Perang Dagang AS-China Berlanjut, Ekspor Global Terpukul

Menteri Perdagangan Enggartiasto -Foto: Nusantara News

JAKARTA-—Semakin tingginya perang dagang antara Amerika Serikat dengan China berdampak pada lesunya kinerja ekspor global. Akibatnya secara tidak langsung akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global.

Demikian antara lain diungkapkan Menteri Perdagangan Enggartiasto kepada wartawan di Gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (12/6).

Enggar menyitir rilis dari World Trade Organisation (WTO) bahwa pertumbuhan ekonomi global bakal melambat dan tercatat telah mengalami penurunan sejak tiga tahun lalu.

“Dari proyeksi WTO, pertumbuhan ekonomi global tahun ini bakal menyentuh 2,6 persen atau anjlok jika dibandingkan pada 2017 sebesar 4 persen,” kata Enggar,

Lanju dia sementara tahun 2018 masih 3,6 persen. Artinya, tidak ada satu pun negara yang mengatakan ekspornya meningkat saat ini.

“Perang dagang berimbas terhadap melorotnya ekspor perusahaan teknologi asal China, Huawei. Ekspor yang turun tersebut disebabkan adanya pelarangan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap komponen yang digunakan sebagai produksi dari berbagai negara termasuk Amerika Serikat. Sebab, industri komponen tersebut juga ada yang diproduksi di Amerika,” papar Enggar mencontohkan.

Jikalau harga komponen tersebut naik, hal itu bakal memicu inflasi dan daya beli masyarakat akan terganggu. Sehingga dia memastikan, efek perang dagang apabila tensinya tidak menurun bakal terus mempengaruhi kinerja ekspor seluruh negara di dunia. Indonesia akan terus menggenjot peningkatan ekspor dengan membuka pasar baru.

“Seluruh perjanjian dagang dengan negara-negara potensial dan tidak terlibat langsung dengan perang dagang bakal kita percepat,” imbuh Enggar lagi.

Dengan kondisi yang serba tidak pasti, pemerintah Indonesia akan terus menjaga pasar lama sambil terus mempercepat sejumlah perjanjian kerja sama dengan negara pasar baru atau non tradisional. Negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Malaysia sangat agresif dalam membuka pasar baru sehingga Indonesia perlu bergerak cepat agar tidak tertinggal.

“Adanya perang dagang secara tidak langsung menciptakan krisis kepercayaan atas sistem perdagangan secara multilateral. Sehingga, hampir seluruh negara global menjalankan sikap proteksi terhadap produk impor ke negaranya,” ujar Enggar.

Share This:

You may also like...