Petani Minta Jokowi Rem Impor Kopi

Ilustrasi-Foto: Evierezeki.

JAKARTA—Pasokan kopi impor asal Amerika Latin dan Vietnam mengalir deras ke kedai-kedai dalam negeri. Produksi kopi dari negara-engara ini sudah menggunakan mesin otomatis sehingga membuat harganya lebih murah dibandingkan kopi lokal. Sementara petani lokal masih menggunakan tangan untuk memetik.

Untuk itu petani kopi yang tergabung dalam Paguyuban Petani Sunda Hejo meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengerem laju impor kopi yang berasal dari negara-negara Amerika Latin dan Vietnam.

Menurut juru bicara petani kopi, Hamzah Fauzi Nur Amin, negara-negara Amerika Latin lebih banyak mengirim kopi arabika, sementara Vietnam lebih banyak jenis robusta.

“Ada masalah besar Pak, di setiap kedai kopi muncul kopi impor Amerika Latin dan Vietnam. Mohon kebijakan agar impor tidak gampang mengalir. Karena harga akan lebih rendah di kami,” cetus Hamzah kepada Jokowi di Istana Negara, Kamis (10/10/19).

Presiden Jokowi sendiri mengaku akan menindaklanjuti masukan dari para petani. Dalam sebuah kesempatan pada Agustus 2019 lalu, Jokowi pernah menyindir pengelola mal-mal yang selalu menempatkan merek kopi asing di posisi paling strategis. Seharusnya merek-merek kopi lokal bisa mendapat posisi yang setara.

Bukan hanya Petani Sunda Hejo yang menderita karena kopi impor. Petani kopi di Desa IV Suku Menanti, Kecamatan Sindang Dataran, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu juga mengeluhkan yang sama Agustus lalu.

Menurut seorang petani, Sudirman rendahnya harga jual biji kopi di Bengkulu membuat sejumlah petani di daerah itu menebangi tanaman kopi di kebun mereka.

“Ini sebagai bentuk protes atas rendahnya harga jual biji kopi kering di tingkat petani,” ungkap dia seperti dilansir Gelora beberapa waktu lalu.

Sudirman mengaku, harga biji kopi kering merosot Rp15.000 per kilogram, dan harganya turun dari sebelumnya berkisar dari Rp22.000 per kilogram. Turunnya harga jual biji kopi membuat semangat petani kopi melemah.

Share This:

You may also like...