Penyatuan Pasar Gula Nasional Membahayakan Pabrik Gula Tebu

Ilustrasi Pabrik Gula Tebu–Foto: Istimewa/Youtube.

YOGYAKARTA— Rencana pemerintah menyatukan Gula Kristal Rafinasi (GKR) dan Gula Kristal Putih (GKP) dinilai bakal mematikan pabrik gula tebu nasional.  Penyatuan pasar gula nasional tersebut memberikan dampak pada penghasil gula tebu Indonesia.

Demikian antara lain diungkapkan Direktur Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang juga Ketua Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) Didik Prasetyo  dalam kongres ke-12 Ikagi di Auditorium LPP Yogyakarta, Jumat (13/9/19).

“Penyatuan gula rafinasi dan gula konsumsi ini perlu disikapi pabrik gula berbasis tebu karena dampaknya bisa menurunkan harga. Dengan SPT 51 ribu per kuintal harga pokok bisa Rp 9.800 kalau raw sugar bisa Rp 7.500. Kalau disatukan pasti orang mencari lebih murah. Misalnya saja dijual Rp 8.000 saja untuk raw sugar untung tapi kami di gula tebu buntung,” ujar Didik  kepada wartawan di sela kongres.

Didik mengatakan, imbas penyatuan juga sampai pada petani tebu yang bakal semakin merugi. Untuk itu dia memintapara pengusaha pabrik gula tebu melakukan penyampaian aspirasi pada pemerintah terkait wacana penyatuan.

Pemerintah harus turun tangan, petani tebu diminta berpindah ke komoditi lain atau tetap di tebu. Apakah pemerintah konsern pada petani tebu atau tidak. Isu GKR dan GKP jika dilaksanakan ini maka itu (pabrik gulung tikar) bisa terjadi. Petani dan pabrik gula berbasis tebu akan terdampak,” ingat Didik.

Dalam kongres tersebut juga dibahas penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) produk gula tanah air yang maksimum 200 yang rentan rembesan GKR seperti yang selama ini terjadi. Ikagi pun meminta pemerintah menjelaskan lebih detail neraca kebutuhan gula nasional secara lebih detail dan rinci.

Selain membahas isu-isu krusial, Kongres Ikagi juga mengagendakan pemilihan pengurus baru periode 2019-2022.

Share This: