Peneliti Sebut Malnutrisi Ancaman bagi Bonus Demografi

Ilustrasi-Foto:Starberita.

JAKARTA—- Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengungkapkan  malnutrisi masih menjadi salah satu ancaman bagi anak Indonesia.  Itu artinya bila tidak  diatasi maka    malnutrisi  mengancam potensi bonus demografi yang akan dituai Indonesia.

“Untuk itu permasalahan yang satu ini harus diselesaikan dan diatasi mulai sejak anak berada di dalam kandungan hingga pemenuhan gizi pada saat pertumbuhannya,”  ujar Ilman dalam keterangan tertulisnya, Selasa (12/2/2019).

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 2013 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, menyebutkan kasus malnutrisi pada anak seperti stunting (kerdil) dan wasting (kurus) masih berada dalam kondisi kronis dan akut.

Dua kasus ini menimpa 37,2% dan 12,1% balita di Indonesia atau lebih dari sembilan juta balita atau  sama dengan sembilan juta balita.  Sementara pada 2007, angka stunting berada pada 36,8% dan wasting berada pada 13,6%.

Pada saat bersamaan, kasus kelebihan nutrisi seperti obesitas di penduduk dewasa Indonesia juga mengalami peningkatan dari 13,9% (2007) ke 19,7% (2013) untuk laki-laki dan 14,8% (2007) ke 32,9% (2013) untuk perempuan. Adanya kedua fenomena kekurangan dan kelebihan nutrisi yang terjadi pada suatu populasi seperti yang terjadi di Indonesia kemudian diistilahkan sebagai malnutrisi ganda.

Berbagai studi membuktikan bahwa kekurangan nutrisi yang terjadi saat balita berhubungan dengan peluang seseorang tersebut menjadi kelebihan nutrisi saat dewasa. Mengutip contoh dari Bank Dunia, seorang ibu hamil dari keluarga prasejahtera tidak akan mampu memberikan nutrisi yang cukup bagi bayi yang sedang dikandung.

“Di dalam kandungan, tubuh bayi akan ”terprogram” untuk bertahan hidup dengan kondisi gizi kurang. Bayi yang dikandung pun akhirnya akan lahir stunting,” ungkap Ilman.

Anak yang lahir stunting acap kali dianggap sebagai suatu hal yang normal dan dikaitkan dengan peran genetik orang tua. Sehingga kasus ini dan kasus malnutrisi pada umumnya dianggap hal yang wajar dan cenderung diabaikan.

Padahal  stunting tidak hanya memengaruhi kondisi fisik tapi juga perkembangan otak dan dalam jangka panjang berpengaruh pada menurunnya produktivitas. Ketika tumbuh dewasa, bayi yang awalnya sudah terprogram tersebut akan lebih mudah menjadi obesitas.

“Akhirnya rentan terhadap penyakit degeneratif seperti diabetes, hipertensi, stroke, dan jantung. Penurunan produktivitas dan membengkaknya biaya kesehatan ini yang pada akhirnya akan semakin memberatkan taraf hidup masyarakat,” papar Ilman.

Ilman mengatakan, salah satu yang bisa dilakukan adalah mendorong terwujudnya harga pangan yang terjangkau di seluruh Indonesia. Makanan bernutrisi yang dibutuhkan akan menjadi percuma kalau tidak bisa dijangkau oleh masyarakat. Di sinilah peran harga pangan menjadi penting untuk diperhatikan pemerintah.

Dalam kaidah ilmu ekonomi, menurunkan harga komoditas dapat dicapai dengan meningkatkan jumlah barang yang ada di pasar. Selama ini, pemerintah masih kalang kabut dalam menyediakan data pangan yang benar, terutama beras dan jagung. Kementerian Pertanian selalu bangga dengan predikat surplus yang dicapai pada komoditas tersebut.

“Sayangnya realita di pasar tidak mencerminkan harga yang sesuai sehingga Kementerian Perdagangan membuka keran impor agar harga pangan terjangkau, tentunya atas hasil Rapat Koordinasi di Kemenko Perekonomian yang dihadiri Kementerian terkait dan Bulog,” tutur dia.

Dengan mengandalkan harga sebagai parameter kondisi pasar, permintaan barang akan lebih terukur dengan baik. Dalam mendukung pencapaian hal ini, Bulog perlu diberikan keleluasaan untuk menganalisis kondisi pasar secara independen.

“Bulog selama ini selalu terpaku oleh instruksi Rapat Koordinasi yang cenderung tidak responsif dengan kondisi pasar yang sangat dinamis,” kata Ilman lagi.

Lanjut dia pada waktu yang bersamaan, pemerintah juga perlu mendukung sektor agrikultur dengan terus mendorong produksi dengan biaya produksi yang seefisien mungkin. Selain agar dapat menyajikan harga komoditas lokal yang bersaing dengan komoditas impor, juga agar harga pangan dapat lebih terjangkau bagi masyarakat.

“Salah satu caranya adalah dengan modernisasi teknologi pertanian, peningkatan kesejahteraan petani, dan juga peningkatan serapan benih melalui program kebijakan yang tepat sasaran,” pungkasnya.

 

Share This:

Next Post

PT JMP Mempercepat Pembangunan “Rest Area” di Trans Jawa Sebelum Lebaran 2019

Sel Feb 12 , 2019
JAKARTA—-PT Jasamarga Properti (JMP) saat ini mempercepat pembangunan konstruksi rest area di Jalan Tol Trans Jawa  guna menunjang kenyamanan para pengguna jalan tol. Demikian  diungkapkan Direktur Teknik PT JMP Tita Paulina Purbasari  melalui keterangan tertulisnya yang diterima Peluang di Jakarta, Selasa (12/2/2019). Hingga Februari 2019, PT JMP telah mengoperasikan sedikitnya […]