Pulau Samosir & Dua Danau di Atas Danau

Musibah tenggelamnya KM Sinar Bangun (18/6) dan kecelakaan KM Ramos Risma Marisi (22/6) di Danau Toba sungguh tragis. Faktor human error, mungkin. Ada apa di Toba? Ini deskripsi danau purba itu sebagai destinasi wisata alam.

 

PULAU di tengah danau artinya ada pulau di dalam pulau. Itu saja sudah cukup unik. Adapun Danau Toba (1.000 meter dpl) lebih unik dari itu. Di Pulau Samosir, sebuah pulau di tengah danau di Provinsi Sumatera Utara, terdapat pula dua buah danau kecil. Sebutan populernya, “danau di atas danau”. Kedua danau tersebut disebut Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang. Panoramanya menarik, meski akses dan properti di sana belum cukup mendukung kepentingan pariwisata.

Pulau Samosir merupakan wilayah utama Kabupaten Samosir dengan luas 640 km². Inilah pulau di tengah danau terluas di dunia. Pulau Samosir terbentuk setelah terjadinya erupsi vulkanis 75 ribu tahun yang lalu. Danau Sidihoni dan Danau Aek Natonang sama-sama berpanorama cantik dan airnya jernih. Sayangnya belum ada akses jalan yang memadai.

Pusat konsentrasi turis di Pulau Samosir ada di Tuktuk. Dari Parapat, Tuktuk terhubung dengan feri penyeberangan. Bisa juga dicapai lewat jalan darat melalui Pangururan,  tempat dimana Pulau Samosir dan Pulau Sumatera berhubungan. Selain sebagai tempat wisata, danau ini menjadi tumpuan hidup masyarakat sekitarnya. Mobil adalah alat transportasi yang sangat penting bagi keluarga yang ingin berkeliling pulau.

Beberapa losmen siap menyambut tetamu. Sebagian tidak memiliki nomor telepon. Untuk menginap, gunakan saja teknik go show. Jika penginapan sudah penuh, pemilik hotel dengan ramah akan mencarikan home stay. Tarif losmen pun murah meriah. Wisatawan agak jarang nginap di Samosir. Sebuah ATM terdapat di Tomok dan satu lagi di Ambarita, sekitar tiga mil barat laut di jalan utama dari gerbang masuk ke Tuktuk. Tidak ada angkutan umum. Untuk berjalan-jalan, anda harus menyewa sepeda atau sepeda motor.

Budaya Toba termasuk unik. Di antaranya, Pusuk Buhit dipercaya sebagai tempat asal muasal suku Batak. Ada pemandian air panas dan Museum Adat Budaya Batak. Peninggalan budaya masa lampau banyak tersimpan di pulau ini. Khususnya di Kampung Siallagan, di Desa Ambarita. Perkampungan yang mirip benteng ini lokasinya berdekatan dengan bibir Danau Toba. Wisatawan Nusantara ataupun wisatawan mancanegara yang datang ke Toba biasanya mampir ke tempat ini.
Nama kampung Siallagan berasal diambil dari nama yang sama seorang raja masa lalu. Raja ini tegas dalam menegakkan hukum. Buktinya, situs Batu Parsidangan. Tempat yang berwujud semacam ruang pengadilan, dengan meja dan kursi terbuat dari batu ini digunakan penjahat atau pelanggar hukum adat (kasus pembunuhan, pencurian, pemerkosaan, dan lainnya) atau untuk musuh politik. Jika mereka terbukti bersalah, mereka akan dihukum pancung di sini.

Dari kisah inilah lahir stereotipe bahwa masyarakat Batak mempraktikkan kanibalisme. Ritual mengerikan ini perlahan hilang setelah pendeta asal Jerman, Dr. Ingwer Ludwig Nommensen, membawa agama Kristen pada pertengahan abad ke-19. Raja Siallagan yang sebelumnya menganut agama asli Batak (Parmalim) lalu memeluk Kristen dan menghentikan ritual kanibalisme itu.

Jika anda penasaran bagaimana cara orang Batak memproduksi ulos, mampirlah ke Suhi Suhi. Di desa ini, sebagian besar perajin, baik tua maupun muda, sehar-hari menekuni kegiatan menenun Ulos sebagai sumber penghasilan. Butuh banyak waktu, kesabaran dan ketelitian yang tinggi untuk menghasilkan sehelai Ulos. Hingga tidak heran jika harga jualnya berkisar antara Rp250 rtibu dan Rp5 juta per lembar.●(dd)

Share This:

You may also like...