PEMILU, SIAPA TAKUT?

Jika sebagian pelaku usaha menganggap Pemilu sebagai ancaman, lain halnya Sales & Marketing Director Wita Tour Rudiana yang justru memandang Pemilu sebagai tahun ppenting yang harus dimanfaatkan dengan baik.
Rudiana yang juga Vice Chairman Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Jakarta Chapter itu menilai momentum Pemilu 2014 bukan merupakan ancaman yang harus dikhawatirkan oleh sektor pariwisata di Indonesia. “Pemilu 2014 bukan ancaman kita, jadi tidak perlu dikhawatirkan,” kata Rudiana.
Di matanya, jika proses Pemilu berjalan lancar justru akan memberikan dampak yang baik bagi industri pariwisata di Tanah Air. Perekonomian akan semakin kondusif memungkinkan sektor pariwisata bertumbuh optimal. Sebaliknya, target menjaring wisatawan bisa pula sulit dicapai apabila pesta demokrasi tidak berjalan lancar dan aman.
Ia sendiri menyatakan optimistis dan tidak akan menganggap proses demokrasi itu sebagai ancaman karena hampir di setiap negara juga pernah mengalaminya. “Memang di tahun Pemilu semua orang meraba-raba, tapi saya optimistis ekonomi kita akan membaik,” katanya.Rudi memang menilai sektor pariwisata Indonesia 2014 akan lebih vibrant, namun juga penuh pertaruhan. Ini adalah tahun di mana anggota legislatif akan dipilih pada 9 April, sementara presiden dan wakil presiden 9 Juli dilanjutkan dengan pelantikan.
Menurut dia, Indonesia tentunya akan sangat sibuk di sepanjang tahun ini, sekaligus menjadi negara yang penting dikunjungi wisatawan maupun para pengamat dan pecinta demokrasi. Pasalnya, sejarah dan perkembangan demokrasi Indonesia banyak dinilai sangat menarik bagi masyarakat dunia.
Namun, hal yang perlu ditekankan dalam pelaksanaan pemilihan umum di negara manapun di dunia, kata Rudiana, adalah faktor keamanan domestik dan stabilitas politik. Ini menjadi sangat penting dan harus dijaga sangat hati-hati mengingat suasana politik cenderung memanas. ”Menjaga keamanan dan stabilitas politik, terutama di saat pemilu, tentu menjadi tugas semua orang. Diperlukan sinergi yang lebih erat di kalangan pemerintah, swasta, dan masyarakat,” katanya. Komitmen menjaga keamanan bersama, sama artinya dengan mendukung sektor pariwisata semakin maju. Rudiana menambahkan, industri pariwisata Tanah Air sangat rentan terhadap isu bahkan pernah mengalami hal yang lebih buruk terkait kampanye atau propaganda isu negatif menyangkut keamanan, pasca-bom, hingga penyebaran penyakit SARS. “Propaganda itu justru yang membuat kita sangat terpukul ketika itu karena tidak ada orang yang mau berwisata ke Indonesia,” katanya.
Alih-alih khawatir terhadap pelaksanaan Pemilu, menurut Rudi, hal terpenting yang perlu dipikirkan saat ini adalah pengembangan destinasi wisata baru yang perlu terus digiatkan di berbagai daerah, dengan meningkatkan daya tarik, aksesibilitas, infrastruktur, dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Di samping itu strategi pemasaran dengan membangun branding pada setiap destinasi wisata baru harus mulai dilakukan guna meningkatkan kunjungan wisatawan.Meskipun tahun ini adalah tahun Pemilu, namun Pemerintah tidak akan mengoreksi target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Target akan tetap berkisar 9,2 juta hingga 9,4 juta orang sampai tutup tahun ini.Jalan1
Potensi pariwisata di Tanah Air bahkan diperkirakan semakin cerah mengingat jumlah penduduk dunia yang bepergian terus meningkat dari tahun ke tahun, baik dari satu tempat ke tempat lain di negara yang sama, maupun antar negara. Baik untuk tujuan bisnis atau wisata, maupun gabungan keduanya.
Perkiraan organisasi pariwisata dunia, World Tourism Organization (WTO), setiap tahun sepanjang 2010–2020 tingkat ketibaan turis dunia naik rata-rata 3,8%. Catatan WTO, tahun 2011 kedatangan turis internasional berjumlah 996 juta, sementara tahun 2012 lebih 1,035 miliar. Asia-Pasifik menjadi kawasan yang mengalami pertumbuhan terbesar, yaitu 6,5%. Sementara Asia Tenggara lebih tinggi, yaitu 8,7%.
Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia perlu lebih jeli melihat dan menangkap peluang pasar wisata dunia yang positif itu. Daya saing pariwisata Indonesia pun terus terdongkrak naik. Pada 2009, daya saing wisata Indonesia berada pada level 81 dunia namun pada 2011 merangkak menjadi 74. Meski, Singapura berada jauh di atas, yakni pada peringkat 16, Malaysia 32, dan Thailand 42.
Terlebih jika suhu politik di Tanah Air kian kondusif, sektor pariwisata bakal menjadi industri yang sangat prospektif. “Jadi kenapa harus takut,” demikian Rudiana.(Sofia Minarni).

Share This: