Pemkot Bandung Gandeng Jepang, Siapkan Tenaga Kerja di Era MEA

Ilustrasi Bandung Menjawab-Foto: Humas Kota Bandung.

BANDUNG—-Pemerintah Kota Bandung menggandeng Pemerintah Kota Toyota Jepang untuk meningkatkan kemampuan warga kota Bandung agar bisa memiliki kompetensi dan bersaing dengan tenaga kerja asing di era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Bandung Arief Syaifudin mengatakan, , Kota Bandung memperoleh peluang untuk mengirimkan tenaga kerjanya ke Jepang. 

“Kemarin sudah ada pertemuan dengan SMK dan perguruan tinggi, untuk menyiapkan tenaga kerja ke Jepang. Skill tidak masalah, yang penting bisa berbahasa jepang karena mereka akan mendapat pelatihan di sana,” ujar Arif  pada Bandung Menjawab di Ruang Media Balai Kota Bandung, Kamis (7/11/19).

Lanjut Arief, Kota Yokohama juga membutuhkan 8.000 tenaga kerja dalam bidang industri dan otomotif. Ini merupakan peluang bagi SMK untuk mendapatkan pekerjaan di sana.

Arief mengatakan pihaknya juga sudah berkomunikasi dengan Disnaker Provinsi Jawa Barat, dan mendapatkan informasi bahwa Negara Palau juga membutuhkan tenaga kerja dalam bidang pariwisata dan konstruksi.

“Disnaker akan berupaya seoptimal mungkin dalam menurunkan angka pengangguran,” pungkasnya.

Sebagai catatan Disnaker Kota Bandung memastikan angka pengangguran di Kota Bandung mengalami penurunan. Pada 2018 angka pengangguran tercatat 8,44 persen turun menjadi 8,01 persen pada 2019 ini.

Sementara pada kesempatan terpisah Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti mengatakan salah satu masalah yang dihadapi Indonesia menarik investor asing ialah ketersediaan SDM yang tidak cocok.

Mereka harus mengeluarkan biaya lagi untuk mengadakan trainning agar cocok dengan industri yang mereka jalankan,” ujar Ester dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (7/11/19).

Dia mengatakan sebaiknya suatu daerah yang sudah menjadi daerah industri sudah lebih dulu menyiapkan politeknik  yang sesuai dengan industri itu. Selain itu, tingkat pendidikan Indonesia yang masih didominasi pendidikan SMP ke bawah, ditingkatkan dengan mengoptimalisasi wajib belajar.

Ester mengingatkan masalah pendidikan yang tidak pas dengan kebutuhan tenaga kerja merupakan masalah lama. Padahal anggaran pendidikan saat ini sudah 20 persen (van).

Share This:

You may also like...