Peneliti: Rendahnya Produktivitas Pekerja Terkait Penguasaan Bahasa Asing

Ilustrasi buruh pabrik-Foto: Kabupaten Sukabumi.

 

JAKARTA—Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengungkapkan, penyebab rendahnya produktivitas pekerja Indonesia terkait penguasaan bahasa asing. Padahal komunikasi secara verbal maupun non-verbal dalam dunia kerja kini sudah tidak dapat dilepaskan dari bahasa asing.

“Saat ini banyak sekali alat/mesin pabrik yang petunjuk pengoperasiannya pun menggunakan bahasa asing. Ketidakmampuan ini dapat menjadi penghambat bagi para pekerja Indonesia untuk bekerja secara cepat dan efisien,” ujar Imelda dalam siara persnya, Jumat (27/7/2018).

Para pekerja Indonesia akhirnya membutuhkan pelatihan tersendiri. Itu menghabiskan waktu untuk mengoperasikan peralatan atau mesin tersebut. Dampaknya dari hal ini adalah perusahaan akhirnya harus mendatangkan pekerja asing yang memang memiliki kompetensi dalam mengoperasikan alat atau mesin tersebut.

“Kita juga jangan lupa untuk meningkatkan kompetensi diri kita sendiri sebagai pekerja sebelum menyalahkan kehadiran pekerja asing. Kalau kompetensi pekerja Indonesia sudah semakin tinggi dan mampu menduduki posisi-posisi penting, tentu perusahaan tidak perlu susah-susah mendatangkan pekerja asing,” jelas Imelda.

Dia juga menyebutkan selain kemampuan berbahasa asing, kehadiran pekerja asing juga harus dimanfaatkan untuk proses transfer ilmu untuk para pekerja Indonesia.

Imelda juga menyebutkan masalah upah dan pemenuhan hak-hak pekerja. Indonesia sendiri masih dihadapkan pada masalah ketidakmerataan UMR atau UMP yang ditetapkan oleh pemerintah daerah.

“Jika produktivitas tinggi hanya ditunjukan oleh daerah-dearah di Pulau Jawa saja, oleh karena itu sekitar 80% pekerja di Indonesia masih cendrung rendah dalam produktivitas,” tutupnya.

Produktivitas pekerja Indonesia kini berada di peringkat keempat di ASEAN, berada di belakang Singapore, Malaysia dan Thailand.  Seharusnya sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di Asia Tenggara, Indonesia seharusnya bisa memanfaatkan hal tersebut sebagai kekuatan dalam pembangunan (van).

 

Share This:

Next Post

2018: Koperasi Seluruh Jawa Barat RAT Secara Daring

Sab Jul 28 , 2018
KARAWANG—Apa yang dilakukan oleh Koperasi Simpan Pinjam Makmur Mandiri  menerapkan aplikasi Teknologi Informasi Komunikasi dengan video teleconference tampaknya bakal diikuti seluruh koperasi yang ada di Jawa Barat. Hal itu diungkapkan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Iwa Karniwa kepada awak media di sela-sela acara Peringatan HUT Koperasi ke 71 se-Jawa Barat, […]