Peternak Bebek Pemalang Butuh Modal dan Pendampingan

Ilustrasi-Foto: Istimewa.

PEMALANG—Sejak masih muda, Hari (60 tahun) menjalankan usaha peternakan bebek di Kecamatan Rando Dongkal, Kabupaten Pemalang Jawa Tengah. Kini usaha itu sehari-hari dijalani seorang putranya, ketika mencari tambahan menarik angkot di kawasan Depok.

Hari mengeluhkan sulit mendapatkan fasilitas KUR Rp25 juta untuk mengembangkan usahanya, karena pihak bank berdalih pada batas usia. Padahal dia sudah memberikan sertifikat tanah. Saat india mempunyai 700 ekor bebek dari semua usia, baik untuk keperluan petelur maupun pedaging.

Hasil penjualan bebek memang tidak memadai lagi, namun dia merasa sayang untuk menutup usaha yang dijalankannya puluhan tahun dan bila dia sudah tidak kuat lagi menarik angkot bisa menjadi jaminan hari tuanya.

“Saya menjual anak bebek dalam boks untuk bibit untuk peternak lain kira-kira isinya 100 ekor sekira Rp8,5 juta atau sama dengan Rp17 juta. Hasil bersihnya kalau dipotong pakan dan aneka biaya hanya Rp7 juta dan itu pun tiga bulan sekali,” papar Hari dalam obrolannya dengan Peluang, Selasa (17/11/20).

Bebek menurut dia harus diperhatikan pemerintah sebab ikut memperkuat ketahanan pangan. Di daerah dia saja ada banyak peternak bebek, ada punya seri ekor. Mereka punya lahan gembala bersama dan biasanya setiap peternak mempunyai tanda warna pada bebeknya, ada yang perak, ada yang merah.

Potensi ekonomi bebek masih besar, selain dijual telurnya yang mencapai Rp2.250 per butir, juga bisa dijual dagingnya bila bebek muda ke kuliner bebek harganya Rp40 ribu per ekor. Kalau bebek petelur dijual utuh Rp65 ribu.

“Ada koperasi di daerah Pemalang tetapi peternak lebih suka dengan tengkulak, karena berbisis dengan koperasi lebih banyak ruginya dari segi harga,” ungkap Hari.

Dia juga menyebutkan peternak bebek menghadapi kendala kenaikan harga pakan, penyakit dan perlu pendampingan untuk mendapatkan saluran pemasaran.

Mantan peternak bebek di Pemalang Frinoto menyebutkan untuk mengembangkan peternakan bebek di Kabupaten Pemalang menjadi andalan daerah tidak saja diperpulkan dukugan pemodal, tetapi juga para pternaknya berhimpun dalam koperasi.

“Selama ini peternak jalan sendiri-sendiri, itu yang saya alami ketika mengelola Sentra bebek Pemalang.  Walaupun biaya produksi seperti pakan juga patut diperhatikan. Petrnak juga butuh modal yang harus disalurkan ke koperasi,” ujar Frinoto dihubungi terpisah.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Pemalang mengugkapkan jumlah itik di wilayah itu pada 2013 berjumlah  2, 1 juta ekor anjlok menjadi 327 ribu ekor pada 2016 dan naik tipis menjadi 336 ribu ekor pada 2019 (Van).

Share This:

One Comment on “Peternak Bebek Pemalang Butuh Modal dan Pendampingan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *