Perhutani Akan Kembangkan Energi Terbarukan

Untuk mengantisipasi kebutuhan energi pada masa mendatang, Perhutani kian menseriusi pengembangan energi terbarukan.

Perum Perhutani tengah bersiap untuk mandiri energi melalui pengembangan energi listrik terbaharukan melalui energi air, matahari, dan biomassa, yang diperkirakan dapat mulai dibangun pada medio 2014–2015.

Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto mengaku proyek tersebut belum akan mulai dibangun pada tahun ini, tetapi dia optimistis proses feasibility study dapat mulai dilakukan pada akhir tahun ini setelah pendataan potensi selesai.

“Ini rencana jangka panjang karena juga membutuhkan investasi yang cukup besar. Rencananya kami akan usahakan agar energi ini dipakai untuk Perhutani sendiri supaya kita tidak perlu lagi bergantung pada PLN dan minyak bumi,” ujarnya.

Lebih jauh Bambang mengatakan, apabila energi yang dihasilkan dapat melebihi kapasitas kebutuhan seluruh lini bisnis Perhutani, maka kelebihan energi rencananya akan disalurkan bagi kebutuhan masyarakat sekitar ataupun dijual kepada PLN.

Bambang menilai hal ini menjadi krusial mengingat tingginya kebutuhan energi di Indonesia yang belum dapat dipenuhi oleh PLN. Belum lagi persoalan energi tidak terbaharukan seperti minyak bumi dan batu bara yang dapat habis, belum termasuk persoalan emisi gas buang yang disisakan.

Dia melanjutkan, pengelola energi terbarukan tersebut nantinya bukan Perhutani secara langsung karena Perum ingin fokus pada pengembangan bisnis utama berupa produk hutan baik kayu maupun non-kayu. Nantinya pengelolaan energi tersebut akan dilakukan oleh pihak ketiga.

Meski belum jelas siapa yang akan mengelola, karena Perhutani belum melakukan pendandatanganan nota kesepahaman, tetapi Bambang mengaku lebih memilih untuk bekerja sama dengan BUMN. Adapun salah satu perusahaan yang dilirik Perhutani adalah PT Indah Karya.

Bambang merinci, Indah karya dapat menjadi rekanan dalam pembangunan energi terbarukan tenaga air berupa microhydro. Dia memperkirakan untuk pembangunan microhydro yang menghasilkan 1 megawatt, akan dibutuhkan investasi sekitar Rp 20 miliar–Rp 30 miliar.

Sejauh ini, sebelum dilakukan inventarisasi potensi energi terbaharukan dengan seksama, potensi utama Perhutani untuk membangun energi microhydro adalah keberadaan 122 air terjun dan 1.167 mata air alami di wilayahnya yang berada di Pulau Jawa saja.

Sementara, tambah Bambang, untuk pengembangan energi biomassa akan ditunjang melalui produksi pelet kayu yang berasal dari limbah produksi industri kayu, salah satunya limbah yang berasal dari pabrik plywood yang rencananya akan mulai beroperasi kuartal III/ 2013.

Wood pellet saat ini sedang kerja sama dengan perusahaan asal Korea, di Semarang seluas 500 hektare. Ini progress berikutnya kerja sama, jadi kami masih lihat investasinya berapa dan Perhutani dapat apa, masayarakat dapat apa. Tapi kalau perhitungannya biomass ke energi kebutuhan sekitar Rp25 miliar per megawatt,” jelasnya.

Mengenai kerja sama ini dia menegaskan Perhutani tidak menjadi pihak yang menghasilkan energi secara langsung, melainkan hanya menjadi penyedia wood pellet saja.(yon)

Share This:

You may also like...