Peternak Ayam Jabar Keluhkan Impor Ayam Broiler

BANDUNG— Forum Komunikasi Peternak Ayam Millennial Jawa Barat menyampaikan, peternak ayam broiler lokal setingkat UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) sulit bersaing dengan perusahaan impor kelas kakap.

Menurut juru bicara forum tersebut,  Nurul Ikwan, para peternak meminta pemerintah memperhatikan aspirasi peternal lokal dan mengambil langkah, demi kelangsungan usahanya.

Salah satunya dengan cara membatasi impor ayam broiler yang masuk. Serta, meningkatkan kemampuan kualitas dan kuantitas peternak lokal setingkat UMKM.

“Perusahaan-perusahaan asing skala besar mudah  mencari makan di tanah Ibu Pertiwi ini. Tentunya kita sebagai peternak rakyat yang memiliki modal pas-pasan hanya bisa pasrah,” ujar Ikwan, kepada wartawan, Selasa (13/10/20).

Ikwan menyebutkan,beberapa perusahaan melakukan merger, maka 90 persen pangsa pasar dalam negeri bakal dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing yang dianggap memiliki modal besar. Hal itu, bukan hanya prediksi peternak semata, melainkan juga dibenarkan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Menurutnya, ada 15 perusahaan yang memiliki izin impor GPS (Grandparent Stock) indukan nenek ayam. Data itu juga diungkapkan  Kepala Seksi di bawah Ditjen Perdagangan Dalam Negeri pada kegiatan Rembug Perunggasan Nasional di Bogor bulan lalu.

“Fakta di lapangan menunjukkan bahwa ada dua perusahaan industri ayam asing asal Thailand dan perusahaan dengan kepemilikan saham asal Singapura telah menjadi pemegang pangsa pasar ayam nasional masing-masing sebanyak 40 dan 30 persen,” ungkap Nurul.

Sementara 20 persen pangsa pasar ayam nasional lainnya dikuasai perusahaan asing asal Tiongkok, Malaysia, dan Korea Selatan.  Sebanya 8 persennya lainnya dimiliki oleh delapan perusahaan lokal yang sudah memiliki izin dalam pengembangan budidaya peternakan hingga dapat menjual Live birds (ayam hidup). 

“Sisanya, hanya 2 persen yang menjadi jatah bagi pasar ayam untuk peternak mandiri yang berstatus UMKM,” imbuh dia.

Ikwan mengklaim, bahwa ketidaksehatan persaingan usaha yang ada, menjadi salah satu alasan mengapa harga ayam di tingkat peternak seringkali tak stabil. Karena, stabilitas tidak akan bisa dijaga selama supply-demand tidak sehat ditambah adanya wabah virus corona tahun ini 

“Seperti bom waktu bagi peternak rakyat di perunggasan. Tinggal menunggu waktu yang pas untuk memamatikan usaha kecil mereka,” katanya.

Permasalahan yang terjadi saat ini, kata dia, bisa jadi dipengaruhi oleh kebijakan tahun 2018 yang memasukkan ayam GPS berlebih sehingga terjadi oversupply ayam final stock di lapangan pada 2020.

“Maka itu, jangan heran jika para pelaku UMKM di sektor perunggasan amat mengharapkan perhatian pemerintah terhadap nasib bisnis mereka,” katanya.

Nurul juga mengatakan, para peternak menginginkan  praktik monopoli semestinya dapat dihentikan.

“Pada saat ini perusahaan-perusahaan besar menjual ayam hidup mereka sampai ke pasar becek. Padahal  pasar becek merupakan tempat peternak menjual ayam,” pungkas dia.

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *