Pertumbuhan Ekonomi Lambat, Indef Minta Pemerintah Jaga Konsumsi Rumah Tangga

JAKARTA—-Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2019 melaju semakin pelan, mulai dari 5,07 persen pada triwulan I, 5, 05 persen pada triwulan II dan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) baru meliris angka semakin menurun pada triwulan III 5, 02 persen.

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan gejala ini menandakan Indonesia sedang menghadapi masa sulit, baik karena tekanan ekonomi global maupun kurang tenaga untuk mendongkrak perekonomian  domestik. Indonesia menghadapi risko resesi ekonomi.

Peneliti INDEF Abdul Manap Pulungan mengungkapkan terdapat beberapa sumber gejolak ekonomi global seperti perdagangan, energi, perlambatan ekonomi negara maju dan utang, risiko perkembangan politik AS dan risiko dari sektor keuangan.

“Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok menyebabkan prospek ekonomi global melambat. Pada 2018 AS defisit 419 dolar terhadap Tiongkok, sementara pada 2019 hingga Agustus defisit  mencapai 213 miliar. Kedua negara yang bertikai menguasai sekitar  40 persen PDB dunia,” tutur Abdul dalam diskusi dengan awak media, Kamis (7/11/19).

Sementara pertumbuhan ekonomi Tiongkok terus menurun, dari 10 persen pada 2010  hingga 6,2 persen pada kuratal ketiga 2019.  Padahal porsi ekspor Indonesia ke Tiongkok sekitra 15 persen.

Lanjut dia, harga minyak  terus menurun membuat permintaan terhadap sektor energi melambat. Harga minyak dunia jenis WTI dan Brent diprediksi menurun pada 2020 masing-masing 54, 43 dolar AS dan 59, 93 dolar AS per barel. Hal ini pun semakin menyulitkan Indonesia, karena ekspor mengandalkan sawit. 

“Simpul krisis makin dekat dan menjadi tantangan berat untuk Kabinet Indonesia Maju untuk mengakselerasi perekonomian,” kata Abdul.

Tabel memperlihatkan hanya nilai tukar rupiah dan inflasi yang menenuhi target asumsi APBN. (Ilustrasi Tabel Indef).

Dalam kondisi seperti ini, hingga akhir tahun ada beberapa hal yang bisa dipertahankan, di antaranya menjaga konsumsi rumah tangga agar ekonomi tetap bertahan di kisaran 5 persen

“Pemerintah sebaiknya  tidak membuat kebijakan yang mengganggu daya beli masyarakat,” pungkas dia (Irvan Sjafari).

Share This:

You may also like...