Peneliti CIPS Sebut Ekspor Beras Bakal Hadapi Tantangan

Ilustrasi beras-Foto: Harian Pagi.

JAKARTA—Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan wacana ekspor beras mempunyai risiko bertentangan dengan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) nomor 1 tahun 2018.  Selain itu ujar Ilman, masih ada tantangan teknis seperti penyesuaian kualitas dengan permintaan di pasar internasional.

“Saat ini, ekspor untuk beras medium masih belum diizinkan, hanya beras premium yang boleh diekspor,” terang Ilman dalam keterangan tertulisnya, Rabu (24/4)  untuk menanggapi wacana beras yang digaungkan pimpinan Bulog Budi Waseso beberapa waktu lalu. 

Pada Januari lalu Budi mengatakan apabila serapan beras mencapai target, maka aka nada surplus sebanyak 300 ribu beras yang potensial untuk diekspor.

“Ketentuan ini sudah diatur di Permendag nomor 1 tahun 2018. Selain itu, kalau mengacu kepada acuan komoditas beras internasional yang dipakai oleh Bank Dunia, jenis-jenis beras yang ada memiliki derajat pecahan beras tertentu yang dijadikan standar dunia,” papar Ilman.

Dikatakannya, apabila Indonesia ingin mengekspor berasnya, harus melakukan penyesuaian terhadap kualitas tersebut atau setidaknya mencari pasar yang mau menyerap jenis beras dengan kualitas yang saat ini mampu diproduksi petani Indonesia. Kedua opsi tersebut tentunya tidak bisa memakan waktu singkat.

Meskipun ekspor surplus beras sebanyak 300.000 ton itu cukup berat untuk dilaksanakan, ambisi untuk mengekspor sepatutnya ditanggapi positif, karena memang hal tersebut dapat membantu meningkatkan cadangan devisa Indonesia.

“Potensi surplus tersebut dapat dimanfaatkan sebagai alat diplomasi pemerintah Indonesia, terutama ke negara-negara yang mengalami bencana atau negara yang memang berpotensi untuk menjadi pasar beras Indonesia di masa depan. Menjadikan beras sebagai instrumen diplomasi adalah hal yang baik dan dapat membuka celah peningkatan hubungan dengan negara-negara tersebut,” pungkas dia.

Share This:

Next Post

Dongkrak Pariwisata, Pemprov Jabar Anggarkan Setengah Triliun pada 2019

Rab Apr 24 , 2019
BANDUNG—-Wajah baru ekonomi Jawa Barat adalah ekonomi pariwisata.  Demikian diungkapkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil usai membuka Travelmart di Kampus Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, Rabu (24/4).  Untuk itu Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan anggaran Rp500 miliar pada tahun anggaran 2019 untuk meningkatkan sektor pariwisata. “Ada 30 titik pariwisata yang akan […]