulan.   KELUAR dari pekerjaannya di sebuah perusahaan kimia tahun 2010, ia sempat nganggur setahun. Sarjana teknik industri ini lalu belajar […]

Berita lainnya