Pencabutan Subsidi Elpiji 3 Kilogram Akan Memukul Pelaku UKM

Ilustrasi pelaku UKM kuliner mikro-Foto: Irvan Sjafari.

JAKARTA—-Setiap hari Sumiati sibuk melayani pelanggannya di Dapur Omi di sebuah sentra kuliner kecil  di kawasan Cinere. Dengan mengambil margin hanya 30%, Sumiati bisa menjual paket nasi dengan hidangan “chinese food”, mulai nasi ayam goreng mentega, nasi ayam rica-rica, nasi daging lada hitam hingga Puyunghai antara Rp18 ribu hingga Rp20 ribu. Jauh di bawah harga restoran.

Namun sejak kabar beredar bahwa elpiji melon atau ukuran 3kg tidak akan disubsidi lagi, Sumiati menyatakan kecemasannya. Pasalnya membuat pedagang seperti dia akan berkurang keuntungannya. Kalau harus menaikan harga, maka akan tidak kompetitif lagi, pasalnya akan mendekati harga di restoran yang mencapai Rp30 ribu.

“Dalam sebulan saya butuh tiga tabung, kalau naik misalnya sampai Rp15 ribu saja sudah Rp45 ribu per kilogram,” ujar dia kepada Peluang, Kamis (16/1/20).

Hal senada juga diungkapkan Tini Gustini, pengusaha kuliner Kalapa Serudeng dari Bandung. Menurut dia sangat memberatkan bagi pelaku UKM seprti dia , karena akan berdampak perubahan ke harga penjualan produk akan menjadi tinggi.

“Kalau akan menaikan harga, maka akan tidak kompetitif. Kemasan akan dijual dengan harga yang tidak jauh dari kemasan makanan cemilan branded,” ujar dia.

Seperti diketahui pemerintah berencana menerapkan subsidi LPG tiga kilogram secara tertutup pada pertengahan tahun 2020. Subsidi tabung LPG tiga kilogram dicabut dan akan diberikan dengan mekanisme berbeda.

Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Djoko Siswanto menuturkan, selama ini elpiji 3 kilogram  elpiji 3 kgbersubsidi masih bisa dibeli oleh berbagai kalangan. Padahal, penyediaan elpiji tersebut dikhususkan bagi kalangan menengah ke bawah.

Dengan mekanisme baru ini, harga elpiji 3 kg akan naik sesuai keekonomian. Sementara kalangan menengah ke bawah akan menerima dana subsidi untuk membeli elpiji 3 kg. Penyaluran akan dilakukan secara tertutup. 

“Jadi sebetulnya tidak dicabut, dikasih langsung ke masyarakat yang berhak atau tepat sasaran hanya untuk orang miskin,” ujarnya Rabu (15/1/20) tanpa menjelaskan apakah pelaku UKM Mikro itu orang miskin atau tidak.

Itu sebabnya Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingratubun mengkritisi, opsi penyaluran subsidi LPG 3 kg secara tertutup. Hal in bertentangan dengan tekad pemerintah yang ingin menomor satukan UMKM dalam mendukung perekonommian nasional.

“Rencana tersebut bakal menghambat para pelaku UMKM, khususnya pelaku usaha mikro untuk mengembangkan usahanya,” ujar Ikhsan seperti dilansir Bisnis, Rabu (15/1/20) seraya meminta keputusan itu ditunda.

Tanpa subsidi maka harga tabung melon yang dijual akan disesuaikan dengan harga pasar. Jika dihitung harga tabung LPG 12 kg mencapai Rp 139.000, maka per kilogramnya gas mencapai Rp 11.583. Dengan angka tersebut, harga tabung LPG 3 kg bisa mencapai Rp35.000. Ini naik signifikan ketimbang harga saat ini yang berkisar Rp 18.000 sampai Rp21.000 (van).

Share This:

You may also like...