Perahu Kemanusiaan

TRAGEDI manusia-perahu adalah warta kelam tentang luka peradaban. Mereka berjejalan di kapal tradisional dalam jumlah naudzubillah. Hampir tanpa bekal. Melintas lautan, menyabung nyawa demi (harapan) hidup yang manusiawi. Itu yang dialami warga Vietnam,

Bangladesh, dan muslim Myanmar. Mereka terzalimi rezim penguasa di negeri sendiri. Diperlakukan bak makhluk yang (keberadaannya) tak dikehendaki, seolah sampah.

 

Perilaku barbar terhadap muslim Asia tak hanya menyangkut derita 1,7 juta Rohingya di Arakan, Myanmar (populasi 43 juta); tapi juga 1,8 juta Pattani, Thailand (65 juta), 5-7 juta

Moro di Filipina (67 juta), 8,5 juta Uighur di Xinjiang, Cina (1,3 miliar), dan 6% muslim Cham di Kamboja di bawah bejatnya komunis Khmer Merah. Terhadap muslim Rohingya, seorang wanita Arakan merintih, “Anak-anak kami dibakar, perempuan kami diperkosa dan dibunuh, kami diusir; tapi semua diam”. Tercatat 15 ribu tewas, 30 ribu dinyatakan hilang, 5 ribu lainnya ditahan, 21 masjid dibakar. Puluhan ribu menderita kelaparan karena pasokan pangan diblokade. Pelakunya kafir Buddha dan pasukan gabungan tentara Burma. Parahnya lagi, UU Myanmar 1982 tak mengakui mereka sebagai warga negara. Kisah kehidupan warga di Myanmar rukun penuh toleransi yang dicerminkan Masjid Jami dan Pagoda Sule yang ratusan tahun berdampingan di kawasan Sule, Yangon kini jadi simbol nihil makna.

 

Atas eksodus 300 ribuan jiwa Rohingya, pihak Bangladesh, Thailand, Malaysia, bahkan Indonesia menolak. Hingga kini, 1.346 imigran etnis Rohingya dan Bangladesh diselamatkan nelayan Aceh, dari total 11.940 di seluruh Indonesia setelah 3 bulan mereka terkatung-katung di laut lepas. Aceh tampil dengan keluhuran adab. “Sesama Muslim bersaudara. Nestapa dan kepiluan mereka juga bagian dari kehidupan kita,” kata Gubernur Aceh Zaini Abdullah, medio Mei. Kepedulian dan spontanitas masyarakat Aceh pun diapresiasi Harian Yeni Safak (17/5), sebuah media di Turki. Tatkala dunia bisu-tuli-bebal, Sol-idaritas ASEAN dan Asia-Afrika bahkan PBB sejatinya tak bermanfaat; budi mulia warga Aceh adalah perahu kemanusiaan. Mungkin ini dampak kontemplatif gempa 8,9 SR plus tsunami dahsyat 26 Desember 2004 yang menghabisi 200 ribu jiwa Aceh yang tercerahkan, rausyan fikr. Mungkin Zaini Abdullah terinspirasi anggunnya jiwa Teuku Markam— saudagar Aceh, orang terkaya Indonesia di masanya penyumbang 28 kg dari 38 kg emas yang nangkring di puncak tugu Monas, Jakarta. Wallahu a’lam bishshawab.

 

Salam,

Irsyad Muchtar

Share This: