Pertanda Positif Udang Vaname Sumbar

Satu lagi komoditas budidaya yang dapat mendongkrak penghasilan masyarakat. Sumbar mulai menyusul provinsi lain yang lebih awal mengembangkan udang vaname.

 

SETELAH sekian bulan diujicobakan di beberapa daerah Sumatera Barat, udang jenis baru menjanjikan prospek bagus. Nama ilmiahnya Litopenaeus vannamei. Sebutan populernya udang vaname. Jenis ini dibudidayakan di air tawar. Tambak yang digunakan bervariasi. Dari kolam tradisional/tanah, kolam semen, kolam bak, hingga tambak ditutup mulsa.

Ujicoba budidaya beberapa waktu lalu membuahkan income yang luar biasa bagi pebudidaya. “Sudah ada yang kita kirim ke Medan. Jumlahnya bisa 15 ton per pengiriman,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar, Yosmeri. Dengan harga Rp60 ribu/kg (tertinggi Rp100 ribu/kg, berdasarkan standardisasi 60 ekor/kg), omzetnya mencapai Rp1 miliar lebih untuk sekali pengiriman.

Dewasa ini, udang vaname banyak dibudidayakan di Sumatera Utara, Lampung, Bengkulu, Banten, pantai utara Jawa Barat, pantai utara dan selatan Jawa Timur, pantai utara dan selatan Jawa Tengah, DIY, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Kalimantan Timur. Harga udang vaname saat ini cukup stabil, khususnya jika sudah mencapai size (≤ 60 udang/kg). Meski begitu, harga ini sangat dipengaruhi kondisi global.

Dibandingkan budidaya di Pulau Jawa, pinggiran pantai Sumbar agak berbeda. Di ranah Minang ini banyak permukiman warga di pinggiran pantai. Tapi, itu bukan kendala. Kita bisa memberdayakan area lain untuk budidaya udang vaname ini. Lagipula untuk itu kita tidak butuh lahan yang luas,” kata Yosmeri.

Sejauh ini, baru sekitar 15 hektare akumulatif lahan yang dimanfaatkan untuk melakukan budidaya udang vaname di Sumbar. Selanjutnya, pihak Pemprov Sumbar melalui DKP Sumbar, segera merealisasikan percontohan tambak budidaya udang vaname skala kecil di Pesisir Selatan, Padang, Pariamana, Agam, dan Pasaman Barat. Upaya penggairahan dan pengembangan budidaya udang vaname digencarkan mulai tahun depan.

DKP Sumbar bersungguh-sungguh berupaya merangsang masyarakat untuk mau melakukan budidaya udang vaname. “Tidak ada kendala berarti dalam pengembangan udang vaname ini. Kita berharap masyarakat melirik potensi udang vaname ini. Kami, DKP Sumbar, siap memfasilitasi masyarakat terkait hal pembinaan untuk itu,” kata Yosmeri.

Bicara soal kualitas dan permintaan pasar internasional, “Jika tren permintaan induk maupun benih meningkat di tingkat pengguna, artinya kualitas (induk dan benih) yang kita hasilkan sudah baik,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto. Adapun peningkatan kualitas  ini merupakan tugas Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIU2K) Karangasem, Bali.

BPIU2K sendiri adalah satu-satunya broodstock center (pusat indukan) udang vaname nasional yang kinerjanya terus dipantau dengan ketat. “Performa terkait pertumbuhan, ketahanan terhadap penyakit, dan sifat adaptif dengan lingkungan, vaname nusantara saat ini sudah sejajar dengan indukan impor. Tinggal tingkat keseragaman yang akan terus kita tingkatkan hingga mencapai 100 persen, dengan memperketat seleksi benih calon induk,” tutur. Slamet Soebjakto. Kepala BPIU2K Karangasem, Gemi Triastutik, memastikan, “Kami bisa jamin induk dan benih yang keluar telah bebas virus,”.(yyn/ed)

Share This: