Profesi yang Mengharuskan di Luar Rumah

Kebijakan work from home sangat realistis untuk memutus mata rantai penularan virus corona (covid-19). Ekses yang kurang terantisipasi adalah sejumlah profesi terkena hantaman telak.

DI BERBAGAI wilayah diberlakukan kebijakan Work from Home atau Kerja dari Rumah guna menekan penyebaran virus corona. Namun, tak semua profesi bisa menerapkan imbauan ini. Beberapa profesi jadi ‘tumbal’, dan beberapa sektor vital paling terdampak.

Para nelayan tak bisa bekerja dari rumah mengingat tempat mereka mencari nafkah adalah lautan luas dan pasar ikan. Ada contoh bagus dari nelayan di Jersey, sebuah wilayah dependensi Britania Raya. Perintah stay at home tak berlaku untuk para nelayan. Sebab, bukan hanya nelayan kecil yang tak bisa memancing dan mencari ikan, mereka yang sudah bergabung dalam perusahaan pun tak bisa mendapat penghasilan.

Para sopir angkutan dan tukang ojek. Baik ojek online maupun pangkalan jadi sepi pelanggan. Orang-orang tak memerlukan jasa angkutan karena aturan larangan bepergian. Sebelum ada imbuan WFH, penghasilan Ratijo (62) dari orderan penumpang bisa bisa mencapai Rp 200 ribu per hari. Namun sejak Senin (16/3), rezekinya sangat seret.

Ratijo mengaku, “Tukang ojek bisa mati kelaparan, karena (rezeki) cuma mengandalkan ojek. Kondisi ini berlaku untuk sopir taksi, bus, mikrolet, atau pun angkot. Jangankan untuk uamg setoran, mendapat penumpang pun sangat sulit. “Bahkan sebelum ada Covid-19 saja, situasi narik sudah parah. Pengaruh virus corona ini besar banget ke penghasilan sebagai pengemudi taksi,” kata Irwansyah

Para pedagang di pasar, tukang sayur, pedagang kaki lima, bahkan pedagang dengan toko yang lebih besar pun terkena imbas. Kalaupun mereka boleh keluar rumah untuk berjualan, mereka tetap tak akan bertemu pembeli.

Para buruh harian.Yakni para kuli panggul, kuli bangunan, bahkan pekerja harian di pabrik atau perusahaan. Upah yang biasa mereka dapatkan setiap harinya setelah bekerja lenyap. Mereka tak akan mendapat upah di pasar taka da kegiatan. ‘Kesibukan’ berpindah ke work from home.

Para pilot dan pramugari, yang aktivitasnya amat bergantung pada jadwal dalam maskapai penerbangan. Ketika diberlakukan Work From Home, tingkat mobilitas penggunaan angkutan udara pun menciut. Tidak ada opsi bekerja dari rumah untuk para pilot dan pramugari. Hanya cuti dan libur yang bisa dikeluarkan perusahaan maskapai.

Cathay Pasific Airways, maskapai penerbangan Hong Kong meminta puluhan ribu karyawannya mengambil cuti panjang, seiring dengan wabah virus corona. Sebanyak 27.000 karyawan dari maskapai tersebut tidak akan mendapat gaji selama cuti tiga bulan. Pihak Cathay akan memotong sekitar 30 persen kuota penerbangan selama dua bulan ke depan,  dan minta karyawan mengikuti skema cuti tanpa gaji 1 Maret hingga 30 Juni.

Para dokter dan perawat. Mereka petugas garis depan untuk bekerja keras menumpas corona. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan di rumah. Para dokter akan sibuk menangani pasien di rumah sakit dan layanan kesehatan lainnya.

Gubernur DKI, Anies Baswedan, mengaku telah mengerahkan 3.350 dokter dan 7.700 perawat.

Pemprov DKI menyediakan santunan kepada 1,1 juta pekerja harian atas pemberlakuan kebijakan social distancing. Kepedulian kalangan swasta tak kalah menarik. Selama dua pekan, lima buah warteg di empat wilayah menyediakan makan siang gratis @Rp15.000. Sebuah gerakan yang segera disambut 1.000 warteg se-Jabodetabek.●

Share This:

You may also like...