Perspektif Hutan & Kemuliaan Kehidupan

Bicara apa hati nurani anda menyaksikan pose orang utan yang memelas di pinggir jalan Kalimantan, megap-megap terpapar asap, pasrah dan berharap pertolongan? Hutan, habitat alami dan penyokong kehidupan seluruh organisme, sirna dilanyau api—akibat perilaku rakus, arogan dan biadab.

Secara global, hutan dikenal luas sebagai paru-paru dunia. Bahkan pelajar SMP pun rasanya paham ini. Fungsi paru-paru hutan tercipta berkat peran kodratinya, yakni menyerap karbon dioksida di udara (yang berbahaya) dan melepaskan oksigen (yang sangat bermanfaat) bagi keberlangsungan seluruh makhluk hidup. Di mana-mana hutan dapat ditemukan; baik di daerah tropis maupun daerah beriklim dingin, baik di dataran rendah maupun di pegunungan, baik di pulau kecil maupun di benua besar.

Di Indonesia luas total hutannya sekitar 122 juta hektare. Tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Irian. Sedangkan Pulau Jawa hanya memiliki sekitar 3 juta ha, terdiri dari 55% hutan produksi dan 45% hutan lindung. Umumnya (89 juta ha) jenis hutan hujan tropis. Hutan jenis ini tidak menggugurkan daun, liananya berkayu, pohon-pohonnya lurus dapat mencapai 30 meter.

Keanekaragaman hayati yang dikandungnya hampir 1.383 spesies, jauh lebih kaya dibanding khazanah spesies hayati di hutan Amazone Brasil. Di bumi Indonesia secara keseluruhan, meski hamparan daratannya hanya 1,3% dari luas daratan bumi, kekayaan hayatinya mencapai 11% total spesies tumbuhan, 10% dari total spesies mamalia, dan 16% dari total spesies burung di dunia. Sebuah kelimpahruahan komposisi yang sulit ditandingi negara mana pun.

evakuasi kami

Sekat Hukum Sia-sia

Sebagai kesatuan ekosistem, hutan adalah hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan (UU No. 41/1999).

Pemanfaatan dan perlindungan hutan di Indonesia diatur dalam UUD 45, UU No. 5/1990, UU No. 23/1997, UU No. 41/1999, PP No. 28/1985 dan beberapa keputusan Menteri Kehutanan serta Dirjen PHPA dan Dirjen Pengusahaan Hutan.

Hutan menempati ruang dalam bumi yang terdiri dari komponen tanah, hidrologi, udara atau atmosfer, iklim yang dinamakan lahan. Karenanya, negara mengatur pengelompokan hutan ke dalam enam status dalam hubungannya dengan manusia sebagai pemetik manfaat. Hutan lindung adalah hutan yang dibina dan dipertahankan dengan penutupan vegetasi secara tetap untuk kepentingan hidroorologi, yaitu mengatur tata air, mencegah banjir dan erosi, memelihara keawetan dan kesuburan tanah, baik dalam kawasan hutan bersangkutan maupun kawasan yang dipengaruhi di sekitarnya; Hutan suaka alam adalah hutan yang perlu dipertahankan dan dibina keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, tipe ekosistem, gejala
dan keunikan alam bagi kepentingan plasma nutfah dan pengetahuan, wisata dan lingkungan; Hutan wisata adalah hutan yang dipertahankan dengan maksud untuk mengembangkan pendidikan, rekreasi dan olahraga;

Hutan konservasi adalah hutan yang dipertahankan untuk keberadaan keanekaragaman jenis plasma nutfah dan tempat hidup dan kehidupan satwa tertentu; Hutan produksi terbatas adalah kawasan hutan untuk menghasilkan kayu hutan yang hanya dapat dieksploitasi secara terbatas dengan cara tebang pilih serta; Hutan produksi adalah kawasan hutan yang diperuntukkan sebagai kebutuhan perluasan, pengembangan wilayah misalnya transmigrasi pertanian dan perkebunan, industri dan pemukiman dan lain-lain.

Menurut survei 1999, laju deforestrasi rata-rata sepanjang 1985-1997 mencapai 1,7 juta ha. Selama periode tersebut, Sulawesi, Sumatera, dan Kalimantan mengalami deforestrasi terbesar. Secara keseluruhan, kedua daerah ini kehilangan lebih dari 20 persen tutupan hutannya. Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 persen. Di Kalimantan Selatan, luas kawasan berhutan hanya tersisa sepertiga dari total 1,83 juta ha, akibat penyusutan seluas 51.000 ha/ tahun atau 140 ha/hari yang terus menerus.

Share This: