Perolehan PDB ala Robinson Crusoe

Ekses ekonomi gegara pandemi Covid-19 lebih buruk dibanding resesi ekonomi 1998. (Potensi) resesi 2020 melanda seluruh dunia, sehingga pemulihannya juga lebih kompleks. Tapi masih ada peluang untuk selamat, asalkan tim ekonomi rezim punya track record membalikkan situasi.

SINYAL resesi mulai harus diwaspadai melihat apa yang terjadi di Singapura (dan Korea Selatan). Pertumbuhan ekonomi Singapura pada kuartal I-2020 mengalami kontraksi hingga 2,2% year on year (yoy). Lalu, pada kuartal II tahun ini, terperosok dan mengalami kontraksi hingga 41,2%. Ekonom Senior Indef, Faisal Basri, menilai Indonesia tak akan terjun ke jurang resesi seperti Singapura, “Apabila ekonomi tumbuh positif pada triwulan III. Catatannya, Covid-19 bisa segera dijinakkan,” ujarnya.

Ekonomi Singapura bisa amblas  parah karena peranan ekspor barang dan jasa dalam produk domestik bruto (PDB) mereka sangat tinggi; bahkan juah lebih besar dari PDB-nya, yaitu 174%. Sedangkan tumpuan Indonesia adalah belanja pemerintah dan menahan laju penurunan konsumsi rumah tangga—penopang utama perekonomian dengan sumbangan dalam PDB sebesar 57%.

Per definisi, resesi tak lain dari penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang tersebar di seluruh sektor, yang berlangsung selama beberapa bulan. Indikatornya biasanya terlihat dalam PDB riil negatif, kontraksi pendapatan riil, menciutnya lapangan kerja, kemerosotan produksi industri, dan terpangkasnya penjualan grosir-eceran. Pendek kata, ekonomi menghadapi kesulitan. Orang-orang kehilangan pekerjaan. Perusahaan meminimalkan produksi. Penjualan dan output ekonomi negara secara keseluruhan menurun.

Kabar buruk bagi tenaga kerja menggema. PHK di sektor formal, yang dilakukan oleh perusahaan, seiring dengan tersungkurnya aktivitas pekerja nonformal. Sebagian besar pekerja nonformal yang terdampak itu mau tak mau menurunkan pengeluaran konsumsi. “Mereka turun kelas dari sebelumnya masyarakat berpenghasilan menengah menjadi penduduk rentan miskin, bahkan turun lagi menjadi masyarakat prasejahtera,” ujar ekonom Bank Permata, Josua Pardede.

Bagaimanapun, Indonesia harus bersiap mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi yang lebih dalam, jika terjadi gelombang kedua Covid-19—dan tanda-tanda mencemaskan itu makin kasat mata. Kontraksi ekonomi akan berimplikasi terhadap proses pemulihan yang semakin sulit dan niscaya makan waktu lama. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), dalam laporan Proyeksi Ekonomi Edisi Juni 2020, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia -2,8 persen, dengan asumsi lonjakan kasus pandemi Covid-19 telah terjadi pada pertengahan April.

Risiko gelombang kedua Covid-19 di hari-hari ini menghantui hampir semua negara. Pada kuartal II (April-Juni 2020), pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan antara -3,5% dan -5,1%, dengan titik tengah di -4,3%. Kalau tren itu berlanjut negatif di kuartal ketiga, kita masuk resesi, dengan potensi munculnya social unrest yang sangat besar. Pemerintah sendiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini 2,3% hingga -0,4%. Namun, paling banter ekonomi hanya tumbuh sekitar 1%.

Pemerintah, ujar Direktur Riset Ekonom Center of Reform on Economics, Piter Abdullah, hanya bisa menahan agar kontraksi ekonomi tidak semakin dalam. Caranya? Beri stimulus moneter bagi dunia usaha dan bantuan sosial (bansos) bagi masyarakat melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). “Juga melalui pelonggaran PSBB (agar ekonomi kembali bergerak),” kata dia.

Bagi Rizal Ramli, Menko Ekuin era Gus Dur yang banyak prediksinya akurat, ekonomi Indonesia sudah positif masuk jurang resesi. Sebab, meski belum keluar data pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020, data-data penunjang sudah menunjukkan penurunan yang sangat tajam. “Ini kita sudah resesi. Daya beli nggak ada, pengangguran naik, krisis kesehatan, ya resesi-lah. Resesi itu definisi (sederhananya) pertumbuhannya negatif. Kuartal ini negatif, kuartal depan juga bakal negatif,” ujarnya dalam sebuah diskusi virtual.

“Apakah kita bisa keluar dari krisis ini? Mr Kepret itu yakin bisa. Wong waktu saya masuk dulu bisa, dari -3%, nggak susah-susah amat. Tapi ada nggak (personel di) kabinet sekarang yang punya track record membalikkan situasi, dari ekonomi biasa, digenjot jadi tinggi atau dari negatif jadi positif? Mohon maaf, nggak ada,” kata Rizal.

Senada dengan Rizal, Menko Ekuin era Megawati, Kwin Kian Gie, menyebut resesi 2020 ini adalah resesi yang terjadi sebagai hukum alam yang tidak bisa dihindarkan. Musababnya, ujar Kwik, sistem ekonomi kita yang menganut sistem kapitalisme—yang didasarkan pada mekanisme pasar, dengan peraturan dan pengaturan oleh pemerintah seperlunya untuk menjaga persaingan yang sehat, guna memperoleh kesejahteraan dalam keadilan.

Maka, yang bisa dilakukan oleh pemerintah ialah berbenah ke dalam. Sebutlah itu pemberantasan korupsi; perampingan birokrasi agar birokrasi lebih efisien dan lebih efektif; memangkas berbagai peraturan yang tidak diperlukan dan sejenisnya. “Kalau pemerintah menjadi gugup, mengeluarkan berbagai paket-paket kebijakan yang sering saling bertentangan, krisisnya akan menjadi semakin parah,” ujar Kwik.

Ihwal sulit dan problematiknya situasi yang dihadapi saat ini, Kwik merujuk pada pembukaan bab tentang business cycle dalam buku N. Gregory Mankiw, Macro Economics. Di situ dikisahkan Robinson Crusoe terdampar kapalnya pada sebuah pulau. Dia hidup di daratan yang langsung berhubungan dengan laut. Andai pulau itu satu negara, rakyatnya hanya terdiri dari satu orang, yaitu Robinson Crusoe.

Dia mulai membangun gubuk, membuat jala untuk menangkap ikan. Ikan yang ditangkapnya itu adalah PDB dari ‘negara’-nya Crusoe. Pada suatu hari datang badai. Dia tidak bisa menghindari, juga tidak bisa menentangnya. Yang dia bisa lakukan hanya menyelematkan diri. Dia tidak bisa lagi menangkap ikan (menambah PDB-nya).

Kondisi Robinson Crusoe ibarat satu negara di titik terdalam kurva surut ekonomi. Dalam hal ini, sruktur negaranya disebut relative capital scarcity (jumlah angkatan kerja lebih besar dibandingkan dengan total modal). Pada kondisi macam ini, dia tak boleh gugup. Kepanikannya akan membuatnya terseret oleh badai dan mati. Yang pasti, Crusoe musykil bisa menangkap ikan di tengah badai.●(dd)

Share This: