Perbaiki Defisit Transaksi Berjalan

Ketahanan eksternal Indonesia perlu ditingkatkan di tengah situasi ketidakpastian yang berpotensi terjadinya resesi global. Bank Dunia sudah memberikan peringatan sejak empat tahun silam.

Setelah McKinsey memberikan peringatan soal ancaman resesi global kepada negara-negara Asia, termasuk Indonesia, kini hal serupa datang dari Bank Dunia. Di tengah  risiko ekonomi dunia yang semakin meningkat, Bank Dunia mewanti-wanti agar kita memperkuat ketahanan eksternal melalui perbaikan transaksi berjalan dan aliran portofolio.

Nasehat Bank Dunia itu disampaikan Rodrigo Chavez, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, usai berjumpa dengan Presiden Joko Widodo. “Kondisi ekonomi saat ini sedang melemah, risiko resesi pada ekonomi global meningkat. Cara yang paling baik adalah memperbaiki transaksi berjalan, juga memperbaiki aliran portofolio,” kata Rodrigo, di Jakarta.

Nasehat itu diberikan bukan tanpa alasan. Berdasar data Bank Indonesia dalam Laporan Kebijakan Moneter, defisit transaksi berjalan (current account deficit atau CAD) pada kuartal II 2019 sebesar USD8,4 miliar, atau 3% dari produk domestik bruto (PDB). Ini merupakan ambang batas maksimal CAD sesuai konsensus internasional. Pada tahun lalui, CAD Indonesia mencapai USD31 miliar atau 2,98% terhadap PDB.

Peningkatan CAD dipengaruhi oleh defisit neraca pendapatan primer yang membesar didorong oleh faktor musiman peningkatan kebutuhan repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri.

Selain itu, kinerja ekspor nonmigas juga menurun sejalan dampak perekonomian dunia yang melambat dan harga komoditas ekspor Indonesia yang menurun.

Defisit neraca perdagangan migas juga meningkat, seiring dengan kenaikan rerata harga minyak global dan peningkatan permintaan musiman impor migas terkait hari raya Idulfitri dan libur sekolah.

Laporan yang sama menyebutkan melebarnya CAD juga dipengaruhi oleh meningkatnya defisit neraca jasa yang dipengaruhi oleh menurunnya surplus jasa perjalanan, di tengah membaiknya defisit jasa transportasi terutama jasa pengangkutan.

Sekadar informasi, CAD dan defisit anggaran merupakan dua indikator utama dalam mengukur kesehatan ekonomi suatu negara.  Transaksi berjalan berisikan arus devisa dari ekspor-impor barang dan jasa. Devisa ini lebih bersifat tahan lama dibanding transaksi modal dan finansial yang didominasi oleh investasi portofolio di sektor keuangan. Oleh karenanya, menjadi faktor penting dalam stabilitas nilai tukar mata uang. Sementara batas defisit anggaran diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Pasal 12 Ayat (3) Umenyebutkan bahwa defisit anggaran dibatasi maksimal 3% dari  PDB.

BI dalam rilis persnya mengatakan, peningkatan defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal II 2019 dipengaruhi perilaku musiman repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri, serta perekonomian global yang kurang menguntungkan.  Perlambatan perekonomian global membuat harga komoditas merosot.

Sebenarnya, CAD bukan barang baru bagi perekonomian Indonesia.. Sejak 2011, Indonesia sudah akrab dengan CAD dimana puncaknya terjadi pada kuartal II-2014. Saat itu,  defisit mencapai 4,26% dari PDB.

Bank Dunia pun sebelumnya telah membuat peringatan yang sama. Pada 2015, mereka  menyarankan agar kita memperbaiki masalah defisit transaksi berjalan.
Indonesia dinilai terjebak dalam CAD karena tiga faktor. Pertama ekonomi yang terus tumbuh sehingga ada tekanan impor. Kedua, investasi naik tetapi kemampuan pembiayaan domestik begitu-begitu saja. Ketiga, ekspor terpukul akibat larangan ekspor mineral mentah yang diterapkan sejak 2014, sesuai amanat UU Mineral dan Batu Bara.

Secara umum, negara-negara yang dibebani defisit transaksi berjalan sangat rentan pada aliran modal keluar (capital outflows) terutama saat terjadi situasi ketidakpastian atau  guncangan perekonomian. Ambil contoh, saat The Fed dipimpin Ben Bernanke yang mengumumkan bahwa bank sentral AS sedang mempertimbangkan untuk mengurangi program quantitative easing yang berjumlah besar. Hal itu memicu ketidakjelasan dan volatilitas global yang sangat besar dimana Indonesia terkena imbas negatif. Peringatan dari Bank Dunia terkait perbaikan CAD perlu mendapat perhatian bersama. Apalagi kondisi global yang penuh ketidakpastian sebagai dampak perang dagang AS-China. Peningkatan ketahanan eksternal dengan mendorong peningkatan modal asing dan sekaligus mengurangi impor menjadi pilihan paling realistis. (Kur).

Share This: