Petani Cianjur Berdaya Lewat Jamur Tiram

CIANJUR—-Ketika pertama kali merintis budi daya jamur tiram pada tahun 2000, jumlah petani yang ikut membudidayakan di Cianjur bisa dihitung dengan jari.  Haris Pribadi adalah salah seorang di antaranya yang merintis dengan modal Rp10 juta dengan tanah menyewa.

Jamur tiram mengubah nasibnya.  Dakan berapa bulan agrisbisnis yang dirintisnya sudah balik modal, bahkan Sang Istri juga menjadi wirausaha membuat crispy dan kripik jamur tiram, sayang hanya snaggup menangani beberapa tahun.

“Kini  jumlah petani di Cianjur tidak terhitung. Sewaktu saya masih aktif di asosiasi hingga 2015 sudah 15 petani di Cianjur,” tutur Haris kepada Peluang, Selasa (8/4/2019).

Pemilik Rumah Jamur 99 ini sebetulnya mengawali agribisnisnya dengan jamur shitake.  Sayang iklimnya tidak  cocok dan dia beralih ke jamur tiram.  Dia kemudian memanfaatkan perkarangan rumahnya yang agak  lembab untuk membuat kumbung jamur.    

Setiap hari biasa panen 20 hingga 50 kilogram. Jamur tiram dijual ke tengkulak per baglog (3-4 ons) dengan harga per kilogram Rp10.000. Jadi tiap baglog jatuhnya Rp3.500 hingga Rp4.000. Agrisbisnis ini termasuk padat modal. Modal membuat rumah kumbung sederhana dan pemeliharaannya, serta tenaga.

“Saya hanya petani kecil dengan omzet bersih rata-rata Rp7 juta per bulan.  Saya pernah meraih di atas Rp10 juta.  Tetapi kawan saya seorang petani besar di kawasan Bogor dengan produksi ton bisa mendapatkan omzet puluhan juta rupiah,” papar alumni Jurusan Biologi MIPA Universitas Indonesia ini, seraya mengatakan juga menampung baglog produksi petani lain.

Ke depannya Haris berencana mengembangkan bisnis ini.  Tanahnya yang digunakan baru seribu dari lima ribu meter persegi. Dia juga ingin bisnis benih jamur tiram.

Namun katanya, yang lebih dibutuhkan semangat persatuan dari petani agar harga bisa jadi satu, tidak jalan sendiri-sendiri, hingga bisa dipermainkan tengkulak.

Selain Haris Pribadi, petani asal Cianjur lainnya   Triono Untung Piryadi  juga sukses mengembangkan usaha budidaya jamur tiram. Bahkan jaringan pemasaran jamur tiram tidak hanya di daerah Cianjur saja, tetapi sudah merambah Jakarta, Bogor, hingga sebagian lain Jawa Barat, bahkan penjualannya sampai Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera.

“Harga jual jamur cenderung stabil, saat ini sekitar Rp 14 ribu per kilogram,” ungkap wirausahawan alumni Fakultas Pertanian  UGM dalam keterangan resminya, Sabtu (09/2/2019) seperti dilansir agrofarm.

Melalui CV Asa Agro Corporation (AAC) yang didirikannya 15 tahun lalu, omzet usaha jamurnya telah mencapai satu miliar rupiah per bulan. Tiap hari, ia bisa menjual 3 – 5 ton jamur tiram dan 12 ribu baglog benih per hari. Tiap satu kilogram jamur dijual sekitar Rp14 ribu dan harga satu baglog benih jamur Rp4 ribu  (Irvan Sjafari)

Share This:

Next Post

Lewat Rumah Kreatif Karawang, Peruri Dukung Pelaku UMKM

Sel Apr 9 , 2019
KARAWANG—-Direktur Utama Peruri, Dwina Septiani Wijaya  meresmikan Rumah Kreatif Karawang (RKK) yang berlokasi di Jalan Raya Teluk Jambe, Kabupaten Karawang. Lewat RKK  ini Peruri  berupaya mendampingi dan membina para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). RKK ini akan membantu para pelaku  UMKM dalam hal pengelolaan usaha seperti peningkatan kompetensi […]