Perekonomian Venezuela Runtuh

Rakyat meninggalkan Venezuela saat kondisi politik, ekonomi, dan HAM memburuk. Badan pengungsi PBB melaporkan sekitar 3,7 juta orang telah hengkang. Sebagian besar menuju negara-negara Kolombia, Ekuador, Peru, Brasil dan Karibia.

TAK kepalang tanggung. Venezuela memikul inflasi yang benar-benar nyaris selangit. IMF memperkirakan angkanya mencapai 10 juta persen tahun ini. Tapi tak berhenti sampai di situ. Musibah nasional negeri Nicolás Maduro itu juga kekurangan makanan dan obat-obatan. Alhasil, krisis kemanusiaan besar-besaran dengan proporsi yang menyolok jadi sedemikian kasat mata.

Situasi itu sangat mengerikan di negara yang dulu menjadi negara terkaya di Amerika Latin. Di mana-mana orang-orang menyerah menggunakan mata uang yang didevaluasi. Nulai mata uang yang anjlok tajam praktis menjadi kertas tak bernilai. Karena itu, mereka kini beralih dan memilih cara barter, sebuah praktik ekonomi masyarakat di awal peradaban. Barang ditukar dengan jasa, untuk bertahan hidup.

Nelayan di pasar lokal di Negara Bagian Vargas menukar ikan hasil tangkapan mereka dengan makanan. Nelayan Roger Rodriguez mengutarakan, “Kami menerima bahan-bahan pangan seperti beras, terigu dan gula, karena orang tidak punya uang tunai sama sekali. Sebagian pelanggannya menukarkan sekotak makanan yang disediakan oleh pemerintah, yang berisi sedikit protein hewani, dengan ikan hasil tangkapannya. “Bagaimana cara kami melakukan ini? Kilogram ini (ditukar) dengan kilogram itu. Ya. Begitu saja,” ujarnya.

Seringnya listrik mati membuat kulkas tidak berfungsi dengan baik. Mau tak mau, para nelayan harus menjual hasil tangkapannya secepat mungkin. Kalau tidak, ikan-ikan itu akan busuk. Itu berarti jerih payah melaut pada hari itu sia-sia belaka. Nelayan lainnya, Roy Zabala, menyebut, “Tentang apa yang bisa kami dapatkan, segalanya tergantung pada jenis ikan. Anda bisa membeli satu kilogram ikan termahal jika ditukar dengan dua kilogram beras.”

Selain pasar terbuka, masyarakat Venezuela menggunakan media sosial untuk menukarkan barang seperti produk sanitasi pribadi dan obat-obatan. Kementerian Pertanian Venezuela mempromosikan bisnis semacam ini. Maria Garcia, dari Institut Penelitian Pertanian, mengatakan, “Petani-petani dari seluruh negeri datang untuk menukarkan benih-benih tanaman mereka dengan produk-produk lain.” Pakar ekonomi mengatakan, jenis perdagangan barter seperti jaman kuno itu merupakan pertanda yang jelas bahwa ekonomi telah runtuh.

Rakyat meninggalkan Venezuela saat kondisi politik, ekonomi, dan HAM memburuk. Badan pengungsi PBB melaporkan sekitar 3,7 juta orang telah meninggalkan negara itu. Sebagian besar pergi ke negara-negara Kolombia, Ekuador, Peru, Brasil dan Karibia. Pada akhir tahun lalu, tak kurang dari 460.000 warga Venezuela secara resmi mencari suaka. Mengingat kondisi mengerikan di Tanah Air, menurut juru bicara UNHCR, Liz Throssell, mayoritas dari jutaan orang yang telah pergi itu jelas membutuhkan perlindungan internasional bagi pengungsi.\

Kepada VOA Throssell mengatakan, sejauh ini pengungsi Venezuela tidak dideportasi. Namun, Throssell memperingatkan, hal itu mungkin berubah sewaktu lebih banyak orang melarikan diri dan beban pengungsi makin memberatkan negara penampung.●(dd)

Share This:

You may also like...