Politik Uang Ancam Perekonomian Negara

‘Serangan fajar’ dengan membagi-bagikan uang menjelang pemungutan suara dalam Pemilu berdampak negatif terhadap pembangunan ekonomi. Pun tidak berpengaruh  terhadap perekonomian masyarakat kelas bawah.

POLITIK uang (money politics) yang kerap dilakukan para politisi menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) dapat mengancam perekonomian suatu negara. Jangan anggap sepele ekses pembagian uang untuk ‘membeli’ suara rakyat. Mungkin cuma Rp100.000 atau Rp200.000, tapi implikasinya bias serius. “Struktur ekonomi sangat berpotensi terdampak politik transaksional ini,” kata peneliti dari Australian National University, Edward Aspinal.

Sebagai contoh, apabila seorang politisi melakukan politik transaksional pada pemilu dan terpilih, dia memiliki peranan besar dalam menentukan kebijakan ekonomi. Padahal, apabila para politisi mengeluarkan uang dalam jumlah besar saat Pemilu, setelah terpilih sebagai wakil rakyat, mereka akan berusaha mengembalikan modal dengan berbagai cara.

Ongkos politik yang besar pada umumnya bermuara pada praktik korupsi. Tindakan ini dilakukan oleh para politisi karena untuk menduduki posisinya itu dia melakukan politik transaksional saat Pemilu. “Dengan kata lain, mereka berusaha balik modal (bahkan untung), tapi dengan cara yang salah,” kata dia. Penelitian Edward menunjukkan, politik uang umumnya menyasar kepada masyarakat kategori ekonomi menengah ke bawah.

Pendapat serupa dikemukakan peneliti lembaga studi Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda (KITLV), Ward Berenschot. ‘Serangan fajar’ dengan membagi-bagikan uang menjelang pemungutan suara dalam Pemilu berdampak negatif terhadap pembangunan ekonomi, dan tidak mempengaruhi perekonomian masyarakat kelas bawah. Tradisi ‘serangan fajar’ untuk meraup suara sama sekali tidak meningkatkan perekonomian masyarakat. Sasarannya masyarakat berpenghasilan rendah. Satu hal yang pasti, jika dibandingkan dengan pemilu sebelumnya, jumlah uang yang diberikan saat ‘serangan fajar’ pada pemilu tahun ini lebih besar.

“Dahulu mereka (calon pemimpin daerah) memberi uang kepada masing-masing calon pemilih sekitar Rp20.000-Rp50.000 sekarang menjadi Rp100.000-Rp200.000. Selalu ada peningkatan ‘tarif’ karena terjadi persaingan di antara kandidat,” ujarnya. Tebar recehan semacam itu mencederai akal sehat. Fakta menyedihkan ini tidak pernah benar-benar disadari oleh banyak pihak. Bahwa politik uang ala ‘serangan fajar’ atau dalam bentuk lain yang ‘dimodifikasi’ menjadi lebih soft, seperti paket sembako dan lain-lain, justru berdampak negatif terhadap pembangunan ekonomi.

Menurut Edward, politik uang sangat berkaitan dengan korupsi. Sebab, kandidat yang telah berhasil menduduki jabatan melalui praktik politik uang tersebut cenderung akan menyalahgunakan anggaran negara. Dana-dana untuk pembangunan infrastruktur ataupun pelayanan publik bakal dimanipulasi guna mendapatkan kembali modal yang telah ia keluarkan. Akibatnya, perbaikan infrastruktur dan pelayanan publik akan terganggu. Mereka niscaya tergiur menyalahgunakan anggaran negara, baik untuk kepentingan individu maupun golongan mereka (korupsi kolektif).

Sudah bukan rahasia lagi, para pemburu jabatan publik, baik eksekutif maupun legislatif, umumnya tak memiliki dana yang cukup untuk membiayai ongkos politik (political cost) yang besar dalam rezim Pemilihan Umum Langsung yang dianut Indonesia pasca-reformasi. Lalu? Cari dana cash kepada cukong. Risikonya, hutang budi dibayar body. Cara mengembalikannya? Pasti dari hasil korupsi lewat akal-akalan, mark up (penggelembungan) nilai proyek, dan berbagai bentuk parasit uang negara (baca: uang rakyat)—yang sudah sangat terpantau dengan baik oleh KPK.●(dd)

Share This:

Next Post

Industri Kosmetika Tumbuh 9 Persen

Sel Apr 30 , 2019
Kita bersaing dengan market leader di Asia, yaitu Korea. Pada saat yang sama, Thailand juga tengah melakukan pengembangan industri di sektor-sektor tersebut. DINAMIKA industri kosmestika dalam negeri terus dikembangkan dan dipacu Kementerian Perindustrian. Sasarannya, agar mampu berdaya saing hingga pasar global. Logis saja karena Indonesia merupakan salah satu pasar produk […]