Petani Tolak Impor Beras

Panen raya sudah dimulai. Kawasan Cilacap bagian timur merupakan daerah hamparan sawah yang subur. Termasuk gudangnya penghasil beras di Jawa Tengah. Bila pekan kemarin berita seputar Cilacap tentang banjir melanda Cilacap kawasan barat, hari ini tentang panen raya.

Acara panen raya ini tak tanggung-tanggung digelar dengan seremoni meriah. Pejabat tmentaninggi dari pusat dan orang terpenting di Jawa Tengah turut hadir di acara tersebut. Pejabat Jakarta yang hadir tidak lain Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jendral TNI Mulyono. Sedangkan orang nomor satu Jateng itu Ganjar Pranowo.

Pada kesempatan tersebut Gubernur Jawa Tengah mengajak petani khususnya di Kabupaten Cilacap agar berani menolak impor beras, sebab produksinya saat ini melimpah. Ganjar mengimbuhi, kondisi seperti ini juga tidak hanya di Cilacap, tetapi hampir se-antero tanah air. “Kondisi panen dan beras sedang melimpah masak iya masih impor beras,” tandasnya saat sambutan panen raya yang di pusatkan di Desa Mernek, Kecamatan Maos, Cilacap, Senin (29/2).

Ganjar dalam kunjungannya ke wilayah bagian selatan ini menggunakan helikopter, mengatakan sepanjang perjalanan kondisi pesawahan dari Semarang menuju Cilacap sedang menguning. menandakan beras akan tersedia berlebih, menyayangkan jika Indonesia tetap mengimpor beras. “Kalian sanggup enggak menolak impor beras,” tanyanya dan disambut sambut tepuk petani.

Masih sambung Gubernur kedaulatan energi dan pangan sebuah keharusan diwujudkan. Dengan keyakinan kuat kita harus bangkit dan berproduksi untuk mencukupi kebutuhan pangan sendiri.

Ganjar juga meminta kepada seluruh kabupaten/kota di Jateng ikut memantau perkembangan harga gabah di wilayah masing-masing, lalu melaporkan minimal dua kali seminggu pada gubernur, khususnya pada Maret saat panen raya berlangsung. terutama jika terjadi harga gabah melorot segera melaporkannya. Menurutnya saat panen raya petani juga harus menikmati harga yang raya.

Produksi gabah kering panen (GKP) di Jawa Tengah pada 2015 mencapai 11,05 juta ton. jumlah tersebut melapaui target 10,22 juta ton. Melihat pengalaman yang ada, Ganjar mengatakan petani tidak perlu menargetkan produktivitas tinggi di atas 8 ton per hektare, dengan 7 ton per hektare saja kebutuhan akan pangan tercukupi. “Tak perlu target 8 ton dengan 7 ton saja per hektar sudah bisa menyelamatkan negara ini dari kecukupan pangan,” pugkasnya. Saw/Dbs.

Share This:

You may also like...