PERTAHANKAN IDENTITAS BANGSA SEIRING MODERNISASI

SEPULUH hari larut dalam pagelaran pesta budaya nan semarak, Tanjung Selor, kota di tepian sungai Kayan itu mengukuhkan posisinya sebagai kota yang layak di perhitungkan sebagai destinasi pilihan wisata di Provinsi Kalimantan Utara.

 

ANJUNG SELOR, Kota yang menjadi pusat aktivitas dua pemerintahan itu sepekan terakhir di penghujung bulan Oktober lalu menjadi pusat perhatian publik. Ribuan warga memadati alun-alun kota guna menikmati pesta budaya yang sekaligus perayaan ulang tahun Kabupaten Bulungan ke 54 dan Kota Tanjung Selor ke 224. Satu perayaan untuk dua event hari jadi itu tak hanya menjadi ajang atraksi budaya yang mengokohkan kekerabatan antar tiga suku, Bulungan, Tidung dan Dayak, tetapi di harapkan menjadi event tahunan yang dapat mendulang pariwisata.

Di balik wujud presentasi dan eksebisi kesenian daerah itu memang terkandung maksud ganda. Baik sebagai bentuk syukur atas ditetapkannya Tanjung Selor sebagai ibukota Provinsi Kaltara hasil pemekaran, maupun sebagai bentuk pelestarian tradisi leluhur.Dengan nada merendah, Bupati Bulungan, Budiman Arifin, menyebut, bahwa ia hanya melanjutkan dan mengembangkan apa yang sudah dilakukan senior-senior terdahulu. Khususnya budaya daerah, agar tetap dipertahankan, ditularkan, dan diteruskan oleh generasi muda.

Saat ini, kata Budiman, Kabupaten memang belum berbicara pada tataran angka dan pertumbuhan ekonomi, karena kepedulian yang tengah dikembangkan adalah peningkatan sumber daya manusia (SDM) dan pelestarian budaya sebagai wujud identitas masyarakat. Ihwal budaya daerah yang dimaksud mencakup Tari Jepen dan Gerak Sama, yang di wilayah pedalaman dipersembahkan sebagai tari menyambut tamu; Tari Jepen yaitu tarian untuk berbagai macam acara syukuran; juga aneka karya ukiran khas Bulungan, ukiran Tidung, dan ukiran Dayak. “Kalau pimpinan tidak komit dan turut ber-jepen, tidak ikut memakai baju batik Bultia, saya khawatir ini (khazanah mutiara warisan nenek moyang) akan hilang. Dengan mengentaskan budaya lokal, kita bisa mempertahankan identitas bangsa tanpa kehilangan aspek positif yang disumbangkan oleh modernisasi,” lanjut Budiman.

Ajang kegiatan budaya yang berlangsung sejak 12-22 Oktober itu tersebar di berbagai simpul lokasi di kabupaten ini. Artinya, destinasi wisata sebenarnya cukup tersedia. Tapi, Budiman bersikap realistis dengan memilih ibukota untuk ajang pemusatan kegiatan. Bupati dua periode ini, sejak 2005, menyadari kendala infrastruktur wilayahnya. Soalnya, akses menuju lokasi wisata masih merupakan masalah serius. Lagi pula, obyek wisata diyakini akan berkembang mengikuti kesiapan infrastruktur, baik itu bandara, pelabuhan, maupun topangan dari sektor akomodasi.Itu sebabnya, momentum panggung tahunan pekan budaya yang kaya akan muatan etnik ini dipertahankan sebagai identitas daerah.

Secara geografis, wilayah Provinsi Kaltara sangatlah luas. Ratusan kilometer baru ketemu satu kecamatan.Jadi, perlu biaya yang besar untuk membenahi infrastruktur. Ekonomi Kabupaten Bulungan bertumpu pada pertanian dan pertambangan.Food estate yang telah relatif lama dikembangkan masih berjalan.“Saya mengandalkan food estate tanaman pangan, di samping menegakkan sistem pemerintahan yang bersih dan berwibawa.Kalau pendidikan sudah bagus 12 tahun sampai SMA bebas, yang mahasiswa kita berikan beasiswa ada sekitar 2.000 orang. Ada kerja sama Pemda Bulungan dengan ITB dan UGM kita rencana dengan UI,” ujar Budiman lagi.

Pada tanggal 12 Oktober, hari jadi Kota Tanjung selor dan Kabupaten Bulungan ditetapkan melalui Peraturan Daerah No. 2 Tahun 1991. Saat itu, Malinau, Nunukan dan Tarakan masih bagian dari Kabupaten Bulungan. Kini, ulang tahun Kota Tanjungselor dan Kabupaten Bulungan dirayakan dalam kondisi yang jauh berbeda, lebih baik dan lebih bermartabat. Adapun Bulungan, Malinau, Nunukan dan Tarakan kini berdiri sejajar dan menjadi komponen penting bagi kemajuan pembangunan di Prov. Kalimantan Utara atau Kabupaten Bulungan sebelum pemekaran. Dapat dikatakan, Kabupaten Bulungan telah mengangkat anak-anaknya menjadi kabupaten/kota yang mandiri dan mampu mengurus dirinya sendiri berhasil. Di masa datang, Kabupaten Bulungan diharapkan menjadi contoh dan panutan dalam bidang pembangunan bagi kabupaten yang dilahirkannya.

Pekan budaya sebagai sarana promosi ini akan memudahkan masyarakat atau pelaku usaha untuk mengunjungi destinasi wisata atau melakukan transaksi bisnis di Kabupaten Bulungan atau Kota Tanjung Selor. Memang sudah waktunya kota ini berbenah dan dikemas menjadi kota wisata yang layak dikunjungi. Tinggal bagai mana memaknai konsep City branding atau Destination

branding dan menerjemahkannya kedalam wujud rancang bangun kota yang berkarakter. Sehingga, masyarakat yang pernah mendatangi kota ini pulang ketempat asalnya dengan gugus kenangan yang tidak mudah dilupakan. Kabupaten/kota di mana-mana sudah semestinya mampu mem-brand dirinya.Sektor pariwisata dapat di ibaratkan bisnis makanan yang hampir tak mengenal musim paceklik. Ketika suatu negara atau daerah semakin sulit mengandalkan income-nyadari kegiatan perdagangan, ekspor impor, sumber kekayaan alam atau produktivitas dari penduduknya, ekspose dan kesiapan infrastruktur penunjang pariwisata merupakan alternatif satu-satunya di sektor global yang tidak mungkin habis dimakan waktu. Dan, di hari-hari ini, Kota TanjungSelor/Kabupaten Bulungan tengah menapak kearah itu.?

Share This:

You may also like...